RABU, 20 JANUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Ebed De Rosary
MAUMERE—Sebanyak 4 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 8 jiwa asal Dusun Baokrenget, Desa Egon Gahar belum mengungsi ke posko pengungsian. Sementara itu sebanyak 22 KK atau 112 jiwa sudah mengungsi sebelum dilaksanakan evakuasi oleh pihak Pemerintah Kabupaten Sikka. Warga yang sudah terlebih dahulu evakuasi mandiri ini menetap di rumah sanak saudara mereka di Kampung Urut, Desa Natakoli kecamatan Mapitara.
![]() |
|
Drs.Bakri Kari, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sikka
|
Hal ini disampaikan Drs. Bakri Kari, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sikka saat ditemui Cendana News, Rabu (20/01/2016). Dikatakan Bakri, sejak hari pertama dilaksanakan evakuasi Minggu (17/01/2016) hingga Rabu (20/01/2016), sudah sebanyak 208 KK atau 928 jiwa yang tersebar di tiga dusun di Desa Egon Gahar yang sudah dievakuasi.
Dari jumlah tersebut, pengungsi yang berada di posko kantor camat Mapitara sebanyak 90 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 432 jiwa. Jumlah tersebut terdiri atas 43 KK atau 212 jiwa warga dusun Baokrenget sementara sisanya 47 KK atau 220 jiwa merupakan warga dusun Welin Watut.
Sementara itu tambah Bakri, di posko pengungsian Pasar Natakoli warga yang sudah dievakuasi terdiri atas 104 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 435 jiwa yang merupakan warga Dusun Lere. Sisanya 2 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 5 orang adalah warga Dusun Welin Watut serta 12 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 56 jiwa merupakan warga Dusun Baokrenget.
![]() |
| Para pengungsi yang berada di posko pengungsian pasar Natakoli |
Yang belum dievakusi sebanyak 4 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 8 orang yang berasal dari Dusun Baokrenget. Selain itu juga tercatat 22 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 112 orang yang mengungsi ke Kampung Urut, Desa Natakoli. Ada juga yang sudah mengungsi ke Maumere namun kata Bakri mereka sudah kembali ke posko pengungsian.
“ Kalau yang mengungsi ke Natakoli mereka mengungsi secara mandiri dan menetap di rumah sanak saudara mereka,” ujar Bakri.
![]() |
| Para pengungsi yang berada di posko pengungsian pasar Natakoli |
Bantuan logistik seperti makanan dan minuman sudah didistribuskan dan tidak masalah. Yang menjadi persoalan sebut Bakri, pihaknya masih kekurangan kasur dan bantal serta masih dilaksanakan pembangunan MCK portabel di lokasi posko pengungsian. Untuk bantal lanjut Bakri, pihaknya masih kekurangan banyak sebab secara ideal dibutuhkan 928 bantal sesuai jumlah pengungsi yang ada namun BPBD Sikka baru mendistribusikan 72 bantal.
“ Kami masih kekurangan banyak bantal dan kasur sehingga kami prioritaskan bantuan yang ada sementara diberikan bagi anak-anak balita dan orang tua renta seraya menunggu pengadaan selanjutnya,” terang Bakri.
![]() |
| Rumah warga dusun Baokrenget yang sudah dibiarkan kosong dan warganya mengungsi ke posko pengungsian |
Untuk di posko kantor camat papar Bakri pihaknya membangun dua tenda sementara dan saat ini sedang dilihat kemungkinan untuk membangun tenda lagi. Sementara itu di Pasar Natakoli kata Bakri, para pengungsi tidur di los pasar beratap seng berlantai semen dengan dilapisi terpal beratap. Bagian samping los pasar juga ditutupi terpal.
Mariana Edvina pengungsi asal Dusun Lere yang ditemui Cendana News di posko pengungsian Pasar Natakoli, Selasa (19/01/2016) mengaku para pengungsi cukup mendapatkan pelayanan makan dan minum. Mariana mengaku belum mendapat bantal dan kasur sehingga 4 orang anaknya yang masih berumur dibawah 10 tahun harus tidur di lantai semen beralaskan terpal.
Mariana juga mengaku di posko pengungsian yang ditempati pada hari pertama belum disediakan piring sehingga pengungsi memakai daun pisang sebagai wadah pengganti piring. Namun sejak Selasa (19/01/2016) sudah ada piring namun jumlahnya masih terbatas. Jadi piring yang ada diprioritaskan bagi anak-anak balita dan orang tua renta saja sementara yang lainnya masih memakai daun. Namun Mariana tidak mempersoalkan hal ini dan berharap agar paling lama satu dua hari ke depan pelayanan sudah semakin baik.


