Tekan Kerugian Ulah Tengkulak, Petani Bentuk Kelompok

Petani di Gunung Tanggamus
LAMPUNG — Penetapan harga oleh pedagang dan tengkulak juga membuat petani merasa merugi. Terutama saat panen raya yang mebuat harga semakin anjok yang mengakibatkan hasil yang diterima tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.
Menyikapi keadaan tersebut, petani sayuran di lereng Gunung Tanggamus membentuk kelompok dengan penyaluran lebih terarah serta sistim penanaman yang lebih higienis sehingga dapat cepat diterima pasar.
Salah seorang petani, Jumino (34) mengaku jika bergantung pada harga yang ditetapkan pedagang atau tengkulak. Akibatnya para petani sayur ini tidak memiliki nilai tawar dalam menjual hasil bumi mereka.
“Akhirnya kami mencoba membentuk kelompok petani sayur dengan sistim penanaman lebih heterogen, menjual ke koperasi dan menyalurkannya tanpa tengkulak,”ungkap Jumino yang tinggal di Desa Campang tiga Gisting.
Cara tersebut ditempuh untuk menghindari kerugian petani akibat permainan harga yang diterapkan oleh pedagang. Cara lain yang sedang dikembangkan beberapa petani diantaranya dengan menanam tanaman sayuran organik yang dijual dengan sudah dikemas dan memiliki pangsa pasar supermarket tertentu. Beberapa petani lain pun menanami lahan sayuran mereka dengan tanaman bunga dan menjadikan kawasan pertaniannya sebagai lahan agrowisata sehingga bisa dikunjungi oleh wisatawan.
“Gisting kan banyak pemandian atau kolam renang, kolam pemancingan, beberapa wisatawan dari Bandarlampung atau Pringsewu datang ke sini dan mampir untuk membeli sayuran dan bunga, itu salah satu trik kami untuk menambah penghasilan,”ungkapnya.
Tanaman bunga yang ditanam petani diantaranya bunga Mawar, Sedap malam, aster, melati, serta beberapa bunga petik serta bunga untuk pembuatan karangan bunga atau bunga untuk keperluan ibadah. Jumino mengaku beberapa petani penanam bunga mulai dilirik disela sela tanaman sayuran karena iklim yang cukup baik di wilayah tersebut membuat tanaman bunga bisa tumbuh dengan baik.
Ia dan beberapa petani sayur lain berharap langkah langkah tersebut bisa menjadikan para petani sayur dan bunga di wilayah tersebut lebih sejahtera. Sebab dari hasil penjualan sayuran saja jika harga sedang anjlok tidak mampu menutup biaya tanam, pemupukan, pembelian obat dan tenaga kerja.
“Kami memang bertahun tahun menanam sayuran tapi kami mendapat beberapa penyuluhan, melakukan studi banding ke Bandung Jawa Barat sehingga memperoleh inspirasi,”ungkapnya.
Ia dan beberapa petani lain pun mulai melakukan berbagai terobosan agar nilai jual hasil pertanian mereka lebih tinggi dan menjadikan kawasan mereka tak hanya sebagai sentra pertanian tapi juga kawasan wisata pedesaan.
SABTU, 24 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...