Teduhnya Keberagaman di Griya Kongco Dwipayana

SABTU, 7 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Bobby Andalan / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Bobby AndalanBALI—Keragaman bukan barang baru bagi warga masyarakat di Pulau Bali. Sejak dulu, jalinan indah antar-umat beragama terajut apik meski mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu. Saking hangatnya, tak sedikit umat beragama menjalankan aktivitas ritualnya berdampingan.
Pemimpin Griya Kongco Dwipayana, Ida Bagus Made Adnyana

Seperti yang nampak di Griya Kongco Dwipayana yang terletak di kawasan Kuta. Klenteng yang terletak di tengah rerimbunan hutan mangrove itu juga dikenal dengan sebutan Vihara Nusantara. Disebut demikian, karena jalinan persahabatan antara Hindu, Budhha, Islam dan Kristen bukan barang ‘haram’ di sini. Di kongco ini juga umat Hindu dan Budhha duduk berdampingan menggelar persembahyangan.

Pemimpin Griya Kongco Dwipayana, Ida Bagus Made Adnyana menjelaskan, di kongco ini, umat Hindu dan Buddha sama-sama bersembahyang di dalam kelenteng. Tokoh yang biasa dipanggil Atu Mangku itu menuturkan, hampir setiap hari kedua umat menggelar persembahyangan. “Jika umat Hindu, dia akan bersembahyang di tempat umat Hindu dulu, baru ke sini (ke tempat persembahyangan umat Budhha). Dan, begitu juga sebaliknya,” papar Atu Mangku saat ditemui Cendana News di sela aktivitasnya di Griya Kongco Dwipayana.

Klenteng Nusantara yang dipimpinnya merupakan perwujudan dari simbol Siwa dan Budhha. Itu sebabnya umat Buddha dan Hindu Bali bisa duduk berdampingan secara khidmat menggelar persembahyangan.

“Umat Hindu dan Buddha, dia tidak merasakan suatu perbedaan. Semua datang sembahyang ke sini,” jelas Atu Mangku. Griya Kongco Dwipayana, kata Atu Mangku, dibangun sejak zaman Dinasti Ching. Namun, berkat bisikan gaib yang diterima Atu Mangku, klenteng ini kemudian kembali dibuat, dibangun dan digunakan sebagai tempat peribadatan.

“Karena baru dibuatkan fasilitas, barulah otomatis bangkit pada tahun 1987. Mulai proses pembangunannya dan pada tahun 1999 selesai,” katanya.

Saat ini, kongco ini tengah melakukan persiapan menyambut hari raya Imlek. “Persiapan awal kami melakukan sembahyang antar-jawa (menghadap ke langit), setelah itu dilakukan pembersihan,” jelas dia.

Sementara itu, tim kesenian Barongsai di kongco ini sudah mulai banyak pementasan. “Hari ini sudah pentas, ada di lima lokasi. Pemain barongsainya ada dari Hindu, Buddha, Islam dan Kristiani,” ujar Atu Mangku.

Atu Mangku berharap toleransi antarumat beragama yang terjalin apik di klenteng yang dipimpinnya dapat menjadi contoh bagi semua pihak di Negeri ini. “Sangat indah kalau kita saling menghormati. Semoga semua pihak bisa menirunya,” harap dia.

Kini, klenteng yang juga dikenal dengan sebutan Tanah Kilap (tanah bertuah) itu tengah bersolek menyambut Tahun Baru Imlek pada 8 Februari depan.

Lihat juga...