
JAKARTA — Berjalan dari arah Pasar Poncol melewati ruwetnya lalulintas di depan Pasar Senen ternyata membawa Cendana News bertemu dengan Sarwan, seorang tukang air keliling menggunakan gerobak.
Masih segar dalam ingatan di era tahun 1970 sampai 1990 betapa tukang air gerobak keliling sangat diandalkan masyarakat dikarenakan kesulitan mendapatkan air bersih, entah akibat kompleksnya birokrasi pemasangan PAM saat itu atau hal-hal lainnya.
Namun ternyata tukang air gerobak keliling tidak pernah hilang dari sejarah Ibukota. Karena ternyata Sarwan, salah satu tukang gerobak air yang tinggal di daerah Bungur besar masih eksis berkeliling Ibukota menjajakan air bersih dengan gerobak andalannya.
“Saya biasa jual 4,000 rupiah satu pikul isi dua jerigen air, jika mau borong satu gerobak maka saya buka harga 15,000 rupiah bahkan bisa nego sampai 10,000 rupiah untuk langganan. Modal saya per gerobak isi di juragan air adalah 6,000 rupiah satu gerobak, ” papar Sarwan sambil menyeka keringat.
Tempat mengambil air bersih yang disebut Sarwan dengan juragan air hanya tersisa beberapa tempat saja di daerah Senen. Banyak dari mereka beralih usaha atau disegel polisi karena mendapatkan sumber air bersih secara ilegal. Maka Sarwan harus berjalan beberapa kilo dengan gerobaknya ke daerah gunung sahari untuk membeli air bersih dari juragan air yang masih eksis.
Harapan Sarwan kedepannya adalah, masyarakat tetap memakai jasanya. Ia tidak ada keahlian lain selain sebagai tukang air gerobak keliling.
“Saya hanya punya tenaga, saya buta huruf, jadi pekerjaan inilah satu-satunya yang menjadi tumpuan rejeki keluarga dirumah,” ujar ayah dari tiga orang anak serta dua orang cucu ini.


RABU, 2 september 2015
Jurnalis : Miechell Koagouw
Foto : Miechell Koagouw
Editor : ME. Bijo Dirajo