Bagian Pertama
MINGGU, 14 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto : Ebed De Rosary
CATATAN JURNALIS—Garam Nangalekong mudah dijumpai beredar di pasar–pasar tradisional di Kabupaten Sikka. Garam yang biasa dijual Papalele (pedagang) di karung berukuran 50 kilogram atau di-ecer memakai takaran gelas ini selalu habis terjual. Garam halus yang dihasilkan terlihat berwarna putih bersih. Siapa sangka, bermodalkan peralatan sederhana, garam Nangalekong kualitasnya bisa bersaing. Jika dikelola dan ditangani dengan lebih baik, kualitas dan kwantitas garam Nangalekong pasti jauh lebih baik.
![]() |
| Pondok sederhana tempat masak garam di kampong Nangalekong yang terbuat dari daun kelapa. |
Memasuki Kampung Nangalekong saat siang hari, hampir semua perempuan pemasak garam hampir menjelang usai beraktifitas. Dari 14 pondok tempat memasak garam yang tersisa, hanya 8 pondok saja yang masih rutin melakukan aktifitas menghasilkan garam halus. Proses memasak garam masih dilakukan para petani garam secara tradisional.
Saat dijumpai Cendana News di Nangalekong, Sabtu (13/2/2016), Veronika Nika (77) seorang perempuan yang masih setia memasak garam menyebutkan, proses memasak garam yang sekarang dilakukan tetap sama dengan proses yang dilakukan sejak kakek nenek mereka. Memasak garam secara tradisional ini kata mama Vero sapaan akrab perempuan renta ini, diwariskan secara turun temurun dan pemakaian alatnya pun tetap sama, tanpa ada perubahan.
Disaksikan Cendana News, pondok tempat memasak garam yang ada di Nangalekong merupakan bangunan sederhana berdinding dan beratap daun kelapa. Banyak pondok yang sudah berusia tua. Hal ini terlihat dari dinding pondok yang sudah berlubang di beberapa bagiannya. Lantai pondok semuanya masih tanah.
Tidak Panas
Linda (24) dan ibunya mama Pito (54) menuturkan, pondok memasak garam dibuat sederhana memakai daun kelapa. Bangunan tertutup ini tidak beratapkan seng sebab menurut mama Pito, bila memakai seng maka suhu di dalam pondok akan sangat panas. Apalagi pondok selalu dipenuhi asap yang dihasilkan dari pembakaran di tungku yang menggunakan tempurung kelapa. Seng akan cepat rusak sebab debu asap akan menempel di seng dan menyebabkan seng berwarna kehitaman.
![]() |
| Oha tempat menyaring air garam yang akan dimasak menjadi garam. |
“Kami sejak dahulu pakai daun kelapa untuk atap dan dinding pondok. Selain lebih murah dan gampang dicari, pakai daun kelapa juga lebih awet dan suhu di dalam pondok juga tidak terlalu panas “ ujar mama Pito diamini Linda anaknya.
Dari beberapa pondok memasak garam yang dimasuki Cendana News, terlihat beberapa pondok yang dindingnya sudah mulai berlubang di sana–sini. Ada juga dinding yang masih terlihat baru dan tertutup rapat. Sebuah pondok terlihat memakai dinding dari Halar (bambu belah) dimana dinding bagian depannya beberapa halar sudah terlepas. Pintu pondok pun hanya memakai potongam drum bekas dan hanya disandarkan saja tanpa diikat.
Setiap lima tahun sekali, dinding dan atap diganti dengan yang baru. Daun kelapa tersebut sambungnya dibeli di warga sekitar yang memilik pohon kelapa. Ranting daun kelapa ini ujar mama Pito dikeringkan minimal seminggu, lalu siap dipakai. Tali untuk mengikat daun kelapa dipakai daun pohon Tuak ( Enau ). Dinding juga sebut mama pito bisa menggunakan halar namun harganya lebih mahal. Sebuah halar dengan panjang 2,5 meter dan lebar 25 sentimeter dibeli seharga 5 ribu rupiah.
“Tiang kayu kalau sudah keropos kami ganti dengan yang baru tapi itupun biasanya paling lama sepuluh tahun sekali kalau pakai kayu yang bagus. Ada juga yang pakai bambu dan biasanya mereka ganti bersamaan dengan daun kelapa, jadi sekalian bangun baru, “ungkap mama Pito.
![]() |
| Garam yang sudah dimasak ditiriskan di wadah berbentuk kerucut yang terbuat dari daun pohon Tuak ( Enau ). |
Disaksikan Cendana News,rata–rata pondok tempat memasak garam berukuran panjang 5 hingga 7 meter dengan lebar 3 sampai 4 meter.Bangunan dua air yang tertutup rapat ini memiliki tinggi 4 sampai 5 meter.Pondok ini juga berfungsi meletakan tanah garam,kulit kelapa,tungku dan wadah berbentuk kerucut untuk menyaring garam yang sudah dimasak.
Ambil Tanah
Untuk memasak garam halus,warga Nangalekong biasa mengambil tanah di areal tambak garam yang sementara dibangun berjarak ± 100 meter sebelah utara perkampungan.Tanah garam tersebut diambil dan ditumpuk di samping Oha (tempat meniriskan air garam).
