Ni Ketut Suriyasih, Kuli Panggul Pasar Badung yang Getol Kampanye Penyakit Reproduksi

SABTU, 30 JANUARI 2016
Jurnalis: Bobby Andalan / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Bobby Andalan

BALI—Sorot matanya tajam. Pergerakannya lincah. Jika mendapati pengunjung pasar dengan barang bawaan berlebih, selalu ia hampiri. Sejurus kemudian, rayuan jasa panggul ia tawarkan. Ya, ia adalah Ni Ketut Suriyasih, kuli panggul di Pasar Badung. Dalam bahasa Bali, profesi Suriyasih disebut tukang suwun.

Ni Ketut Suriyasih (baju hijau)

Tiap hari, pagi hingga malam, Suriyasih bekerja di pasar terbesar di Kota Denpasar itu. Ia tak canggung dengan pekerjaannya. 
Jika jasa angkut tengah sepi, ada ‘pekerjaan’ lain yang dilakukan Suriyasih. Dia membagikan brosur tentang sosialisasi tentang penyakit yang berkaitan dengan reproduksi dan cara pencegahannya. Tak segan ia pun memberi penjelasan tentangnya.
Kepada Cendana News Suriyasih bercerita jika ia telah delapan tahun menjadi relawan untuk memberikan pemahaman pentingnya menjaga kesehatan wanita. “Saya sudah delapan tahun jadi relawan seperti ini,” ucap Suriyasih membuka perbincangan.
Ia tertarik melakukan sosialisasi penyakit reproduksi berkat keberadaan Yayasan Rama Sesana (YMS) yang dipelopori oleh Dokter Luh Putu Upadisar atau biasa disapa Dokter Sari. Awal mula, Suriyasih mengaku malas melakukan aktivitas sosialisasinya itu. Baginya kala itu, mengais rezeki lebih penting ketimbang melakukan aktivitas sosialisasi tanpa dibayar satu rupiah pun.
Namun, pelan-pelan ia menyadari berbagi informasi disela kegiatannya memanggul barang bawaan pengunjung pasar juga tak membuang waktunya. “Saya juga akhirnya memeriksakan kesehatan reproduksi saya dan tertarik menjadi relawan,” ungkapnya.
Setiap hari, Suriyasih dan rekan relawan lainnya berpencar mensosialisasikan penyakit berbahaya yang rentan diidap kaum perempuan seperti kanker payudara, kanker serviks dan sejumlah penyakit lainnya.
Suriyasih mengaku diawal ia melakukan sosialisasi, cibiran datang menghampirinya. Ia tak patah semangat. Justru cibiran itu dijadikan pelecut untuk semakin memompa semangatnya melakoni pekerjaan barunya itu. “Awalnya sulit dan dipandang sebelah mata. Tapi, dari cibiran itu kami mendapat semangat,” tutup Suriyasih.
Lihat juga...