Madu Hutan “Istana Lebah” Balikpapan Tembus Pasar Modern

SABTU, 06 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Ferry Cahyanti/ Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN — Semangatnya mencari madu di hutan membuat Abdurrahman Muchtar menjadi pengusaha dengan omzet Rp50 juta perbulan. Meski sering disengat lebah, namun tidak mengurungkan niatnya.
Abdurrahman Muchtar

“Awalnya sering disengat lebah berulang kali dan muka bengkak saat menyusuri hutan. Namun saya harus semangat meski punya penyakit rematik tetap dijalani,” tutur Abdurrahman saat dijumpai dirumahnya di kawasan Perusda kota Balikpapan.

Ia mengatakan, usaha madu ini mulai digelutinya sejak tahun 1998 yang diawali dengan belajar mengetahui jenis tawon penghasil madu bersama polisi hutan. 
“Saat belajar jenis jenis lebah saya masih belajar dipesantren di kilometer 19 kecamatan Balikpapan utara. Dari situ saya terus belajar jenis ldan bagaimana caranya menghasilkan madu,” ulasnya.
Saat itu pria yang biasa disapa Rahman ini juga mengidap penyakit rematik dimana persendiannya terasa nyeri dirasakannya. Dan berdasarkan informasi kerabat bisa sembuh dengan minum madu hutan. Akhirnya Rahman berupaya menyusuri hutan untuk dikonsumsi sendiri yang dapat menyebutkan penyakitnya.
Tidak hanya sampai disitu, Rahman terus menyusuri hutan dan naik pohon dengan ketinggian 60 meter untuk memperoleh madu hutan yang akan dijual ke masyarakat. Perlahan kemudian, Iapun mulai melakukan ternak lebah untuk memenuhi permintaan karena khasiat dan permintaan semakin besar.
“Madu yang saya peroleh kemudian dijual ke teman-teman di pesantren dengan dikemas botol minuman. Masih seadanya belum ada modal. Kemudian ikut dimana ada pameran namun diluar stand. Pernah sampai diusir polisi pamong praja, tapi kemudian saya dipanggil sama orang yang mengadakan pameran dan boleh masuk memasarkan produknya,” seru pria kelahiran 1976.
Dari situ, sedikit demi sedikit mendapat respon baik dan modal bertambah. Rahman mengatakan omzet yang diperoleh dalam sebulan sekitar Rp350 ribu dan terus bertambah seiring dengan jumlah permintaan terus meningkat.
Kegigihannya setia mempromosikan produk madu hutannya yang diberi label Istana Lebah membuatnya kebanjiran permintaan sehingga peternakan lebahnya yang dimilikinya tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi yang cukup besar.
“Saya kembali menyusuri hutan dan mengajarkan ilmu yang dimiliki tentang lebah diajarkan ke petani yang ada dikilometer 19-23 kawasan Balikpapan Utara. Akhirnya saya tidak beternak lebah lagi untuk menghasilkan madu. Namun mencari sarang lebah ke hutan untuk memperoleh madu hutan,” jabar Rahman.
Madu hutan yang dihasilkannya ternyata menjadikan usahanya maju pesat dan permintaan terus bertambah setiap bulannya. Bahkan madu hutan yang diberi nama Istana Lebah ini mampu menembus pasar ke luar daerah hingga Supermarket besar.
Kini omzet yang diperolehnya dalam satu bulan bisa mencapai lebih dari Rp50 juta dengan enam petani yang membantunya untuk mencari lebah hutan. Dengan produksi 7 ton madu pertahunnya.
“Sekarang saya sudah tidak ke hutan dan naik pohon lagi setelah kecelakaan menimpanya pada 2004 silam. Jadi sekarang saya produksi dirumah setelah lebah diperoleh oleh petaninya. Dan memasukkan madu ke dalam botol kemasan saya lakukan sendiri,” ungkapnya.

Proses pengemasan

Rahman berharap usaha madu hutan yang diberi nama istana lebah ini dapat menembus pasar internasional dan usahanya dapat bertahan sengan khasiat yang dimiliki madu hutan tersebut.
Madu hutan yang dijual ini tersedia dalam empat ukuran untuk kemasan botol kaca dan dua ukuran untuk kemasan jerigen. Adapun harga yang diberikan juga bervariasi dari Rp35 hingga 200 ribu rupiah. 
Lihat juga...