SABTU, 06 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Turmuzi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Turmuzi
MATARAM — Memasuki musim penghujan, Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat terjadi peningkatan dari data sebelumnya pada kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kota.
![]() |
| Sejumlah perawat nampak berjalan di halaman rumah sakit umum provinsi (RSUP) NTB Dasan Cermen Kota Mataram |
Berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang tersebar di Kabupaten Kota mengalami peningkatan dari data sebelumnya yang dirilis Dikes Provinsi NTB yaitu sebanyak 208 kasus.
“Ada peningkatan jumlah kasus DBD dari minggu sebelumnya yaitu sebanyak 334 kasus, di mana Kabupaten Lombok Timur merupakan tertinggi ditemukan kasus DBD, yaitu 82 kasus” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Eka Junaedi, Sabtu (6/1/2016).
Ditambahkan, Kabupaten selanjutnya yang jumlah kasus DBD nya tinggi adalah Kabupaten Bima, 80 kasus, dan Kota Mataram sebanyak 76 kasus. Semua data tersebut merupakan hasil laporan yang diterima dari semua Dikes Kabupaten Kota yang ada di NTB.
Eka mengaku, pihaknya terus melakukan kordinasi dengan Dikes Kabupaten Kota dan meminta kepada semua Dikes untuk tetap waspada, mengingat bulan Januari sampai dengan maret merupakan puncak musim hujan yang rawan penyebaran DBD.
“Tidak ada cara paling ampuh untuk mencegah penyebaran penyakit menular DBD selain dengan menerapkan pola hidup sehat dan gerakan 3M, yaitu menguras genangan air yang bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, menutup tempat pembuangan sampah dan menguburkan sampah yang ada,” terangnya
Lebih lanjut, Eka mengaku sampai saat ini dari 334 kasus DBD yang ada, belum ada sampai yang meninggal dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit Kabupaten Kota maupun puskesmas yang ada.
Sebelumnya Dikes Provinsi NTB merilis, kasus DBD di NTB mencapai 208 kasus Kabupaten Lombok Timur merupakan kabupaten paling tinggi kasus DBDnya yaitu mencapai 60 kasus, kemudian disusul Kota Mataram sebanyak 53 kasus, dan Kabupaten Bima mencapai 51 kasus.
Sementara Kabupaten lain seperti Kabupaten Dompu 8 kasus, Kabupaten Sumbawa 18 kasus, Kabupaten Lombok Tengah enam kasus, Kabupaten Lombok Utara empat kasus, Kabupaten Lombok Barat tujuh kasus