Asrama Transito Surabaya Penuh, eks Gafatar Dipulangkan ke Kampung Halaman

SENIN, 25 JANUARI 2016
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Charolin Pebrianti

SURABAYA—Asrama Transito Jalan Margorejo No. 74 Surabaya dipilih sebagai tempat penampungan sementara eks aggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) setelah mereka dipulangkan dari Kalimantan Barat. Mereka mulai menempati tempat penampungan sejak Sabtu (23/1/2016).


Penampungan sementara tersebut dianggap tidak cukup memadai ditambah lagi, hari ini, sebanyak 147 jiwa akan kembali menempati penampungan. Sehingga total keseluruhan eks Gafatar yang telah tiba di Surabaya sebanyak 721 jiwa. Sementara daya tampung normal Asrama Transito hanya 500-600 orang.
Jumlah tersebut terlalu banyak untuk tinggal di Asrama Transito. Maka solusi satu-satunya adalah memulangkan mereka ke kampung halamannya sesegera mungkin. Hal ini disampaikan oleh Kadistransdik (Kepala Dinas Transmigrasi dan Kependudukan) Jatim, Sukardo yang ditemui Cendana News di Asrama Transito pada Senin (25/1/2016).
Terkait pemulangan eks Gafatar ke kampung halamannya, pemerintah kabupaten dan kota mengirimkan bus untuk membawa warganya dari Surabaya. Dilaporkan, sebanyak 180 eks Gafatar telah dijemput pada hari Minggu (24/1/2016). 
Data lengkap jumlah anggota eks Gafatar yang telah dijemput pada hari Minggu kemarin adalah sebagai berikut :
1. Kab. Lamongan dipulangan 6 Jiwa (3 Kepala Keluarga)
2. Kota Mojokerto dipulangkan 4 Jiwa (1 Kepala Keluarga)
3. Kabupaten Mojokerto 23 Jiwa (6 Kepala Keluarga) 
4. Kabupaten Sidoarjo 16 Jiwa (6 Kepala Keluarga)
5. Kabupaten Nganjuk 12 Jiwa (3 Kepala Keluarga)
6. Kabupaten Ngawi 3 Jiwa (1 Kepala Keluarga)
7. Kabupaten Jombang 19 Jiwa (4 Kepala Keluarga)
8. Kabupaten Gresik 27 Jiwa (6 Kepala Keluarga)
9. Kabupaten Blitar 24 jiwa (5 Kepala Keluarga)
10. Kabupaten Trenggalek 5 jiwa (1 Kepala Keluarga)
11. Kabupaten Pasuruan 30 jiwa (7 Kepala Keluarga)
12. Kabupaten Bojonegoro 11 jiwa (4 Kepala Keluarga)
Menurut Sukardo, eks Gafatar asal Surabaya berjumlah 128 jiwa namun belum dipulangkan karena harus menunggu keputusan Pemerintah Kota Surabaya. 
Kondisi penampungan yang penuh sesak diakui tidak nyaman oleh salah satu eks Gafatar yang tidak berkenan menyebutkan namanya. Ia hanya mengatakan mesikipun kebutuhan dicukupi oleh pemerintah. “Apalagi saya punya anak yang masih kecil-kecil, yang pertama usia 4 tahun dan yang kecil usia 1 tahun 6 bulan,” ujar ibu muda asal Kota Malang ini. 
Ia mengaku siap dipulangkan, karena itu lebih baik jika dibandingkan dengan tinggal di penampungan. “Saya dan keluarga ingin cepat bertemu dan berkumpul lagi dengan keluarga saya yang ada di Malang,” tegasnya. 
Lihat juga...