Berdayakan Masyarakat Pesisir, An Nahl Latih Budidaya Lebah

RABU, 13 JANUARI 2016
Penulis: Henk Widi / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Henk Widi 

CATATAN JURNALIS—Potensi kawasan Pesisir Pantai Timur Kabupaten Lampung Selatan dimanfaatkan oleh kelompok pemberdayaan kehutanan sebagai lahan potensial untuk pemberdayaan masyarakat. Kawasan pesisir pantai Timur Sumatera yang merupakan kawasan hutan bakau serta kawasan Hutan Register I Way Pisang seluas 500 hektar hingga kini masih dipertahankan warga sebagai kawasan konservasi dan menjadi kawasan untuk penahan gelombang air laut.

R. Mulyono
Fungsi lain yang dimanfaatkan warga pesisir pantai Timur Sumatera seperti dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH) An Nahl untuk budidaya lebah madu yang salah satunya memanfaatkan hutan bakau. Bersama puluhan kelompok tani lainnya Kelompok Tani Hutan An Nahl melakukan kegiatan usaha produktif perlebahan mulai dari budidaya hingga paska produksi. Kreatifitas kelompok tani hutan tersebut pun diganjar manis dengan perolehan bantuan dari pemerintah kepada kelompok tani hutan tersebut berupa bangunan fisik.
Menurut Ketua Kelompok KTH An Nahl R.Mulyono bangunan pos penyuluhan kehutanan pedesaan merupakan bantuan dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Pemberian bantuan berupa pos penyuluhan kehutanan pedesaan tersebut merupakan anggaran Kementerian di tahun 2015 dengan anggaran Rp20juta dan khusus  Rp12,5juta untuk fisik.
“Bangunan pos penyuluhan kehutanan pedesaan dibangun untuk kepentingan kelompok tani perlebahan bahkan boleh digunakan oleh kelompok tani lainnya untuk kegiatan pelatihan atau penyuluhan,” ungkap R Mulyono kepada Cendana News disela-sela peresmian gedung Pos Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (Posluhutdes) Rabu (13/1/2016).

Menurut R Mulyono saat ini ada sekitar puluhan anggota kelompok usaha produktif perlebahan di seluruh Provinsi Lampung  bahkan telah mampu memproduksi sekitar 1-2 ton perbulan yang ditampung oleh  Kelompok Tani Hutan (KTH).  Hasil produksi kelompok tani hutan selain madu yang saat ini dihasilkan oleh kelompok tani An Nahl diantaranya madu,
Dari ratusan kelompok tani hutan yang ada di Indonesia  menurut R Mulyono sebanyak 20 KTH di seluruh Indonesia yang telah terverifikasi dan layak sebagai kelompok tani hutan yang memanfaatkan hasil hutan non kayu. 
Ia juga mengungkapkan bantuan kepada KTH tersebut diwujudkan dengan membangun Pos Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (Posluhutdes) di Desa Pematang Pasir Kecamatan Ketapang Lampung Selatan Kabupaten Lampung Selatan.
“Potensi serta produksi kelompok tani hutan An Nahl serta pemberdayaan ke puluhan kelompok tani di Lampung membuat kelompok ini terpilih dan mendapat bantuan untuk bangunan pos penyuluhan pedesaan,”ungkap Mulyono.
Peresmian penggunaan Posluhutdes tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Pematang Pasir, Perwakilan dinas kehutanan Lampung Selatan, Badan Ketahanan Pangan Lampung Selatan serta perwakilan Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Perkebunan Lampung Selatan serta beberapa perwakilan anggota kelompok tani hutan di wilayah tersebut.


Potensi Lebah Madu Menjanjikan
R Mulyono yang puluhan tahun menekuni usaha budidaya perlebahan serta pelatihan kepada kelompok tani hutan di Provinsi Lampung, lebah tidak hanya dapat menghasilkan madu. Namun lebah juga dapat menghasilkan beberapa produk, di antaranya royal jeli, bee pollen, lilin batik (malam), dan yang sekarang sedang tren adalah terapi sengat lebah.
“Apapun yang dihasilkan lebah mampu mengobati berbagai macam penyakit dan dapat menambah stamina tubuh. Bagi penderita diabetes tidak perlu takut untuk mengkonsumsi, karena madu hanya mengandung kadar glukosa 2,3 persen. Sedangkan gula mencapai 10 persen, lebih tinggi kadar glukosanya, “ terangnya.
Kecintaannya pada lebah madu jenis aphis cerana ini,  membuat peternak lebah asal Lampung Selatan terdorong untuk menularkan ilmunya kepada orang lain. Bahkan ia  sudah mampu membina kelompok peternak lebah di berbagai tempat. Total ada sekitar 117 Kelompok binaannya di beberapa kabupaten di Lampung. Di antaranya Kabupaten Way kanan, Tanggamus, Pesawaran, dan Lampung Barat.
Saat ini  permintaan dari perusahaan jamu dan kecantikan selalu datang kepadanya. Bahkan  per bulan meminta kiriman madu lebih dari dua ton kepada Mulyono. Perusahaan jamu dari Semarang, Yogyakarta, dan Solo sudah menjadi langganannya. Tentunya ini merupakan peluang usaha yang sangat menjanjikan. Untuk mengatasi hal tersebut ia bekerjasama dengan para peternak lebah lain dari wilayah Lampung yang rata-rata adalah binaannya.
Potensi budidaya lebah yang cukup menjanjikan tersebut tak lantas membuat tetangganya tertarik budidaya lebah. Sehingga tak jarang lebah yang yang bersarang di rumah, pohon, tempat-tempat yang disukai lebah sering dibakar atau diusir dari sarangnya. Itu sebab ia memberikan pelatihan kepada anak-anak bagaimana bersahabat dengan lebah.
Uniknya, melihat potensi lebah di hutan-hutan di Lampung Selatan yang belum dimaksimalkan, untuk menyiasatinya ia mengadakan “sayembara” khusus anak-anak yang berhasil menemukan sarang lebah di manapun. Untuk anak-anak saya umumkan barangsiapa berhasil menunjukkan sarang lebah di manapun, di pohon, di rumah, atau tempat yang jadi sarang lebah. Akan diberikan uang Rp 5.000,-. Pernah ada empat anak dalam sehari datang, mereka datang dan mengaku melihat sarang lebah, pada sebuah lubang di pohon kelapa.
Jadi setiap anak yang datang diberi imbalan uang Rp 5.000,- baru keesokan harinya keempat anak tersebut diminta menunjukkan lokasinya, ternyata keempat anak tersebut menunjukkan lokasi yang sama yaitu di sebuah pohon kelapa. Hal tersebut dilakukan agar anak-anak tidak takut terhadap hewan penyengat itu.
Penyuluhan manfaat madu yang diberikan oleh kelompok tani An Nahl dibawah binaan R Mulyono terbukti telah memberikan dampak positif bagi warga dalam hal memberikan nilai tambah ekonomis bagi masyarakat. Mulyono dan seluruh pihak terkait dalam budidaya lebah madu terus berharap konservasi hutan kawasan bisa memberi nilai tambah secara ekonomis disamping pekerjaan pokok masyarakat yang sebagian besar adalah bertani.
Lihat juga...