Jurnalis: Zulfikar Husein / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Zulfikar Husein

Hingga berakhirnya masa Kerajaan Samudera Pasai, banyak peninggalan kerajaan termasuk peninggalan Sultan Malikussaleh yang mendirikan kerajaan tersebut. Terdapat ratusan bahkan ribuan peninggalan ditemukan. Mulai dari kepingan reruntuhan bangunan kerajaan, uang dinar yang digunakan pada masa tersebut, hingga benda-benda bersejarah lainnya. Termasuk salah satunya adalah Lonceng Cakra Donya, sebuah hadiah dari Kerajaan Tiongkok pada abad 15 silam.
Karena tidak memiliki museum dan dilanda konflik, semua benda bersejarah itu dibawa di Ibu Kota Provinsi Aceh. Semua peninggalan, kecuali makam sang raja menjadi koleksi benda bersejarah di museum Aceh.

Paska konflik berakhir dan terjadi perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dan organisasi separatis Gerakan Aceh Merdeka terjadi pada 15 Agustus 2005. Pemerintah Aceh mulai membangun Museum Samudera Pasai atau disebut Museum Malikussaleh.
Museum ini didirikan dekat dengan makam Sang Sultan di Desa Beringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Namun hingga sekarang, bangunan yang sudah dibangun sejak 2013 tersebut belum juga usai apalagi difungsikan.
“Sudah dari 2013 dimulai pembangunan, tapi hingga kini belum selesai. Kalau museumnya kayaknya sudah siap, mungkin karena menaranya yang belum selesai makanya belum dibuka,” ujar Nizar Safriadi, warga sekitar kepada Cendana News, Kamis (11/2/2016).
Ia menambahkan, meski belum diaktifkan, banyak warga terutama anak muda dari desa lain yang datang berkunjung ke museum tersebut. Katanya, pengunjung tersebut datang untuk berfoto, mengabadikan bangunan yang bergaya Timur Tengah tersebut.
Nantinya, museum tersebut akan diisi oleh berbagai benda bersejarah peninggalan Sultan Malikussaleh dan Kerajaan Samuderai Pasai. Benda-benda yang sebelumnya disimpan di sejuamlah musem lain akan dibawa ke museum tersebut.
“Nanti semua benda miliki Malikussaleh dan Samudera Pase akan dibawa pulang dan ditaruh di museum itu. Semuanya seperti yang ada di Banda Aceh atau juga mungkin di negara lain seperti di Belanda, termasuk Lonceng Cakra Donya,” ujar Ahmad Yus, penjaga makam Malikussaleh.

Hingga saat ini, menurut Ahmad Yus museum masih dalam proses pengerjaan. Bangunan menara yang berada di sebelah utara museum masih terlihat dalam pengerjaan. “Itu kan masih dibuat menara Malikussaleh, kalau sudah siap nanti baru diaktifkan (difungsikan),” katanya.
Selain menjadi tempat simpan benda-benda bersejarah milik Samudera Pasai, warga berharap museum tersebut bisa menjadi tempat belajar bagi generasi bangsa agar tahu banyak tentang sejarah, terutama sejarah tentang Islam di nusantara.