Jualan BBM Premium, Tahun 2015 Pertamina Rugi 6,3 Triliun Rupiah

SELASA, 5 JANUARI 2016
Jurnalis: Eko Sulestyono / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Eko Sulestyono

NASIONAL—PT. Pertamina (Persero), sebagai salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mengaku merugi hingga triliunan Rupiah sepanjang tahun 2015. Penyebab utama kerugian yang dialami Pertamina karena menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Premium (Bensin) secara nasional dengan kadar oktan (RON) 88.

Ahmad Bambang, Direktur Pemasaran Pertamina

Demikian pernyataan yang disampaikan Ahmad Bambang, Direktur Pemasaran Pertamina kepada wartawan kemarin sore, Senin (04/01/2016) saat mendampingi Dwi Sutjipto, Direktur Utama Pertamina di Kantor Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Menurut Ahmad Bambang, salah satu faktor utama penyebab kerugian karena Pertamina menjual BBM bersubsidi jenis Premium secara nasional di luar wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali).
Perlu diketahui sebelumnya, Premium yang dijual Pertamina secara nasional di luar wilayah Jamali harganya lebih murah jika dibandingkan dengan harga Premium yang dijual di wilayah Jamali.
Untuk satu liter Premium yang dijual di luar wilayah Jamali harganya Rp.7.300 per liter, sedangkan Premium yang dijual di wilayah Jamali harganya Rp. 7.400 per liter, sehingga untuk setiap satu liternya Pertamina harus mensubsidi 100 Rupiah.
“Sepanjang Tahun 2015, Pertamina mengalami kerugian sekitar 6,3 triliun Rupiah, itu baru kerugian akibat menjual BBM Premium di luar wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali)” demikian kata Ahmad Bambang, Direktur Pemasaran Pertamina.
Ahmad Bambang mengatakan “kerugian itu ada dua, pertama adalah opportunity losses, kedua benar-benar mengalami kerugian (losses), hitungan opportunity losses sekitar Rp. 6,3 triliun, sedangkan hitungan losses beneran sekitar Rp. 2,7 triliun” terangnya di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian.
Ahmad Bambang menambahkan, penyebabnya karena harga per satu liter Premium yang dijual di luar wilayah Jamali lebih murah daripada Premium yang dijual di wilayah Jamali, itu baru kerugian dari penjualan Premium saja, belum kerugian dari penjualan BBM bersubsidi lainnya, jelasnya saat ditemui wartawan kemarin.
Lihat juga...