SENIN, 15 JANUARI 2016
Penulis: Bobby Andalan / Editor: Sari Puspita Ayu / Foto: Bobby Andalan
CATATAN JURNALIS—Kisah mengharukan pengidap bisu dan tuli ada di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Di sini, kita bisa belajar bagaimana hebatnya perjuangan mereka menjalani hidup. Hebatnya, mereka pun berinteraksi dengan dunia internasional melalui saluran internet.
![]() |
| Desa Bengkala |
Sekilas, tak ada yang berbeda di Desa Bengkala. Aktivitas warga di sini berlangsung normal. Namun, jika diperhatikan seksama, komunikasi yang dilakukan menggunakan bahasa isyarat. Ya, beberapa warga di Desa Bengkala mengidap bisu dan tuli. Kepala Dusun Bengkala, Ketut Wenten menuturkan, ada duabelas Kepala Keluarga (KK) yang mengidap gangguan bisu dan tuli. “Jumlah jiwanya ada 42 jiwa,” kata Wenten saat ditemui Cendana News di kediamannya, Desa Bengkala, Buleleng.
Wenten mengaku keberadaan warganya yang mengidap bisu dan tuli sudah sejak dahulu kala. Kemudian, penyakit yang oleh warga Bali disebut ‘kolok’ itu terjadi secara turun temurun.
Menurutnya, ada banyak versi dari tetua desa mengenai awal mula penyakit tersebut. Namun, untuk kebenarannya kini tengah dilakukan penelitian. Ia menyatakan tentunya penyakit karena faktor genetik (keturunan). Tetapi bagaimana mula penyakit ini berkembang dan turun temurun saat ini sedang dalam penelitian. Masih dalam tahap pengumpulan data agar didapat referensi dari sumber yang benar.
Banyak peneliti yang melakukan penelitian. Namun, belum dapat disimpulkan bagaimana bisa sejak dahulu kala hingga turun temurun saat ini penyakit itu masih menjangkiti masyarakat Bengkala.
Ia menceritakan, tak melulu bisu tuli yang diidap warganya berdasarkan faktor genetika. Sebab, ada warganya pasangan suami istri normal justru melahirkan anak pengidap bisu tuli. Sebaliknya, pasangan suami istri bisu tuli justru melahirkan anak yang normal.
Pada sisi lain, di Desa Bengkala kini telah dibangun sekolah khusus untuk pengidap bisu dan tuli. Kurikulum yang digunakan berbeda dengan kurikulum sekolah luar biasa (SLB) dan sekolah pada umumnya. “Ada sekolah khusus di sini, sekolah inklusi. Komunikasi yang digunakan antara guru dan murid ya, bahasa kolok. Tidak ada batasan usia. Mereka yang mau belajar dipersilakan,” paparnya.
Untuk urusan administrasi di banjar, pengidap bisu tuli tak dibebankan iuran. Misalnya ada pembangunan pura, mereka dibebaskan dari iuran, Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, Desa Bengkala memiliki Kawasan Ekonomi Masyarakat (KEM). KEM dibentuk berkat kerja sama PT Pertamina dan seluruh perguruan tinggi yang ada di Bali.
Di sana, mereka diajari membuat karya kerajinan. Menenun, beternak babi, sapi, menjadi buruh harian dan berkesenian adalah pekerjaan sehari-hari yang biasa mereka geluti. Dari sanalah perputaran roda ekonomi mereka,
Wenten melanjutkan, pengidap bisu tuli kini juga telah merambah alat teknologi. Mereka diajari menggunakan laptop, internet dan hal lainnya. Kini, kolok di Desa Bengkala lebih maju dari pengidap penyakit serupa di daerah lainnya. Selain bisa membuat kerajinan, berkesenian dan menghasilkan uang sendiri, mereka juga memiliki pergaulan internasional melalui saluran internet.
Tak sedikit mereka yang berbincang di dunia maya dengan rekannya yang berada di luar negeri. Kisah ini tentu saja menginspirasi kita untuk terus bangkit.