Kepala Sekolah PLK Floressta Membantah Pungut Satu Juta Rupiah Agar Siswa Dapatkan Ijasah

KAMIS, 11 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary

MAUMERE—Terkait polemik penandatangan Ijasak PLK Floressta (Baca: Polemik Penandatanganan Ijasah PLK Floressta oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Maumere), Kepala sekolah Pendidikan Layanan Khusus (PLK) Floressta,Vinsentius Nadja, memberikan tanggapannya. Ia membantah memungut uang dari siswa-siswi kelas XII (kelas 3) sebesar satu juta rupiah untuk keperluan ujian dan pengurusan ijasah. Vinsen mengaku hanya memungut sekitar 250 ribu rupiah saja per orang untuk keperluan ini.
Kepala Sekolah PLK Floressta, Vinsentius Nadja
Hal ini ditegaskan Vinsentius Nadja kepada Cendana News yang menemuinya, Kamis (11/2/2016). Dikatakan Vinsen, uang yang dikumpulkan tersebut disetorkan kepada SMAN 2 Maumere. Tahun 2014 uang yang disetorkan 4 juta rupiah karena ada 18 orang siswa-siswi yang mengikuti ujian di SMAN 2 Maumere sementara tahun 2015 ada 56 siswa pihaknya menyetor 14 juta rupiah.
“Tidak ada itu uang satu juta paling sekitar 300 ribu rupiah per siswa. Karena kami setor pakai uang dari pos lain maka banyak ijasah yang belum diambil,” ujar Vensen.
Saat ditanyai Cendana News perihal pengakuan Kepala Sekolah SMAN 2 Maumere yang mengaku tidak menerima uang sepeser pun dari PLK Vinsen pun kembali menegaskan dirinya menyetorkan ke bagian kurikulum. Ditambahkan Vinsen, mungkin uang tersebut tidak diberitahukan kepada Kepala Sekolah SMAN 2 Maumere.
Terkait tanda tangan di ijasah Vinsen menjelaskan, ijasah ini kan sempat jadi polemik. Saat dirinya konfrimasi ke Dinas PPO Sikka dan kepala sekolah SMAN 2 terkait penandatanganan ijasah memang tidak ada perubahan. Ada dua bagian depan dan belakang, di bagian depan ijasah di kolom asal sekolah seharusnya ditulis asal sekolah PLK Floressta tapi di ijasah ditulis SMAN 2 Maumere sehingga dirinya tidak berwenang tanda tangan.
“Kalau di kolom tersebut ditulis sekolah asal PLK Floressta berarti saya mendatanganinya, tapi kan tertulis SMAN 2 Maumere jadi saya tidak berhak tanda tangan,”tutur Vinsen.
Mengenai adanya sekolah asal tertulis SMAN 2 Maumere, Vinsen mengatakan, karena di petunjuk teknis, di kolom tersebut yang menentukan dan tanda tangan yakni sekolah induk. Ini yang membuat dua bagian ijasah ditandatangani kepala sekolah SMAN 2 Maumere.
“Waktu masa ujian percobaan beberapa hari lalu saya juga sampaikan dan kata pak John Latuang kolomnya sudah berubah tapi saya belum melihatnya.”ungkap Vinsen.
Ditambahkan Vinsen, untuk SMP siswa-siswi dititipkan atau sekolah induknya di SMPN 1 Maumere sedangkan untuk yang jenjang SMA di SMAN 2 Maumere. Sementara untuk SD papar Vinsen,pihaknya melaksanakan ujian sendiri di SD Inpres Wolomarang yang selama ini dipergunakan dari jam 13 hingga 17.00 WITA.
“Sekolah ini sebenarnya berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Kami hanya melapor dan memberitahukan ke Dinas PPO Sikka sedangkan rekomendasi dari Dinas Pendidikan provinsi NTT bidang Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK)” papar Vinsen.
Drs.Hendrik Sega, Kepala Sekolah SMAN 2 Maumere yang ditemui di sekolahnya di hari yang sama membantah meminta dan menerima uang dari sekolah PLK Floressta.Untuk diketahui, para guru dan siswa-siswi SMAN 2 Maumere merasa tidak puas karena ijasah sekolah PLK tertulis SMAN 2 Maumere dan ditandatangani kepala sekolah SMAN 2 Maumere bukan kepala sekolah PLK. Para siswa menyebutkan meski hanya ujian nasional di sekolah mereka tetapi siswa-siswi PLK memiliki ijasah yang dikeluarkan sekolah SMAN 2 Maumere dan nilai ujian siswa-siswi PLK lebih besar dari nilainmereka yang setiap hari sekolah.
“Mereka sekolah satu hari dalam seminggu,  kenapa ijasahnya sama dengan kami bahkan nilai mereka lebih besar dari kami.” protes siswa-siswi SMAN 2 Maumere.
Lihat juga...