Psikolog UGM: Ideologi Bangsa dalam Posisi Rawan

SABTU, 23 JANUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA — Dalam perspektif ketahanan nasional, bangsa Indonesia saat ini berada dalam posisi yang rawan dari aspek ideologi dan sosial budaya. Masyarakat tak lagi memiliki identitas yang jelas, sehingga sangat rentan dipengaruhi oleh ideologi lain dari luar.


Hal demikian diungkapkan Prof. Kwartini W. Yuniarti, psikolog Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu (23/1/2016), di Kampus setempat. Ia mengatakan, fenomena orang hilang yang dikaitkan dengan organisasi tertentu yang berpaham lain dan dianggap sesat, merupakan salah satu contoh dari  rentannya ideologi bangsa saat ini. 
Melihat faktanya yang terjadi, yaitu orang bisa meninggalkan keluarganya begitu saja, Kwartini menilai, jika pengaruh atau tindakan persuasifnya sudah dilakukan sejak lama, dan menyasar pada situasi keluarga yang tidak terawasi. 
Dengan kata lain, katanya, dalam peristiwa itu keluarga sudah kecolongan. Karena itu, proses pemulihan terhadap keluarga adalah dengan cara mengembalikan kesadaran mereka terhadap pentingnya keutuhan keluarganya. Kesadaran akan pentingnya keutuhan keluarga harus diutamakan. Upaya itu, menurutnya, juga harus dilakukan dalam bahasa mereka. Jika mereka selama ini sangat kuat kepercayaannya terhadap dalil-dalil agama, maka proses pemulihan juga dilakukan dengan menunjukkan dalil-dalil agama yang diarahkan untuk mengembalikan kesadaran mereka, bahwa keutuhan keluarga adalah prioritas yang sangat penting. 
“Intinya, kita harus bicara dengan mereka dengan bahasa dan perspektif mereka”, ujarnya.
Sementara itu berkait ideologi bangsa yang berada dalam posisi rawan, menurut Kwartini, karena saat ini ideologi Pancasila hanya dideskripsikan, tanpa ada model yang bisa dicontoh. Sekarang, ideologi yang berkembang justru semakin liberal, sehingga saat ini Pancasila harus direimplementasikan. “Dan, untuk itu harus ada strategi budaya”, cetusnya. (koko)
Lihat juga...