MINGGU, 7 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor : Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Ebed De Rosary
MAUMERE—Tradisi menenun wajib dilestarikan. Selain menghargai leluhur, keterampilan yang diwarisi secara turun temurun bisa menafkahi hidup. Wisatawan yang menyambangi gereja tua Sikka dipandang sebagai pembeli potensial. Pasar ini yang coba dimasuki kelompok Dona Ines. Meski tidak semua yang menyambangi gereja tua Sikka membeli selembar kain tenun, pun demikian bagi kaum perempuan kelompok Dona Ines, kesetiaan memasarkan tenun Sikka tetap dilakoni.
![]() |
| Agneta Agnes (baju hitam) dan Bernadeta da Gahar anggota kelompok Dona Ines sedang mewarnai benang memakai pewarna alami. |
Menenun bagi kaum perempuan di Kabupaten Sikka merupakan sebuah keterampilan yang wajib dimiliki. Tak heran, hampir di semua pelosok, aktifitas menenun dengan mudah kita temui. Menenun dilakukan baik secara perorangan di rumah-rumah maupun secara berkelompok. Di kota Maumere, aktifitas menenun juga masih kita jumpai di rumah-rumah penduduk.
Kain tenun, bagi masyarakat Sikka wajib dibawa saat ada kematian maupun perkawinan. Anggota keluarga yang berduka, datang ke rumah duka selalu membawanya untuk diberikan kepada keluarga berduka. Saat perkawinan pun, kain tenun diberikan kepada keluarga pengantin perempuan kepada keluarga pengantin laki–laki saat antar Belis (mahar perkawinan).
Menenun pun bisa dilakukan untuk mencari nafkah.Kain tenun dijual kepada wisatawan maupun kepada warga masyarakat Sikka yang membutuhkan. Sadar akan potensi ini, kelompok perempuan Dona Ines di desa Sikka bergabung dan bersatu menjual kain tenun dan aksesoris dari kerang yang diproduksinya.
![]() |
| Maria Dua Eda da Gomes anggota kelompok Dona Ines sedang mengikat motif (Pete Perung). |
“Kami ada lima kelompok perempuan di desa ini yang sudah terbentuk sejak tahun 2012. Kami awalnya berjualan sendiri–sendiri namun akhirnya kami semua sepakat bergabung menjadi sebuah kelompok besar dan setiap hari berjualan di samping gereja tua Sikka “ujar Margaretha Alexa kepada Cendana News.
Dikatakan Alexa, awalnya mereka berjualan kain tenun sendiri-sendiri. Saat ada kunjungan wisatawan bebernya, mereka berlarian mengejar para wisatawan guna menawarkan kain tenun mereka. Ketidakteraturan ini membuat banyak wisatawan yang tidak merasa nyaman dan urung membelinya. Bila tidak ada kelompok, mereka juga sulit mendapatkan bantuan. Kejadian inilah yang membuat 50 orang sepakat membentuk lima kelompok dan bergabung dalam sebuah kempok besar.
Tergantung Wisatawan
Saat disambangi Cendana News pagi itu, kelompok ini sedang menunggu pembeli. Sepinya tamu saat itu, sudah dua belas hari tak ada selembar kain tenun yang dijual. Meski begitu, para ibu-ibu ini terlihat tetap semangat.

Lokasi tempat menggelar dagangan dan memamerkan proses menenun tidak terlalu luas. Berada persis di sebelah selatan, di bawah tangga masuk halaman gereja tua Sikka dan berdampingan dengan makam Raja Sikka. Lahan seluas ± 100 meter persegi ini dijadikan pangkalan rutin mengais rejeki dari wisatawan yang mengunjungi gereja tua (Baca: Gereja Tua Sikka, Bangunan Kuno Gaya Eropa Berpadu Motif Inkulturatif Tenun Ikat) dan Lepo Gete. (Baca: “ Lepo Gete “, Istana Raja Sikka. Merana di Bibir Pantai Selatan).
Rineldis Epifania ketua kelompok Dona Ines menuturkan, di Desa Sikka sebenarnya ada limabelas kelompok tenun. Lima kelompok sebut Epifania, terbentuk tahun 2012 sementara sepuluh kelompok lainnya terbentuk tahun 2013. Lima kelompok yang tergabung dalam kelompok Dona Ines rutin menempati lokasi di sekitar Lepo Gete sedangkan 10 kelompok lainnya tidak.