Oha merupakan bangunan segi empat setinggi ± 1 meter terbuat dari kayu. Lapisan Oha terdiri dari batu karang,pasir putih, abu dapur serta ditutupi karung, ilalang dan tanah di bagian atasnya. Bagian bawahnya dipasang karung untuk menyaring air garam.Di dasar Oha, dibuat sebuah tempat penampung air garam dari kayu sepanjang ± 50 sentimetr dan lebar ± 30 sentimeter dengan kedalaman ± 25 sentimeter.
“Tanah garam ditumpuk di bagian atasnya lalu disiram pakai air laut. Air yang menetes tersebut ditampung di bawahnya dan diambil pakai gayung untuk ditaruh di ember atau jerigen. Setelah dua kali disaring air garam tersebut dimasukan ke dalam kuali dan siap dimasak. Kalau tidak taruh abu di Oha garamnya akan berwarna hitam. Abu tersebut harus diganti setiap tiga hari, “ jelas mama Vero.
![]() |
| Mahe,altar tempat pemujaan atau tempat meletakan persembahan bagi leluhur saat digelar ritual adat Hogor Hini setahun sekali. |
Disaksikan Cendana News, air garam yang sudah disaring ditampung di ember dan jeriken dan diletakan di dalam pondok. Bila hendak dimasak, air tersebut dimasukan ke dalam kuali atau wadah memasak garam yang terbuat dari drum bekas. Wadah sepanjang ± 1, 5 meter dengan lebar ± 50 sentimeter dan tinggi 25 sentimeter ini semuanya terbuat dari drum bekas yang dipipihkan. Beberapa drum terlihat berwarna kehitaman dan berkarat di bagian pinggirnya.
Garam yang sudah dimasak selanjutnya disaring di tempat penyaringan berbentuk kerucut yang diletakan disamping tungku dan biasanya berada di pojok pintu keluar pondok. Wadah yang dianyam dari daun pohon Tuak (Enau) ini,dipasang di atas sebuh tungku kayu dan diikat. Dibawahnya diletakan ember untuk menampung tirisan air garam.Setelah dingin, garam halus tersebut dimasukan ke dalam karung plastik dan siap dipasarkan.
Selain memakai tanah, memasak garam halus juga dilakukan dengan memakai garam kasar.Proses pengolahnnya pun mirip. Garam kasar dimasukan ke dalam Oha dan disiram dengan air laut. Air hasil penyaringan ini yang dimasak menjadi garam halus.
“Tanah bercampur air laut yang diambil dari pantai dibiarkan kering dahulu baru ditaruh disaring di Oha.Kalau buat garam halus selain pakai tanah, pakai garam kasar juga bisa.Tanah tersebut satu kali pakai langsung dibuang.Kalau musim hujan biasanya kami pakai garam kasar.Ada juga yang masih pakai tanah tapi tanah tersebut harus ditaruh di pondok biar tidak kena hujan.Tanah bekas masak garam biasanya dipakai buat pondasi atau lantai rumah karena lebih padat dan keras “papar mama Vero.
Bisa Diganti
Ketua RT 013 RW 04 Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok kabupaten Sikka, Petrus Blasius (36) kepada Cendana News yang menemuinya di hari yang sama mengatakan, jumlah pondok tempat memasak garam terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Dari 8 pondok yang tersisa pun,masih ada yang tidak saban hari memasak garam. Jika kulit kelapa tersedia maka memasak garam pasti dilakukan.
Hal ini juga dibenarkan Linda. Disebutkan ibu satu anak ini, dirinya bersama ibunya setiap hari selalu memasak garam. Mereka hanya libur setiap hari Minggu dan setelah digelar Upacara Hogor Hini tanggal 23 Desember. Selepas tahun baru, mereka kembali memasak garam lagi karena stok garam di pondok pasti sudah habis terjual.
Piter yang lahir dari keluarga petani garam ini menambahkan, proses memasak garam tetap dilakukan secara tradisional. Dirinya pernah mengusulkan agar peralatan memasak garam diganti dengan yang lebih modern dan bersih namun para petani garam mengeluhkan ketiadaan dana untuk membelinya. Namun demikian lanjut Piter, pada dasarnya pemasak garam tersebut bersedia menyesuaikan diri bila diberi pelatihan dan bantuan modal untuk pembelian sarananya.
“Saya sempat konsultasi dengan tetua disini,jaman ini kan berganti,mereka masih belum memahami. Nanti kalau peralatan diganti harus ada pembinaan atau pelatihan terlebih dahulu sehingga mereka memahami dan kualitasnya juga harus baik. Tapi kalau mereka disuruh beli alat mereka tentu tidak mampu, “sebutnya.
Kalau pergantian sarana tidak masalah. Biasanya kata Piter,akan dibuat ritual adat terlenih dahulu dan memohon ijin para leluhur. Para petani dan pemasak garam bersedia berubah apalagi ini demi meningkatkan penghasilan mereka. Awalnya mereka sempat kuatir dengan kualitas garam yang dihasilkan apakah bisa lebih baik. Tapi menurut Piter, bila dengan adanya pergantian sarana waktu memasak garam lebih pendek, tentu itu juga akan menguntungkan mereka.


