303 Murid SD di Posko Pengungsian Gunung Api Egon Belum Sekolah

RABU, 20 JANUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary

MAUMERE—Sebanyak 303 murid sekolah dasar asal Desa Egon Gahar, Kecamatan Mapitara , Kabupaten Sikka yang berada di posko pengungsian belum melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Sikka masih melakukan kordinasi dengan kepala sekolah SDN Natakoli dan SDN Galit agar para murid yang mengungsi bisa bersekolah di kedua sekolah ini.

Anak-anak sekolah dasar yang berada di posko pengungsian pasar Natakoli.

Hal ini disampaikan Marianus A.Anti, sekertaris dinas PPO Kabupaten Sikka yang ditemui Cendana News, Rabu (20/01/2016). Dikatakan Marianus, setelah ada gempa akibat meningkatnya aktifitas Gunung Api Egon, para murid dan guru mengungsi secara mandiri ke desa tetangga dan ke kota Maumere. Dinas juga sudah menyampaikan ke kepala sekolah agar secepatnya berkordinasi agar kegiatan belajar mengajar segera terlaksana.
“Kemarin kepala sekolah sudah datang ke dinas dan kami sampaikan agar secepatnya mempersiapkan diri dengan berkordinasi dengan kedua sekolah tersebut agar bisa mempergunakan sekolah tersebut untuk sementara,”ujar Marianus.
Marianus berharap agar dalam minggu ini semuanya sudah dikordinasikan dan sudah disebarluaskan informasinya agar hari Senin (25/01/2016) kegiatan belajar mengajar sudah bisa dilaksanakan. Terkait berbagai fasilitas yang belum sempat dievakusi, Marianus meminta agar hal ini dikomunikasikan dengan sekolah yang ditempati sementara agar fasilitas yang dimiliki sekolah tersebut bisa dipergunakan sementara waktu.
Kepala Sekolah SDN Baokrenget, Firmus Piru
“Untuk fasilitas kami harap mereka harus berbagi dengan sekolah yang ditempati. Memnang banyak buku pelajaran yang belum sempat dievakuasi. Jam pelajarannya juga dikordinasikan dengan sekolah yang ditempati minimal kegiatan belajar mengajar dilaksanakan jam 2 sampai jam 5 sore,” ungkap Marianus. 
Kepala Sekolah SDN Baokrenget, Firmus Piru yang ditemui Cendana News di lokasi pengungsian, Selasa (19/01/2016) mengatakan, sejak terjadi gempa dan peningkatan status gunung api, kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tetap berjalan meski murid yang hadir hanya setengahnya saja. Aktifitas belajar mengajarnyapun lanjut Firmus hanya 3 jam saja namun pihaknya tetap melaksankan kegiatan belajar mengajar. Namun sejak ada evakuasi penduduk ke posko pengungsian,Minggu (17/01/2016) sekolah ditutup.
“Kami sedang menunggu instruksi dan kordinasi selanjutnya dari dinas PPO.Para guru sudah ada di kantor posko pengungsian dan saya juga sudah menghubungi kepala SDN Galit sehingga masih menunggu tindak lanjutnya,” kata Firmus.
Sekertaris Dinas PPO Kabupaten Sikka,Marianus A.Anti
Untuk para guru, lanjut Firmus, ada dua orang guru yang mengungsi ke kota Maumere dan dirinya sudah menghubungi kedua guru tersebut untuk kembali ke posko pengungsian. Anak-anak sekolah pun kata Firmus sudah diinformasikan untuk menyiapkan perlengkapan sekolah dan seragam agar bila sudah dipastikan waktu kegiatan belajar mengajar dimulai kembali para murid sudah menyiapkan diri.
“para murid dan guru juga sudah kami informasikan sehingga bagi mereka yang masih mengungsi ke tempat lain di luar posko pengungsian diharapkan bisa kembali dan menyiapkan diri untuk kembali melaksanakan aktifitas belajar mengajar,”ungkap Firmus.
Data yang diperoleh Cendana News menyebutkan, jumlah murid di SDN Baokrenget sebanyak 129 murid sementara SDK Lere sebanyak 174 murid. Untuk guru, SDN Baokrenget memiliki 11 orang guru dan seorang kepala sekolah. tenaga pengajar di SDK Lere jumlahnya pun sama dengan SDN Baokrenget. Sebagian besar sudah guru berada di posko pengungsian dan saat ditemui semuanya mengaku siap bila ada instruksi untuk kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Lihat juga...