SELASA, 19 JANUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Ebed De Rosary
MAUMERE—Aktivitas gunung Egon di kecamatan Mapitara sekitar 50 kilometer wilayah timur kabupaten Sikka sudah masuk dalam kategori bahaya. Pengukuran ambang batas gas SO2 dan H2S hingga kemarin, Minggu (17/01/2016) sudah mencapai angka 12 PPM. Hal ini menyebabkan pos pemantau gunung api Egon sudah mengeluarkan larangan bagi warga untuk melintasi jalur Blidit menuju Mapitara melewati lereng gunung Egon.
![]() |
|
Pengendara motor masih melintasi jalur Blidit-Mapitara meski sudah dilarang
|
Hal ini disampaikan petugas pos pemantau gunung api Egon,Edi Ruhaedi kepada rekan media dan para pejabat tinggi pemerintahan, Kapolres, Dandim dan Wadanlanal Maumere, Senin (18/01/2016) di pos pemantau gunung api Egon di Desa Nangatobong, Kecanatan Waigete. Dikatakan Edi,untuk gas beracun tersebut ambang batas yang bisa dihirup manusia adalah 2 PPM sementara hasil pengukuran di jakur pendakian andalan perbatasan antara Dusun Blidit, Kecamatan Waigete dan Dusun Baokrenget Kecamatan Mapitara sudah masuk ke angka 12 PPM.
“Kemarin kami rekan sudah mencapai 12 PPM di sungai Wairheler sehingga sudah masuk kategori berbahaya bagi keselamatan. Kami tidak melanjutkan pengukuran dan langsung menjauh dari lokasi,”ujar Edi.
![]() |
| Jembatan dan kali mati di jalur jalan Blidit-Mapitara tempat gas beracun tercium |
Edi menambahkan,gasi itu sendiri lebih berat dari udara apalagi tidak ada sinar matahari membuatnya turun ke tanah dan dihirup manusia langsung. Untuk sementara potensinya sudah berbahaya dan pihak pos pemantau masih merencanakan untuk mengecek setiap dua kali sehari pagi dan sore.Alat rekam juga tambah Edi sudah ditambah dan dipasang di sekitar lokasi Andalan dengan jarak sekitar 2,5 kilometer dari puncak gunung.Dari data analog dan digital sambungnya, memang cenderung gempa vulkanik mengalami penurunan bila dibandingkan awal minggu lalu, Selasa (12/1/2016) yang menyebabkan kepanikan warga.
“Aktifitas gunung Egon memang turun tapi masih dalam kategori bahaya. Tidak bisa dikatakan aman karena bisa saja dia masih mengumpulkan energi dan bersiap meletus,”ungkapmya.
![]() |
| Edi Ruhaedi (kiri) petugas pos pemantau gunung api Egon saat memberikan penjelasan kepada Camat Waigete Vel da Cunha dan Dandim 1603 Sikka, Letkol (Arh) Sattya Wardhana. |
Dari jumlah gempa papar Edi,memang masih di atas ambang batasnya Egon,frekvensinya juga makin rendah namun gempanya sudah ke permukaan. Untuk situasi normal beber Edi, dalam sebulan kadang-kadang tidak terjadi gempa vulkanik namun kondisi sata ini, dalam sehari bisa terjadi gempa 300 sampai 500 kali.Dengan munculnya gas itu memang sudah ada tanda, ada peningkatan aktifitas. Kalau dari gejala alamnya sambung Edi, hewan yang ada di wiayah sekitar gunung mulai keluar dari kawasan hutan.
“Kami menghimbau warga masyarakat yang biasa melintas di jalur tersebut untuk tidak boleh melintas lagi karena gasnya sudah masuk kategori membahayakan keselamatan manusia. Kami tidak yakin aman meskipun memakai masker,” tuturnya.
![]() |
| Bupati Sikka,Wabup Sikka,Kapolres Sikka serta Wadanlanal Maumere (kakan ke kiri) saat mendengarkan penjelasan dari petugas pemantau pos gunung api Egon |
Pos pemantau gunung api Egon papar Edi sudah melarang agar masyarakat jangan melintas namun masih ada saja warga yang melintasi jalur jalan ini karena jaraknya lebih dekat untuk sampai ke Mapitara.Kalau sudah melebihi ambang batas dan di atas angka 50 PPM bisa menyebabkan kematian. Pihaknya ungkap Edi sudah berkali-kali meminta agar tidak boleh melintas tapi masih ada warga yang masih melintasi jalur ini.
Bupati Sikka, Drs.Yoseph Ansar Rera bersama pejabat pemeirintah dan Kapolres, Dandim serta Wadanlanal pun langsung memutuskan agar jalur tersebut ditutup mulai Selasa (19/01/2016). Sebaiknya sebut Bupati Ansar, mulai besok pagi tidak boleh ada orang yang melintas.Jalur dari Maitara di selatan maupun Blidit di utara akan ditutup dan diberi tulisan ada gas beracun.
“Tapi hari ini kita lewat dahulu untuk memastikan apakah memang baunya semakin menyengat atau tidak apalagi kita mau meninjau ke posko. Nanti pulangnya baru kita lewat jalur lain di selatan,”pungkas bupati Ansar.
Disaksikan Cendana News, selama melintasi jalur ini bersama rombongan bupati, Senin (18/01/2016) masih tercium bau belerang yang menyengat dan gas beracun namun tidak separah beberapa hari sebelunnya. Hujan yang mengguyur wilayah seputar gunung Egon selama dua hari belakangan membuat aroma gas mulai berkurang meski masih menyengat saat mendekati puncak gunung dalam radius 2 samoai 2,5 kilometer dari puncak gunung Egon.
Kendaraan yang melintasi jalur jalan ini pun masih banyak. Cendana News mencatat,selama melewati ruas jalan ini terdapat 3 mobil bak terbuka dari arah Mapitara melintas membawa warga yang hendak menjual hasil kebun ke kota Maumere.Selain itu juga terdapat 10 motor yang melintas dari arah Mapitara bahkan ada satu motor yang membawa balita.
Tampak hadir meninjau langsung lokasi gas beracun dan jalur jalan yang dilarang serta posko pengungsian, Bupati Sikka, Drs.Yoseph Ansar Rera, Wakil Bupati Sikka, Drs.Paolus Nong Susar, Kapolres Sikka,AKBP I Made Kusuma Jaya, SIK,SH, Dandim 1603 Sikka, Letkol(Aeh) Sattya Wardhana, Wadanlanal Maumere,Letkol Wens Kapo, Kabag Humas Sikka, Germanus Goleng, Kasat Pol PP Sikka, Frederick Edmundantes, Camat Waigete Vel da Cunha.