Masing–masing kelompok beranggotakan sepuluh orang. Kelima kelompok tersebut juga dinamai sesuai motif kain tenun yang jadi andalan kelompok tersebut. Kelompok satu bernama Mawarani yang diketuai Maria Anselmia sedangkan kelompok dua bernama Manuagi yang diketuai Maria Dua Eda da Gomes. Kelompok tiga dinamakan Medan Wedeng Werang yang diketuai Edoksia Sima, kelompok empat Nape Wungung diketuai Maria Rosari dan kelompok terakhir dengan ketua Putri Finansi bernama Naga Lalang.
![]() |
| Kain tenun milik kelompok Dona Ines yang dipajang di sekeliling lokasi berjualan samping gereja tua Sikka |
“Biasanya setiap kelompok dibagi setiap hari memamerkan kain tenunnya, tapi kalau belum ada yang terjual berarti kelompok tersebut tetap memamerkan kain tenun sampai ada yang beli. Ini sudah jadi kesepakatan bersama seluruh anggota dalam pertemuan “ kata Epifania.
Semua kelompok, menempati lokasi di sekitar Lepo Gete. Hasil penjualan disisihkan juga untuk uang kas kelompok. Wisatawan ramai berkunjung saat seminggu jelang Paskah dan juga di bulan Juni hingga Oktober. Selepas itu, jarang sekali ada kunjungan wisatawan. Saat turun hujan, kain tenun dipajang di kolong rumah panggung Lepo Gete dan para perempuan anggota kelompok berteduh di atas terasnya.
“Tidak semua yang berkunjung ke gereja tua dan Lepo Gete membeli kain tenun yang kami jual.Biasanya usai mengunjungi gereja tua, kami tawarkan mereka guna melihat kain tenun kami, siapa tahu mereka bisa membelinya. Tapi semua itu tergantung wisatawan “ papar Epifania.
![]() |
| Kain tenun milik kelompok Dona Ines yang dipajang di sekeliling lokasi berjualan samping gereja tua Sikka |
Kain–kain tenun terlihat dipajang dengan meletakannya pada bambu–bambu pagar yang ada di sekeling tempat tersebut. Ada juga yang ditaruh di meja. Setiap sudut dipasang tiga tingkat bambu panjang sehingga memudahkan kain tenun tersebut diletakan disana.
Memamerkan Proses
Kelompok ini juga menawarkan pertunjukan proses menenun kain. Biasanya kegiatan ini menjadi salah satu permintaan para wisatawan untuk bisa mengetahui secara jelas hingga terjadinya selembar kain tenun. Tarif yang dikenakan untuk memperlihatkan proses ini dikutip sebesar 100 ribu rupiah. Penasaran akan hal ini, Cendana News pun ikut memperhatikannya.
Pohon kapas yang ada di sekitar tempat tersebut terlihat berbuah dan beberapa buahnya mulai mengering. Dijelaskan Alexa, juru bicara kelompok, kapas yang sudah kering diambil dan bijinya dikeluarkan memakai alat tradisional yang disebut Ngeung. Agneta Agnes terlihat sedang memasukan kapas ke dalam celah diantara dua kayu bulat sementara tangan satunya memutar pegangan di samping alat tersebut.
![]() |
| Kain tenun milik kelompok Dona Ines yang dipajang di sekeliling lokasi berjualan samping gereja tua Sikka |
“Ngeung berfungsi untuk memisahkan biji kapas. Satu alat punya dua fungsi dimana kapas yang sudah dibersihkan akan keluar di bagian depan sementara yang ada bijinya akan keluar dibelakang “jelas Alexa.
Kapas pun dihaluskan. Dua perempuan dengan batang kayu bulat sepanjang ± 1 meter dan diameter ± 2 sentimeter terlihat memukulkan kapas yang diletakan diatas tikar (Tutu). Dibawah tikar diletakkan tumpukan daun pisang kering sehingga saat dipukul tikar akan membal. Dipukul oleh dua orang jelas Alexa, supaya kapas bisa rata dan halus hingga ke ujungnya.
Setelah itu kapas dibentuk bulatan panjang memakai lidi atau kayu dengan maksud supaya dapat dipintal dan jadi benang larinya satu arah saja (Ogo) .Hasil gulungan satu persatu mulai diuraikan jadi benang, memakai alat pintal Jata Kapa). Setelah merentangkan benang, proses pembuatan kain tenun dilanjutkan dengan membuat pola atau motif gambar. Setiap ibu-ibu di kelompok terangnya, mempunyai buku pegangan masing-masing sehingga jika hendak mengikat motif mereka akan mengikuti contoh di dalam buku tersebut.
