Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto : Koko Triarko
YOGYAKARTA—Semakin beragamnya masalah kebangsaan saat ini, terutama masalah ideologi, lembaga pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam proses menyiapkan generasi bangsa yang kuat menghadapi berbagai ancaman. Sayangnya, tidak jarang anak sekolah juga menghadapi beragam masalah tersendiri. Karena itu, sekolah yang aman bagi siswa saat ini kian digalakkan.
Meski belum ada ditemukan kasus paham radikal yang mempengaruhi siswa didik tingkat sekolah dasar, namun maraknya berita tentang Gafatar selama ini membuat anak setingkat sekolah dasar mengetahui perihal Gafatar.
Karena itu, juga dibutuhkan pendampingan bagi anak-anak agar tidak keliru dalam memahami fenomena yang berkembang akhir-akhir ini terkait Gafatar. Terkait hal itu pun, sejumlah sekolah saat ini semakin menggencarkan upaya mewujudkan sekolah yang aman bagi para siswa. Salah satunya, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Denggung, Tridadi, Sleman, Yogyakarta.
Ditemui Kamis (28/1/2016), Kepala Sekolah SDN Denggung, Dra. Sri Susilowati, MPd., mengakui, siswa didiknya memang mengetahui berita tentang Gafatar melalui sejumlah media massa baik cetak maupun elektronik seperti televisi. Namun demikian, menurutnya, pemberitaan tentang Gafatar tidak berpengaruh apa-apa bagi para siswa. Sri mengatakan, pihaknya pun tidak memberikan perhatian khusus kepada para siswa terkait Gafatar, karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Sri menjelaskan, bahwa konsep “sekolah aman” di sekolahnya selama ini sudah cukup membentengi para siswa dari kemungkinan adanya pengaruh radikal dari luar. Pelajaran mengenai wawasan kebangsaan, setiap hari diberikan.
Dan, secara berkala pihaknya mendatangkan petugas dari kepolisian untuk memberikan materi pembelajaran tentang keamanan dan kebangsaan.
Setiap pagi, kata Sri, para siswa sudah diwajibkan untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Juga mencium tangan guru sebagai salah satu pendidikan budi pekerti. Tak hanya menyanyikan lagu kebangsaan, para siswa setiap hendak jam pulang sekolah juga diwajibkan menyanyikan lagu tradisional. “Semua ini merupakan bagian dari pendidikan cinta tanah air”, jelasnya.
Sementara itu, terkait faktor keamanan bagi para siswa dalam rangka mewujudkan sekolah yang aman bagi siswa, dilakukan dengan memberikan pengawasan selama dalam proses pembelajaran dan bermain, baik di kelas maupun di luar kelas atau internal dan eksternal. Menurut Sri, ancaman internal paling sering dialami siswa adalah ejekan atau bullying. Baik dari sesama teman di dalam kelas dan sekolah, keluarga dan lingkungan. Untuk itu, pihaknya setiap hari selalu mengingatkan, agar setiap siswa dengan alasan apa pun tidak dibolehkan dan tidak dibenarkan membully atau mengejek teman sendiri dan orang lain.
Dengan jumlah siswa keseluruhan 342 orang, dan jumlah Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS)16 orang, Guru Tidak Tetap (GTT) 3 orang dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) sebanyak 2 orang, Sri yakin, semua siswanya bisa terawasi dengan baik.
“Kami juga membiasakan para siswa membaca koran dengan pendampingan guru, sehingga para siswa mengerti perkembangan yang terjadi dengan aman karena ada yang mendampingi”, pungkas Sri.