RABU, 20 JANUARI 2016 Penulis: Rustam / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Rustam
CATATAN JURNALIS—Tidak banyak yang tahu jika lelaki yang sekarang ini menjalani kesibukannya sebagai Kepala Sekretariat KONI Sulawesi Tenggara ini adalah mantan atlet dayung tingkat nasional yang telah berulang kali menyumbangkan medali untuk Indonesia di masa Orde Baru. Ia bernama Lasmin.
Lasmin
Ditemui Cendana News di kantornya pada hari Rabu (20/1/2016) Lasmin yang sekarang ini berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) nampak masih sangat bugar dengan postur tubuh yang tinggi berisi. Disinggung masalah postur tubuhnya, ia mengatakan tinggi badannya 213 cm,
Walaupun sudah menjadi pegawai (PNS, red) Lasmin tetap menjalankan kegiatan yang berhubungan denggan olahraga dayung. Ia dipercaya sebagai pelatih atlet dayung provinsi Sultra. Yang menarik, ia pun masih memiliki waktu untuk berkebun. Akhirnya terjawab mengapa lelaki kelahiran Kabupaten Konawe ini begitu terjaga kesehatannya.
Berbicara tentang pembinaan atlet dayung di Indonesia, khususnya Sulawesi Tenggara, Lasmin menyarankan agar diagendakan latihan khusus ke China. Lasmin menyatakan sarannya ini sangat beralasan karena atlet dayung di China dilatih dengan sangat serius.
Ia menambahkan, China melakukan pembinaan secara bertingkat, mulai dari usia 7 tahun, usia 12 tahun, usia 17 tahun dan usia 22 tahun. Pada level usia 22 tahun, sudah masuk level prestasi. Hal ini berbeda dengan metode pelatihan di Indonesia. “Ketika akan menghadapi kejuaraan baru latihan selama 2-4 bulan, di negara lain, China salah satunya, atlet dididik bertahun-tahun hingga masuk ke level kejuaraan dunia. Atlet disekolahkan hingga mengukir prestasi tingkat dunia” jelasnya.
Ketika ditanya tentang awal mula ketertarikannya menekuni olahraga dayung, Lasmin menjelaskan bahwa mulanya ia adalah atlet bola voli. Dengan postur yang sangat menunjang, membuat Lasmin memilih untuk menekuni olahraga bola voli secara serius. Tetapi ia berubah pikiran ketika melihat sepupunya bernama Marnia yang lebih dulu menjadi atlet dayung profesional.
Ketika Lasmin mengikuti kejuaraan bola voli di Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe, dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan RI tahun 1994, tiba-tiba Lasmin dijemput oleh Damsid, pengurus KONI Sultra saat itu. Lasmin kemudian dipertemukan dengan almarhum Tumbo Saranani, mantan Ketua KONI Sultra.
Sejak itulah Lasmin mulai dilatih sebagai atlet dayung, belum genap satu tahun, Lasmin sudah diikutsertakan dalam Kejurnas Dayung di Ujung Pandang (Sekarang Makassar), Sulawesi Selatan. Hasil yang diperoleh pun sangat membanggakan dengan meraih medali emas untuk kelas ergometer.
Melihat prestasi Lasmin yang cemerlang, ia langsung dipanggil Pelatnas di Jatiluhur Jawa Barat. Hanya berselang beberapa bulan, Indonesia mengikuti kejuaraan dayung Merlion Cup di Singapura, ia pun berangkat ke Singapura.
Lasmin pun akhirnya mengukir prestasi tingkat internasional dengan membawa 4 (empat) medali emas bagi Indonesia untuk empat kelas berbeda yang diperlombakan yakni single skal, double skal, quadratel skal dan ergometer.
Ia tentu tak akan bisa lupakan momen tersebut karena momen itulah untuk kali pertama Lasmin mengharumkan nama bangsa dan negara dimata dunia melalui cabang olahraga dayung.
Masih pada tahun 1995, Lasmin ikut kejuaraan tingkat Asia di China. Ia menduduki peringkat lima dalam kejuaraan tersebut. Disusul tahun 1996, Lasmin bersama teman lainnya mengikuti Pra Olimpiade di Tokyo Jepang. Di kejuaraan tersebut, Indonesia masuk peringkat 4, prestasi yang membanggakan. Masih pada tahun yang sama (1996, red), Lasmin mewakili Sultra mengikuti PON di Jakarta. Kembali Lasmin meraih prestasi membanggakan. Provinsi Sulawesi Tenggara tercatat memperoleh 2 medali emas berkat Lasmin.
Prestasi kembali diukir pada tahun 1997, Lasmin kembali diikutsertakan dalam Merion Cup di Singapura. Lagi-lagi berhasil merebut 2 medali emas. Sedangkan untuk Sea Games 1997 yang digelar di Jakarta, Lasmin merebut 1 medali emas untuk kelas single skal.
Pada tahun 1998, Lasmin mewakili Indonesia di kejuaraan dunia di Belanda dan kejuaraan dunia putaran 2 di Swiss, Pra Asean Games di Thailand. Khusus untuk Asean Games, Lasmin berhasil meraih 1 medali emas.
Prestasi lain yang telah ditorehkan Lasmin adalah 1 medali emas di Sea Games tahun 2001. Tapi sebelumnya, PON tahun 2000, berhasil membawa pulang 3 medali emas. Terakhir Lasmin ikut kejuaraan dayung adalah saat mengikuti PON tahun 2008 di Kalimantan Timur (Kaltim), ia pun kembali mengharumkan nama Sulawesi Tenggara dengan memboyong 2 medali emas, 1 perak dan 1 perunggu.
Sulawesi Tenggara patut bangga memiliki putra daerah yang mampu mencatat prestasi dibidang olahraga dayung mulai tingkat nasional hingga internasional. Lasmin pun bangga karena pernah mengharumkan nama bangsa melalui prestasinya. Harapannya, akan muncul atlet-atlet muda yang mampu mencetak prestasi baik dalam skala nasional maupun internasional. Sang pelatih pun punya “taji” untuk jadi inspirasi bagi anak didiknya, karena ia membuktikan, kemampuannya telah membawanya menjadi atlet dayung yang kerap menabur prestasi sejak era Orde Baru hingga masuk ke era reformasi.