Hari Raya Kuningan, Wujud Pemulangan Leluhur

MINGGU, 21 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Bobby Andalan / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Bobby Andalan

BALI—Sabtu (20/2/2016) masyarakat Hindu Bali merayakan Hari Raya Kuningan. Kuningan jatuh tiap enam bulan sekali menurut kalender Bali. Hari raya ini dirayakan sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan. (Baca: Tradisi Ngelawar dan Ngejot di Hari Raya Galungan).


Jero Mangku Widya, sesepuh spiritual muda asal Denpasar menyebutkan, Hari Raya Kuningan adalah hari pemulangan. Ini diperingati setiap 210 hari atau enam bulan sekali dalam kalender Bali tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.
“Pada hari ini (Kuningan) wajib bagi kita umat Hindu di Bali mengucapkan rasa syukur pada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas karunia-Nya memberikan kemeriahan dan kemenangan buat kita semua,” ucap Mangku di kediamannya.
Lebih spesifik lagi, kata Mangku, pelaksanaan upacara pada Hari Raya Kuningan sebaiknya dilakukan sebelum tengah hari, sebelum waktu para Betara dan leluhur kita yang sudah disucikan kembali ke surga.
Pada hari ini, lanjut Mangku, umat Hindu membuat nasi kuning tumpeng kecil-kecil sebagai lambang kemakmuran. “Kuning merupakan lambang dari kemakmuran dan kesejahteraan. Karenanya, disimbolisasikan dengan menghaturkan bahan pangan (padi/beras) diolah jadi nasi kuning,” kata Mangku.
Dipertegas, bahwa hari raya ini adalah hari raya khusus, dimana para leluhur yang turun di lingkungan keluarga masing-masing sejak hari Sugihan Galungan, pada saat Kuningan kembali ke Surga.
“Di Kuningan ini disuguhkan sesajen dalam upacara perpisahan untuk kembali ke stananya masing-masing,” tuturnya.
?Selain nasi kuning, juga ada sesajen yang berisi simbol tamiang dan endongan, dimana makna tamiang memiliki lambang perlindungan dalam bentuk perputaran roda alam yang mengingatkan manusia pada hukum alam.
“Galungan sampai Kuningan diharapkan agar umat selalu mengingat tentang cinta kasih dan saling menjaga keharmonisan dengan alam. Terpenting tidak melupakan apa yang telah diwariskan atas ilmu pengetahuan oleh leluhur (pendahulu) kita,” tutup Mangku Widya.
Lihat juga...