SENIN, 29 FEBRUARI 2016
Jurnalis: M. Fahrul / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: M. Fahrul
SUMENEP — Selain bersaing dengan kapal besar penangkap ikan, nelayan tradisional yang hanya bermodalkan peralatan minim juga harus berhadapan dengan musim. Saat musim penceklik, hasil tangkapan menggunakan alat rumpun yang telah dibuat sebelumnya tidak mencukupi biaya operasional, bahkan tidak mendapatkan hasil sama sekali.
| Nelayan di Sumenep |
Nelayan di Desa Semaan, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sering merugi, pasalnya dari hasil tangkapan ikan tidak dapat menutupi modal yang harus dikeluarkan, sebab dalam setiap kali melaut ia membutuhkan modal sebesar kurang lebih Rp. 50000 untuk biaya makan, maka apabila sampai lima kali tidak memperoleh hasil tangkapan biaya yang dikeluarkan mencapai Rp. 250.000.
“Pada musim kali ini saya sudah hampir sepuluh kali tidak pernah mendapat ikan, ya terpaksa uang yang sudah ditabung dari sebelumnya digunakan untuk kebutuhan biaya melaut,” jelas Aut Dani (30) nelayan asal Desa Semaan, Kecamatan Dasuk, Minggu (28/2/2016).
Disebutkan, bermata pencaharian sebagai nelayan merupakan jalan satu-satunya yang mereka bisa lakukan, sebab untuk beralih ke pekerjaan lain tidak memiliki keterampilan, sehingga sangat sulit mencari pekerjaan alternatif dikala musim paceklik seperti ini. Sementara hasil tangkapan ikan dari aktifitas melaut sudah sangat tidak memungkinkan.
“Ya sebenarnya ingin mencari pekerjaan lain di daratan, tapi kan tidak mudah, apalagi tidak memiliki keterampilan, jadi mau tidak mau pekerjaan menjadi nelayan harus ditekuni dan dijalani dengan sabar,” tuturnya.
Menurutnya, ketika pada musim paceklik seperti kali ini para nelayan banyak yang mengeluh dengan hasil tangkapan ikan yang sangat sedikit, tetapi mereka tetap memaksakan diri untuk melakukan aktifitas melaut, karena menjadi nelayan adalah mata pencaharian yang telah digeluti bertahun-tahun menjadi harapan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“Bahkan banyak nelayan berutang dulu untuk bekal melaut, nanti apabila sudah mendapatkan hasil tangkapan baru melunasinya, kadang uang diperoleh dari hasil melaut hanya cukup bayar utang untuk bekal itu saja,” paparnya.
Di daerah ini pada umumnya para nelayan tidak memiliki perahu sendiri, mereka bekerja kepada pemilik perahu, sehingga apabila nanti hasil tangkapan ikan banyak, biaya operasional selama melaut akan dipotong. Tak jarang dari hasil tangkapan ikan hanya menutupi biaya operasional melaut di waktu musim paceklik.
“Kalau biaya operasional itu ditalangi juragan, nanti kalau kita dapat ikan kemudian dijual langsung dicabut biaya operasional, sisanya dibagi dua antara juragan dengan nelayan yang bekerja,” pungkasnya.