Keluarga Pasien Keluhkan Pelayanan RSUD Seram Bagian Timur

SENIN, 11 JANUARI 2016
Jurnalis: Samad V, Sallatalohy / Editor: Sari Puspita Ayu / Foto: Samad V, Sallatalohy
AMBON—Keluarga pasien mengeluhkan pelayanan oleh pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bula Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Provinsi Maluku.


Kepada Cendana News Senin (11/1/2016), Ronald Pical salah satu keluarga pasien mengeluhkan pelayanan RSUD Bula terkait anaknya yang sudah masuk sejak Sabtu sore (9/1/2016), tapi sampai sekarang tidak ada dokter ahli untuk mengontrol/memeriksa kondisi anaknya yang kondisinya semakin melemah.
“Setelah dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) sejak Minggu sore kemarin, sampai tadi malam  dokter baru datang. Sementara anak saya sudah merasa kesakitan. Dan, padahal saya meminta untuk dimasukan anak saya ke ruangan VIP, dengan harapan mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Betapa herannya saya di ruang VIP, di bawah tempat tidur masih ada kotoran kucing,  ditambah kamar mandi yang tidak terurus. Bahkan seprai pun kita disuruh bawa dari rumah sendiri, alasan loundry tidak buka,” ungkapnya.
Menurutnya, pelayanan pihak RSUD Bula  hanya mengandalkan perawat yang bertugas. Sedangkan dokter spesialis tidak terlihat menjalankan tugas sebagaimana mestinya. 
“Jujur saja, selaku orang tua yang memilih RSUD Bula dengan harapan ditangani secara profesional agar cepat sembuh, tapi buktinya lain. Pihak RSUD Bula tidak profesional,” kritiknya.
Ia menambahkan bahwa kondisi anaknya tidak mengalami perubahan sejak dirawat Jumat minggu lalu, hingga akhirnya ia memutuskan membawa anaknya keluar dari RSUD Bula guna mencari rumah sakit lain di Ambon yang ia harapkan mampu memberikan layanan lebih baik. Ia merasa harus melakukan hal tersebut karena ia mengkhawatirkan kondisi anaknya, selain itu karena banyak hal yang tidak masuk akal yang ia lihat di RSUD Bula. Perawat mengatakan tidak diberi fasilitas kendaraan untuk menjemput dokter yang tinggal 100 meter dari rumah sakit.  
Ronald semakin meradang setelah ia mengajukan untuk membawa pulang anaknya, dokter yang ditunggu-tunggu baru datang. Tetapi ia tetap dengan keputusannya. Perihal jumlah tagihan pun dikeluhkan oleh Ronald karena ia merasa ditipu.
“Biaya Rumah Sakit, yang seharusnya hanya 800 ribu per satu malam nginap, tapi salah satu oknum perawat merubahnya menjadi 2,1 juta rupiah untuk satu malam,” ungkapnya tanpa menjelaskan secara rinci berapa jumlah tagihan yang akhirnya harus ia bayar.
Ronald berharap siapapun yang akan menjadi pemimpin di Kabupaten Seram bagian timur, kiranya bisa memperhatikan tentang pelayanan kesehatan secara baik. 
“Kalau seperti ini, nyawa masyarakat bisa melayang,” pungkasnya.
Lihat juga...