Jelang Penurunan BBM Bersubsidi, Premium Menghilang di Lampung

SENIN, 4 JANUARI 2016
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Henk Widi

LAMPUNG—Peredaran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium tiba-tiba menghilang di Lampung. Beberapa konsumen yang akan menggunakan bahan bakar bersubsidi tersebut terpaksa mengurungkan niatnya untuk membeli bahan bakar untuk kendaraan mereka. Sebagian memilih meninggalkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang memasang tulisan premium tidak tersedia.


Alasan pengelola SPBU diantaranya kehabisan stok premium. Seperti yang terjadi di SPBU Coco 21.101.02 Simpang Palas Desa Kekiling Kecamatan Penengahan sejak siang hingga sore masyarakat tak menemukan premium.
“Beberapa calon pembeli ada yang langsung lewat karena mengetahui tak ada premium karena yang dilayani hanya pembelian solar, pertamax serta pertalite,” ungkap salah satu petugas keamanan SPBU yang tak mau namanya disebut kepada Cendana News, Senin malam (4/1/2015).
Akibatnya, banyak kendaraan yang terpaksa meninggalkan SPBU dan bahkan sebagian mogok karena sudah kehabisan bahan bakar. Selain itu beberapa konsumen memilih menggunakan pertalite karena sudah terlanjur sampai di SPBU.
“Antrian di pembelian pertalite pada hari biasa hanya sekitar beberapa kendaraan tapi hari ini antrian cukup panjang karena pilihan hanya pertamax dan pertalite,” ungkap Joni warga Palas.
Joni mengaku memilih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis baru dengan research octane number (RON) 90, yakni pertalite karena meskipun harganya sekitar Rp8.500,- perliter pilihan hanya ada pertamax. Ia mengaku biasa membeli premium namun karena sudah terlanjur masuk dalam antrian ia akhirnya membeli pertalite.
Sementara itu beberapa pengguna bahan bakar yang masih menggunakan premium memilih membeli di pengecer yang menggunakan sistem penjualan dengan jurigen dan botol atau yang lebih dikenal dengan istilah Pertamini. Warga memilih menggunakan premium karena lebih murah dibandingkan harga pertamax dan pertalite. Beberapa pengecer menyambut positif rencana penurunan harga tersebut karena dengan demikian harga premium yang akan dibeli dan dijual pun ikut turun.
Berdasarkan rencana, pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Harga bensin Premium turun menjadi Rp 7.150 per liter dari harga semula Rp 7.300 per liter. Sedangkan harga Solar turun menjadi Rp 5.950 per liter dari harga sebelumnya Rp 6.700 per liter. Perubahan harga ini berlaku mulai 5 Januari 2016.
Menteri ESDM Sudirman Said di Istana Negara, Rabu (23/12/2015) lalu menjelaskan, perubahan harga ini mempertimbangkan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Ia menyebutkan, harga ekonomi premium semula Rp 6.950 per liter. Pemerintah memungut dana untuk ketahanan energi sekitar Rp 200 untuk Premium sehingga harganya menjadi Rp 7.150.
Sementara untuk harga Solar turun menjadi Rp 5.950 per liter. Hal itu mempertimbangkan harga keekonomian sebesar Rp 5.650 per liter dan menambahkan dana pungutan untuk ketahanan energi Rp 300 sehingga harganya menjadi Rp 5.950 per liter. Penurunan harga Solar yang lebih besar, mengingat Solar sebagian besar dikonsumsi untuk angkutan umum dan industri.
Harga baru untuk Premium dan Solar itu mulai berlaku pada 5 Januari 2016 untuk memberikan kesempatan kepada para distributor dan SPBU, pengecer untuk menghabiskan stok dan memberikan kesempatan Pertamina lakukan persiapan dan penataan sistem.
Lihat juga...