Permintaan Kopi Bubuk Kalianda Meningkat Menggembirakan Pedagang di Pasar Tradisional

JUMAT, 5 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Henk Widi / Editor : Gani Khair / Sumber foto: Henk Widi 

LAMPUNG—Munculnya berbagai cafe (warung modern) serta warung kopi di wilayah Kalianda Lampung Selatan dan sekitarnya mengakibatkan permintaan akan kopi bubuk mengalami peningkatan. Beberapa penjual kopi bubuk di pasar tradisional Kalianda mengaku penjualan kopi bubuk mengalami peningkatan baik pembelian partai besar maupun kecil. Roni (34) salah satu penjual kopi di pasar tradisional Kalianda mengaku penjualan kopi cukup menguntungkan meskipun harga jual kopi relatif stabil. Faktor cuaca serta tren masyarakat menurut Roni menjadi pemicu penjualan kopi meningkat.


Ia bahkan mengungkapkan untuk penjualan kopi bubuk ia sudah memiliki langganan dari beberapa warung terutama warung yang menjual kopi dalam bentuk seduhan. Sementara itu beberapa warung atau cafe minuman membeli kopi dalam bentuk biji yang diolah sendiri menggunakan alat pengolah kopi.
“Saat ini tren minum kopi sebagai sarana untuk bersosialisasi terutama di cafe cafe serta menjamurnya tempat nongkrong bagi remaja mengakibatkan permintaan akan kopi meningkat,”ungkap Roni kepada Cendana News, Jumat (5/2/2016).
Ia mengaku selain digunakan untuk dikonsumsi, dijual, beberapa pembeli bahkan menjadikan kopi sebagai oleh oleh yang sudah dikemas dalam bentuk bubuk. Pembeli dari masyarakat sekitar Kalianda lebih menyukai kopi bubuk yang selesai ditumbuk menggunakan mesin karena bisa melihat proses pembuatan dengan tanpa campuran serta masih baru dibandingkan yang dijual di warung. 
Ia mengaku volume penjualan kopi miliknya bahkan naik menjadi sekitar 20 persen dibandingkan tahun lalu. Ia mencatat penjualan kopi yang sudah ditekuni olehnya sejak tahun 2000 mampu terjual rata rata sekitar 30 kilogram dalam sepekan. Meski permintaan meningkat ia tetap menjual kopi bubuk dengan harga di kisaran Rp45ribu-Rp70ribu perkilogram.
Keputusan untuk tak menaikkan harga kopi bubuk yang ia jual diakuinya sebagai strategi agar pembeli tak berpaling ke penjual kopi lainnya. Ia mengaku saat ini pasokan kopi segar diperolehnya dari sekitar pesisir Kalianda Lampung Selatan yang berada di lereng Gunung Rajabasa dan menjadi tempat penghasil kopi.
“Saat ini belum musim kopi tapi saya memiliki stok meski sedikit sisanya membeli dari agen untuk saya giling dan jika susah memperoleh kopi di sini saya membeli dari Tanggamus dan Lampung Barat,”ungkap Roni.
Salah satu penjual kopi bubuk lainnya yang menerapakna konsep berbeda dalam penjualan adalah Zainal. Salah satu warga Desa Rawi ini mengaku mengolah sendiri kopi bubuk yang akan dijualnya. Biji kopi yang disangrai ujar Zainal sebanyak 5 kilogram sekali sangrai, lalu setelah disangrai proses selanjutnya adalh proses penampian untuk membersihkan kotoran selama proses sangrai. Setelah dibersihkan biji kopi akan digiling dengan mesin giling.
“Setelah digiling bubuk kopi yang sudah halus tetap akan diayak dengan ayakan khusus agar menghasilkan bubuk kopi halus yang akan dikemas ke dalam kemasan plastik,” ungkap Zainal.
Proses pembuatan kopi oleh oleh Lampung tersebut menurutnya dibuat tanpa campuran bahan lain sedikitpun. Sebab ia mengaku jika saat ini bisa jadi kopi yang dijual di pasaran dibuat dengan campuran beras, jagung atau nasi aking untuk menambah kapasitas kopi yang dibuat. Namun komposisi seperti itu tak dilakukan di Dhrive Thru Kopi Lampung yang dikelola Zainal.
“Saya jamin murni kopi Lampung dan tanpa bahan pengawet, campuran apapun, para pembeli bahkan bisa melihat proses pembuatannya langsung di sini,” ujar Zainal meyakinkan.
Cara tersebut tegas Zainal merupakan cara sang pemilik Syamsul Hidayat untuk lebih memperkenalkan kopi Lampung sebab budaya minum kopi saat ini seperti sudah menjadi tren. Minum kopi sambil berkumpul dengan kolega, rekan bisnis menjadi semacam budaya yang menjadi peluang bagi para produsen kopi terutama kopi Lampung yang sudah dikenal.
Selama beberapa tahun berdiri, Zainal mengaku sudah banyak pengendara yang mampir ke kedai kopi yang diberi nama “Dhrive Thru Ngopi Gratis” tersebut selain untuk menikmati kopi juga bisa menikmati buah durian jika sedang musim buah durian. Ia berharap kopi Lampung semakin bisa dikenal dengan cara penjualan dan konsep yang dibuat sang pemilik serta seiring dengan makin gemarnya masyarakat mengkonsumsi minuman kopi.
Kopi yang sudah dikemas tersebut dijual dengan harga beragam dari mulai satu bungkus seharga Rp 12.500,- hingga mencapai 25 bungkus yang dijual dengan harga Rp 312.500,-. Kemasan kopi dengan label Dhrive Thru Oleh Oleh Kopi Lampung tersebut dikemas masing masing dalam kemasan 150gram.
Lihat juga...