SENIN, 22 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Samad Vanath Sallatalohy / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto: Samad Vanath Sallatalohy
AMBON — Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli Maluku bekerjasama dengan P4S Gerbang Mas Desa Hutumuri menggelar pelatihan keterampilan merakit alat tangkap ikan tradisional Bubu kepada 50 nelayan Desa Hutumuri Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon. Pelatihan ditujukan untuk mengurangi keterbatasan peralatan dan modal.
![]() |
| Pelatihan membuat Bubu, alat tangkap ikan trasdisional |
Ketua LSM Peduli Maluku, A. Mado mengatakan,keterbatasan modal yang dihadapi nelayan menyebabkan mereka tidak memiliki peralatan yang memadai. Menyikapi hal tersebut, perlu adanya keterampilan khusus dalam menciptakan peralatan dengan tujuan akhir meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Alat tangkap bubu ini hanya menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah didapat, sehingga tidak dibutuhkan modal yang besar,”sebutnya di Ambon, Senin (22/2/2016).
Hanya dengan modal ketekunan dan mau untuk kerja, warga dapat menggunakan ketrampilan yang ada untuk meningkatkaan perekonomian keluarga, apalagi alat tangkap bubu merupakan warisan turun temurun yang harus dilestarikan karena ramah lingkungan.
Tidak hanya itu, pihaknya juga menyalurkan bantuan bagi para tapol/napol RMS di beberapa tempat, diantaranya Desa Aboru, Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah dan Desa Hutumuri.
Ketua P4S Gerbang Mas, Max Rehatta Lanith mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat nelayan untuk membuat alat tangkap ikan sendiri, tanpa harus mengeluarkan modal yang besar.
Ketrampilan yang sudah diberikan ini diharapkan dapat diajarkan kepada nelayan lainnya, agar dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada secara maksimal.
Sementara itu, Penjabat Raja Desa Hutumuri yang diwakili kepala Urusan Pemerintahan Max Souhuwat memberikan apresiasi atas keterlibatan LSM Peduli Maluku yang telah seringkali membantu warga Hutumuri. Pelatihan cara pembuatan alat tangkap ikan bubu ini juga sekaligus melestarikan kearifan lokal masyarakat, untuk memanfaatkan sumber alam yang ada untuk memenuhi kebutuhannya.
Max Souhhuwat juga mengatakan, dari hasil survey yang dilakukan pemerintah, ternyata Desaa Hutumury merupakan desa termiskin di Kota Ambon. Label yang diberikan ini tentu saja menyedihkan, sehingga masyarakat bersama pemerintah desa harus bergandeng tangan untuk bangkit memberdayakan kekayaan alam yang ada untuk kemakmuran bersama.

Dia menjelaskan, hingga saat ini belum ada regulasi atau undang-undang yang mengatur tentang pengelolaan laut milik desa secara jelas, sehingga banyak nelayan dari daerah lain melakukan penangkapan dikawasan laut Desa Hutumuri. Mereka mengggunakan peralatan yang canggih, dan masyarakat hanya mampu menonton saja saat hasil lautnya diambil.
Max Souhuwat meminta agar masyarakat memberdayakan diri dan memaanfaatkan setiap bantuan pelatihan yang diiberikan oleh LSM Peduli maluku untuk meningkatkan perekonomiann keluarga.