Puluhan Pengrajin Batu Akik di Kendari Gulung Tikar


KENDARI (31/11/15)—Puluhan pengrajin batu akik di kota Kendari mengalami nasib yang menyedihkan. Mereka terpaksa gulung tikar, setelah omzet penjualan mengalami penurunan drastis sejak dua bulan terakhir ini. 
Lapak penjualan yang terdapat di Paddys Market Mandonga dan lapak pedagang kaki lima (PKL) di area eks gedung PGSD Wua-wua, Kota Kendari, banyak yang kosong. Para pengrajin merasakan dampak terjadinya pelambatan ekonomi yang melanda Negara Indonesia saat ini.

“Pak Jokowi bilang di televisi, Indonesia tidak krisis ekonomi tapi hanya pelambatan. Tapi bagi kami pengrajin, apapun istilahnya pengaruhnya sangat luar biasa,” kata Awi, salah seorang pengrajin batu akik yang membuka lapak di Paddys Market Mandonga.

Pengaruh yang dimaksud Awi, sejak bulan September sampai Oktober ini, pembeli sangat sepi. Bahkan kadang tidak ada pembeli dalam sehari. “Bisa dibayangkan dalam satu hari tidak ada batu akik yang terjual. Kita mau makan apa. Lebih baik lapak ditutup daripada buka tapi tidak ada yang pembeli. Hitung-hitung mengurangi biaya operasional,” bebernya.
Pantauan Cendana News di Paddys Market, dari sekitar 150 pengrajin batu akik yang buka lapak, sedikitnya 60 lapak ditinggalkan kosong. “Teman-teman yang lain memilih tutup, daripada setiap hari buka lapak tapi tidak ada yang laku,” ungkap Majja, pengrajin batu akik.
Hal yang sama dirasakan para pengrajin yang terletak di area eks gedung PGSD Wua-wua, Kota Kendari. Dari 35 pengrajin yang buka lapak, pantauan kemarin siang yang buka lapak hanya 7 orang. 
“Tambah sepi pembeli. Malahan kadang tidak ada sama sekali pembeli dalam sehari. Pusing semua teman-teman pengrajin,” ungkap Bang Arman, panggilan akrab pengrajin batu akik ini.
Ada pengrajin batu akik yang sekarang putar haluan, dengan membuka usaha lain. Usaha batu akik terpaksa ditinggalkan, daripada tidak bisa cari makan buat keluarga di rumah.
Bila dibandingkan semasa masa booming penjualan batu akik di kota Kendari, para pengrajin bisa menghasilkan omzet antara 2 juta sampai 3 juta per hari. Bahkan ada yang sampai 5 juta per hari. Tapi sejak dua bulan terakhir ini, beruntung pengrajin bisa mendapatkan uang 200 ribu.
Material batu akik yang diolah para pengrajin di Kendari, adalah jenis batu Ereke dan Maligano dari Kabupaten Buton Utara. Batu giok warna botol dari Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana. Kemudian batu akik asal Kabupaten Kolaka Utara dan Kabupaten Konawe Utara. Jenis batu tersebut, sangat laris di pasaran pada bulan Maret sampai Agustus tahun lalu. (Editor : Gani Khair)
JURNALIS : RUSTAM

Jurnalis Cendana News wilayah Sulawesi Tenggara. Sebelum bergabung dengan Cendana News sudah menjadi wartawan di beberapa media cetak lokal maupun nasional. Gabung dengan Cendana News Oktober 2015. 
Akun twitter : @rustamcnd 
Lihat juga...