Dianggap Sesat, Ini Jawaban Penganut Keyakinan Wetu Telu

MINGGU, 17 JANUARI 2016
Jurnalis: Turmuzi / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Turmuzi

LOMBOK UTARA—Ketua Lembaga Adat Sebaye, Karang Bajo, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB), Rianom mengatakan, terjadi kesalahan pemahaman tentang keyakinan Wetu Telu yang dijalankan masyarakat adat Bayan dan Karang Bajo sebagaimana yang banyak dipahami masyarakat kebanyakan selama ini.

Tokoh Adat 

“Terjadi kesalahfahaman dari masyarakat tentang konsep wetu telu yang diyakini masyarakat adat Bayan dan Karang Bajo KLU, Wetu Telu bukan melaksanakan Shalat tiga kali sehari, tapi konsep Wetu Telu tetap ada unsur keyakinan tentang budaya dan kearifan lokal, kami tetap shalat lima waktu sebagaimana umat muslim lain” kata Rianom di Lombok Utara, Minggu (17/1/2016).
Dikatakan, Wetu Telu itu sendiri bermakna mentiok, mentelok dan menganak yaitu dengan berkunjung ke tempat sakral, memohon keselamatan bagi tumbuh, melahirkan bagi manusia dan bertelur bagi binatang
Untuk ibadah, kami tetap melaksanakan shalat lima waktu sebagaimana umat muslim lain Tetap melaksanakan ibadah seperti warga lain seperti shalat, puasa termasuk sahadat juga sama tidak ada yang berbeda.
“Jadi pandangan masyarakat luar yang menganggap masyarakat adat Bayan dan Karang Bajo sesat karena hanya melaksanakan shalat hanya tiga kali sehari, itu jelas tidak benar” ungkapnya
Lebih lanjut, Rianom menjelaskan, hanya saja dari lima rukun Islam yang ada, hanya tiga yang sering kami laksanakan syahadat, shalat lima waktu, puasa dan mengeluarkan zakat, kalau haji kami tidak laksanakan, karena tidak mampu.
Lihat juga...