Mengenal Profesi Pemandi Mayat dari Dominikus Tala

SABTU, 30 JANUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary

SEKITAR KITA—Profesi pemandi mayat bisa dikatakan profesi yang selalu dihindari masyarakat.  Melakoni profesi ini, selain butuh keberanian mental juga tentunya tak bisa dipisahkan dari niat tulus bukan sekedar mendapatkan pekerjaan berupah layak. 

Dominikus Tala, petugas kamar mayat RSUD TC Hillers di depan rumahnya yang juga dipakai sebagai tempat usaha pembuatan peti jenasah


Dominikus Tala atau lebih akrab disapa Domi adalah karyawan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere yang tak asing bagi sebagian besar warga Kabupaten Sikka. Bukan hanya masyarakat biasa, para pejabat penting di Sikka jika ditanya pasti mengenalnya. Saat disambangi di rumahnya. yang sederhana, setengah tembok berdinding halar (bambu belah) dengan lantai keramik terlihat bersih. Bagian kiri halaman rumah terdapat lima peti jenasah siap pakai.
“Saya sekarang masuk jadwal kerja malam karena pagi ada satu orang tenaga kerja sukarela yang masuk pagi. Tapi kalau dibutuhkan saya siap datang makanya telpon seluler saya harus aktif 24 jam “ ujarnya.
Beberapa tahun ini semenjak ada TKS (tenaga kerja sukarela) yang bertugas membantunya di kamar jenasah, dirinya tak lagi harus siap siaga selama 24 jam penuh. Biarpun dinas malam, diriya siap dipanggil kapan saja bila dibutuhkan rumah sakit. Bahkan ayah dua putri ini juga kerap menerima panggilan dari keluarga berduka di pelosok Sikka guna memandikan mayat dan memakaikan pakaian.
Dominikus Tala, petugas kamar mayat RSUD TC Hillers di depan rumahnya yang juga dipakai sebagai tempat usaha pembuatan peti jenasah
Saat dijumpai tengah memandikan mayat, pria asal Dusun Lewomudat, Desa Wailamung, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka ini terlihat cekatan memandikan jenasah seorang lelaki dewasa. Bagi Domi, dirinya hanya menjalankan pekerjaan yang diberikan. Saat awal berkarya rumah sakit masih menempati gedung lama yang sekarang dipakai sebagai kampus Universitas Nusa Nipa Maumere.
Sebelum diangkat jadi tenaga honor daerah tahun 1998, suami dari Maria Imelda ini sudah beberapa tahun sebelumnya hanya berstatus sebagai tenaga kerja sukarela. Meski tanpa gaji tetap, dirinya tetap semangat dan tidak protes. Semenjak tahun 1998 dirinya bertugas rangkap sebagai petugas kamar mayat dan juga tenaga kebersihan.
“ Karena direktur lihat saya kerja bagus makanya saya disuruh kerja rangkap dengan mandi mayat, kerja 24 jam. Saya dilengkapi alat komunikasi sehingga kalau ada orang meninggal saya dikontak , sebab waktu itu saya tinggal di asrama. Saya tidak ada alasan capek dan terus kerja “ ungkap pria kelahiran 5 Agustus 1971.
Dominikus Tala bersama isteri dan keuda anaknya di kediaman mereka di Kelurahan Madawat.
Setelah sekian tahun bekerja sebut Domi rasa capek muncul juga. Ketika direktur tanya, Domi masih kuat, saya jawab masih kuat, tutur pria yang menetap di RT 02 RW 10 Kelurahan Madawat Kecamatan Alok ini. Di tahun 2000–an, Domi masih diberikan uang tambahan untuk beli susu tapi sekarang tidak lagi, jadi agak repot.
Setelah bekerja honor delapan tahun dirinya baru diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Itupun karena ada dokter ahli yakni dr.Ketut yang hendak pindah kerja ke Denpasar memintanya mengikuti sang dokter bekerja di kamar mayat di RS Sanglah Denpasar. Dikatakan lelaki 55 tahun tersebut, dokter Ketut melihat dirinya kerja rajin dan berani.
“Saya menghadap Bupati kala itu, Bapak Alex Longginus dan beliau bilang, Domi tenang saja harus banyak bersabar, mungkin juga sebentar lagi  Domi juga diangkat jadi PNS. Tiga minggu setelahnya nama saya juga juga termasuk diangkat jadi PNS, “ucapnya penuh haru. 
Waktu beli, Domi dirinya melihat namanya terdaftar di nomor 288. Dirinya bergegas pulang ke rumah dan menunjukkan koran tersebut kepada isteri. Keesokan pagi mereka langsung bertolak ke kampung halaman, bakar lilin di kubur orang tua (tadisi). Sebelumnya saya kerja sebagai tenaga sukarela sekitar lima tahun lebh,
“Kalau kita kerja rajin atasan pasti perhatikan, ini anak kerja baik jadi kita akan angkat dia jadi tenaga honor sudah, kalau sudah tenaga honor peluang untuk jadi PNS lebih gampang. Tenaga kerja Sukarela ( TKS )  dulu ada uang sabun dan lainnya dari kantor,  kalau TKS sekarang susah,kita harus rajin cari kerja diluar “ enangnya.
Sosok Domi dimata dr. Asep Purnama, mantan Direktur RSUD TC Hillers merupakan pekerja keras dan mempunyai passion. Dikatakan dokter Asep, Domi merupakan pegawai terlama yang bekerja sendiri hingga menjabat kepala unit pemusalaran jenasah.Bila dirinya tidak ada, sulit mencari pegawai yang mau bertugas disana.
Hal senada juga disampaikan dr.Junaedi Sinaga, Direktur RSUD TC Hillers saat ini. Menurut dokter Sinaga, Domi merupakan pribadi yang jujur dan tekun dalam bekerja meski lama berstatus tenaga honor. Bila tidak ada mayat, dirinya juga kerja jadi tenaga kebersihan dan memotong rumput taman tanpa disuruh.
Bekerja di kamar jenasah, pesan Domi, harus tabah dan kuat iman, serta tidak boleh buang air liur saat bertugas, itu saja. Ia meyakini dan memegang teguh apa yang ia yakini bahwa jika membuang air liur, jenasah bisa marah dan arwahnya mengikuti terus hingga ke rumah. Berdasarkan keyakinan tersebut, Domi senantiasa menjaga untuk tidak membuang air liur, bukan karena takut akan didatangi roh dari orang yang sudah meninggal tetapi lebih kepada rasa hormat kepada jenasah tersebut. 
Menurut pengakuan Domi, tidak semua jenasah yang ia urus berasal dari keluarga berada, tak jarang ia pun membelikan pakaian jenasah bagi jenasah dari keluarg yang tak mampu. 
“Orang yang meninggal selalu memberi saya rejeki. Saya tiap tahun selalu buat laporan kerja dan tidak ada masalah. Semua hasil kerja saya susun dan saya kerja benar, saya takut dituduh makan uang. Pernah ada pegawai TKS makan uang dan saya ganti. Saya tidak mau orang omong saya punya nama apalagi saya tidak berbuat “tuturnya.
Ia mengisahkan, menyayangkan anggota keluarga atau kerabat yang melarang jenasah jangan dimandikan dahulu karena berkeyakinan orang yang meninggal akan hidup kembali. Jika jenasah sudah kaku Domi hanya bakar lilin dan membuat tanda salib serta bicara sebentar dengan jenasah dan tak lama berselang kaki tangan jenasah pun lemas tutur Domi menceritakan keyakinan yang tidak masuk akal.
Lihat juga...