![]() |
| Kepala Dinas Kehutanan NTB, Andi Paramaria |
MATARAM — Kekeringan yang terjadi di sejumlah titik Kabupaten Nusa Tenggara Barat, seperti Kabupaten Lombok Timur bagian selatan, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu selain disebabkan karena musim kemarau, juga karena kerusakan hutan dan pohon besar penyangga air oleh ulah manusia.
“Kekeringan dan krisis air bersih terjadi terutama di daerah yang selama ini menjadi langganan, semata – mata tidak saja disebabkan karena kemarau panjang, tapi juga karena ulah masyarakat sendiri yang terus melakukan pengerusakan terhadap kawasan hutan sebagai penyimpan resapan air hujan, melalui pohon besar yang terdapat di dalamnya,” kata Kepala Dinas Kehutanan NTB, Andi Paramaria di Mataram, Sabtu (25/10/2015).
Andi mencontohkan, di wilayah selatan Pulau Lombok, hutan Sekaroh yang dulunya dikenal sebagai hutan belantara dengan pohon – pohon besarnya dan menjadi penyangga mata air bagi sumber kehidupan masyarakat setempat, sekarang telah menjadi lahan kering dan tandus.
Padahal hutan sekaroh masuk dalam kawasan hutan negara, tapi sekarang telah banyak dijadikan sebagai lahan bercocok tanam dan tempat permukiman oleh warga, parahnya lagi kawasan hutan Sekaroh yang berdekatan dengan pantai Ping banyak sudah disertifikat dan diperjualbelikan oleh warga maupun oknum penjabat.
“Karena itu kalau kemudian terjadi kekeringan dan krisis air bersih seperti sekarang, mau salahkan siapa, karena itu merupakan ulah warga sendiri yang secara membabi buta melakukan aksi pembalakan hutan secara liar,” ungkapnya.
Lebih lanjut Andi menambahkan, upaya menempuh langkah persuasif telah dilakukan, tapi memang sebagian warga malah nekat dan justru melakukan perlawanan terhadap Dishut selaku dinas yang menangani keamanan hutan, karena itu mau tidak mau langkah hukum sekarang ini sedang dilakukan untuk mempidanakan para pelaku pembalakan liar.
SABTU, 24 Oktober 2015
Jurnalis : Turmuzi
Foto : Turmuzi
Editor : ME. Bijo Dirajo