![]() |
| Kain tenun milik kelompok Dona Ines yang dipajang di sekeliling lokasi berjualan samping gereja tua Sikka |
“Ikat pakai tali daun gebang (Tebuk) supaya saat dicelup motifnya tetap dalam ikatan.Yang tidak diikat bagian luar yang akan dikasih warna, dimana kalau dibuka bagian yang diikat akan terbentuk pola atau gambar.Ikat pakai daung Gebang supaya tidak licin dan bergeser. Prosesnya butuh waktu sekitar dua minggu “urainya.
Selanjutnya benang tersebut diberi pewarna dengan dicelupkan ke dalam tembikar yang sudah diberi pewarna alami. Proses warna merah, akar pohon Mengkudu dihaluskan dicampur air soda dari abu kayu bakar (kayu Asam atau kayu kesambi) dan diaduk merata bersama daun Lobak. Benang putih pun dicelupkan ke dalamnya. Prosesnya bertahap.
Satu bulan diberi warna setelah itu disimpan, diberi warna dan disimpan lagi dan dilakukan terus menerus. Butuh waktu hingga tiga tahun, hingga dasar warna merah berubah jadi coklat baru dibuka ikatan motif dan diluruskan atau dirapikan dalam alat pemidang (Daong).
“Proses pembuatan warnanya butuh waktu lama karena pemberian warna secara bertahap dan disimpan supaya warnanya semakin lama semakin melekat. Daun Nila direndam di tembikar dicampur air dingin dan kapur sirih untuk kasih warna biru. Prosesnya sama seperti warna coklat tadi hingga sampai warna biru berubah jadi warna hitam. Proses pemberian warna alami lama, dicuci juga tidak luntur,“ paparnya.
Sesudahnya benang diikat satu persatu (Sipe), supaya kalau ditenun motifnya dalam satu posisi, tidak lari kiri kanan atau bengkok dan sudah menyatu. Sipe bisa dilakukan selama dua hari. Setelahnya benang tersebut ditenun. Ada banyak proses menenun yang lebih detail ungkapnya,namun yang ditampilkan disini merupakan proses menenun secara umum saja.
Motif Tradisional
Setiap kelompok di Dona Ines menghasilkan sarung motif khusus untuk dijual. Setiap motif sarung memiliki arti tradisi budaya.Terdapat 38 motif yang dikembangkan di kelompok ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 23 motif merupakan motif tradisional yang diwarisi turun temurun sementara sisanya merupakan motif modern hasil kreasi kelompok.
Motif tradisional seperti diungkapkan Epifania selaku ketua kelompok terdiri atas Mawarani, Manuagi, Nagalalang, Nape Wungung, Oko Kirek, Rembing dan Moko. Selain itu juga terdapat motif Medan Wedeng Werang, Jarang Ata Biang, Selepa, Dama, Kapa Wuang, Kelang Kobar, Medan Taling, Medan Turang, Geda Ata Wuang dan Pote Sere. Sementara motif modern diantaranya Bunga, Laba-Laba, Puto dan lainnya.
Dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Sikka dan membeli kain tenun hasil produksi mereka, wisatawan asing lebih menyukai kain tenun pewarna alami yang lebih gelap sementara wisatawan dari Jawa lebih menyukai warna cerah.
“Kami selalu memberitahu ke wisatawan, kalau pewarna kimia warnanya cerah–cerah, kalau pewarna alami warnanya agak buram. Ada benang kapas dan benang pabrik juga. Kalau pakai kapas prosesnya agak lama “ katanya.
Untuk selembar kain tenun pewarna alami memakai kapas sepanjang 1,5 meter dan lebar 40 sentimeter dijual dengan harga 2 juta rupiah. Sementara memakai benang pabrik dan menggunakan pewarna alami dijual seharga 1,5 juta rupiah. Jika memakai benang pabrik dan pewarna kimia, selembar kain tenun dijual dengan harga 300 ribu rupiah. Kelompok ini juga menerima pesanan kain dalam jumlah banyak.
Pemasaran dan modal jadi alasan klasik yang menyebabkan kelompok ini ibarat pepatah “hidup enggan mati tak mau”.
Tahun 2012 berdiri, ungkap Maria Dua Eda da Gomes ketua kelompok Manuagi saat ditanyai Cendana News, kelompok Dona Ines mendapat bantuan dari Dinas Pariwisata Sikka sebesar 75 juta rupiah. Tiap kelompok mendapat 4 juta rupiah. Tahap kedua, kembali mendapat dana 100 juta rupiah yang disalurkan lewat desa tapi tidak jelas pembagian dananya.
“Kami belum pernah jual ke tempat lain tapi kalau dalam keluarga anggota kelompok yang butuh, mereka bisa beli. Kami butuh modal sebagai penguat untuk mengembangkan kelompok tenun ikat “pungkasnya.




