Dua Hari Berada di Posko Pengungsian, Fasilitas Pendukung Masih Disiapkan

SELASA, 19 JANUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary

MAUMERE—Warga desa Egon Gahar yang sudah dievakusi akibat meningkatnya aktifitas gunung api Egon sejak kemarin, Minggu (17/01/2016) dan menempati dua posko pengungsian di kantor camat Mapitara Desa Hebing dan pasar di desa Natakoli masih kekurangan beberapa fasilitas pendukung.Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Sikka masih melakukan pembenahan dan pengadaan berbagai fasilitas penunjang yang dibutuhkan pengungsi.


Lusia Lora,warga Dusun Baokrenget yang ditemui Cendana News di posko pengungsian kantor camat Mapitara, Senin (18.01.2016) mengatakan,selama dua hari semua pengungsi masih tidur di tenda beralaskan terpal.Tanah tempat lokasi didirikan tenda adalah tanah kapur dan dipenuhi batu kerikil sehingga menjadikan badan terasa sakit. Selain itu sebut Lusia,anak-anak dan orang tua renta juga tidur di tanah tanpa disiapkan kasur.
“Kami sudah minta kasur tapi kata petugas BPBD mereka akan membagikannya hari ini.Tadi waktu ada pertemuan dengan bupati dan para pejabat kami sudah sampaikan juga soal ini,”ujar Lusia.
Tenda pengungsian yang dibangun di halaman kantor camat Mapitara
Keluhan senada juga disampaikan Yasinta Mita warga dusun Welin Watut yang ditemui di tempat yang sama.Yasinta meminta agar MCK dan air bersih perlu ditambah sehingga para pengungsi tidak mandi atau buang air besar di rumah warga sekitar atau di kali yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat pengungsian.Untuk bayi, pinta Yasinta,harusnya disiapkan susu kaleng dan bubur karena para pengungsi tidak bisa keluar dari pokso pengungsian untuk membelinya.
“Kasihan anak-anak bayi,mereka butuh susu dan bubur bayi.Makanan mereka harusnya disiapkan karena mereka belum bisa makan nasi,”ungkap Yasinta.
Akibat ketiadaan susu dan bubur bayi,bayi-bayi diberi makanan nasi yang dihaluskan dicanur dengan sayuran atau mie.Selain itu Yasinta juga mengeluhkan tidak adanya kasur dan bantal sehingga membuat anak-anak balita harus tidur di lantai beralaskan kain sarung atau tmpukan pakaian.Mie untuk makan harapnya jika memungkinkan diganti dengan yang lebih baik seperti sayuran atau ikan.
Yasinta Mita(kanan) dan Lusia Lora (kedua kanan) bersama para pengungsi di posko pengungsian kantor camat Mapitara.
Bupati Sikka,Drs.Yoseph Ansar Rera dalam penjelasan kepada pengungsi juga mengakui hal ini. Dikatakan Ansar,memang masih banyak yang belum sempurna seperti ketersediaan air minum dan makanan yang masih kurang.Selain itu, WC dan kamar mandi juga baru dibangun dua unit. Ansar meminta para pengungsi bersabar karena baru dua hari mengungsi sehingga pihaknya masih membenahi berbagai kekurangan.
Sivanus Tibo,SH,Msi mantan kepala BOBD Sikka yang ditugasi mengurusi pengungsi mengatakan,untuk MCK idelanya satu tenda harus dibangun 10 unit sementara saat ini baru dibangun dua unit di posko pengungsian di kantor camat.Setelah ada pengecekan oleh tenaga teknis, struktur tanah tidak bagus untuk kontruksi MCK yang sudah dipasang sehingga akan diganti dengan model protabel.Radio komunikasi yang rusak juga tambah Sil sapaan akrabnya,sedang dieprbaiki oleh tenaga teknis yang didatangkan dari Bajawa.
Anak-anak dan balita masih tidur di tanah beralaskan terpal di posko pengungsian kantor camat Mapitara
Terkait kekurangan air bersih tambah Sil, pihaknya menyiapkan 2 mobil tangki yang siaga di pokso dan bila airnya habis akan diambil lagi.Terkait permintaan kasur, Sil katakan bahwa kasur sudah disiapkan tapi karena stock terbatas maka akan dibagi dengan memprioritaskan untuk bayi dan orang tua rentan. Parit di sekeliling tenda papar Sil akan digali sehingga air hujan tidak masuk ke dalam tenda pengungsian.
“Segala kekurangan akan kita benahi dan kita sudah siapkan juga dengan kelompok siaga bencana yang di desa yang sudah terlatih untuk membantu kami,”ungkap Sil.
Para pengungsi di posko pengungsian Pasar Natakoli
Disaksikan Cendana News di lokasi pokso pengungsi di kantor camat Mapitara para pengungsi masih tidur di lantai beralaskan terpal.Terdapat dua tenda terpal dibangun di lokasi ini untuk menampung pengungsi. Kondisi pengungsi di pasar Natakoli masih lebih baik karena mereka tidur di atas tempat jualan yang sudah disemen dan dua los pasar selebar ± 4 meter dan panjang ± 8 meter sudah beratap seng.
Evakuasi pengungsi tergolong terlambat sebab pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi Bandung sudah merekomendasikan agar warga yang tiggal dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung Egon harus dievakusi Rabu (13/01/2016) namun Pemda Sikka baru melakukan evakuasi pada hari Minggu (17/01/2016) atau 4 hari sejak dikeluarkannya rekomendasi tersbut.
Lihat juga...