BULOG Siap Menjaga Ketersediaan, Keterjangakauan dan Stabilitas Harga Beras

KAMIS, 21 JANUARI 2016
Jurnalis: Eko Sulestyono / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Eko Sulestyono

NASIONAL—Pemerintah Indonesia sudah berupaya sedemikian rupa untuk menjaga ketahanan pangan, terutama ketersediaan stok beras, keterjangkauan harga beras dan stabilitas harga beras. Karena bisa dikatakan hampir 99 % penduduk Indonesia sangat tergantung pada komoditas bahan pangan pokok yang berasal dari beras.

Suasana jumpa pers di Kantor Perum BULOG di Jakarta

Tantangan untuk menjaga ketahanan pangan, khususnya ketersediaan beras kedepannya akan semakin berat, salah satunya karena laju pertumbuhan penduduk di Indonesia semakin lama semakin bertambah banyak.
Sayangnya laju pertambahan jumlah penduduk secara nasional tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber-sumber produksi tanaman pangan (beras) yang memadai.
Sementara itu, sering berjalannya waktu, semakin lama tidak mudah untuk mencari lahan perkebunan dan pertanian barau yang sangat memadai. Belum lagi gangguan dari perubahan iklim yang ekstrem, seperti fenomena alam kering (EL NINO) dan fenomena alam basah (LA NINA).
Berdasarkan data yang dirilis United States Department of Agriculture (USDA) pada bulan September 2015, volume produksi beras tahun 2014-2015 di seluruh dunia diperkirakan sebesar 477,1 juta ton atau mengalami penurunan sekitar 1,1 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama Perum BULOG, Gatot Kusumayakti
Sedangkan untuk konsumsi beras secara internasional (Global), prosentasenya cenderung naik sebesar 0,84 % atau sekitar 488,8 juta ton. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dari tahun lalu yang hanya sebesar 484,7 juta ton.
Tiongkok (China) menduduki peringkat pertama untuk konsumsi beras dunia, peringkat kedua adalah India dan yang ketiga adalah Infonesia. USDA memperkirakan akan terjadi kenaikan permintaan beras dari Tiongkok sebesar 6 juta ton, dan juga beberapa negara lainnya, seperti Indonesia, Malaysia, Iran, Irak dan Filipina.
“Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi Gabah Kering Giling (GKG) secara nasional pada tahun 2015 sesuai dengan ARAM I BPS sebesar 75,55 juta ton GKG atau mengalami kenaikan sekitar 4,70 juta ton, presentasinya naik sebesar 6,64 % dibandingkan tahun 2014” demikian dikatakan Gatot Kusumayakti, Direktur Utama Perum BULOG, saat jumpa pers di Kantor Pusat Bulog, kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (21/01/2016).
Gatot Kusumayakti mengatakan “Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah berbuat banyak dan telah berupaya semaksimal mungkin untuk menggenjot produksi demi mencapai swasembada pangan (beras) yang sebelumnya telah dicanangkan oleh Kementrian Pertanian (Kementan)” terang Direktur Utama Perum Bulog di kantornya.
Gatot Kusumayakti menambahkan, Perum BULOG telah berkomitmen dan berusaha untuk meningkatkan kualitas beras rakyat sejahtera (Beras Raskin) antara lain dengan cara :
1. Meningkatkan pengawasan atas pemeriksaan kualitas dan kuantitas Beras Raskin, baik saat pengadaan maupun maupun selama masa penyimpanan.
2. Melakukan penyortiran pada saat pengeluaran beras oleh tim surveyor independen dibantu TIm Divisi Regional Perum Bulog.
3. Bekerja sama dengan Tikor Raskin setempat untuk pengecekan kualitas dan kualitas, baik sebelum dan saat proses penyaluran beras.
4. Monitoring (pengawasan) dan evaluasi pemeriksaan kualitas dan kuantitas Beras Raskin  secara berkala (periodik).
5. Manajemen ISO di gudang Bulog merupakan salah satu penerapan ISO sesuai dengan standardisasi nasional pergudangan bersama dengan tim independen.
6. Pembersihan dilakukan setiap bulan, sedangkan fumigasi dilakukan setiap tiga bulan sekali, meliputi area di dalam atau di luar gudang dan pembersihan lingkungan pergudangan.
7. Memberikan kesempatan kepada pelaksanaan Raskin di titik-titik distribusi untuk menukar berasnya, apabila ditemukan beras dengan kualitas yang kurang baik.
Lihat juga...