YOGYAKARTA — Berternak ikan ternyata cukup menjanjikan keuntungan. Terlebih saat sekarang ketika teknologi perikanan semakin maju. Semisal, dengan teknologi sistem bioflok yang diterapkan oleh Kelompok Petani Ikan Mulia Catfish di Tegaltirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, yang beberapa waktu lalu dikunjungi Siti Hediati Haryadi yang akrab disapa Titiek Soeharto, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dalam agenda jaring aspirasi. Dengan teknologi tersebut, para petani ikan mampu menghemat lahan kolam dan memaksimalkan hasil panennya.
Dengan berkembangnya teknologi peternakan, beternak ikan menjadi lebih mudah dilakukan. Bahkan, bagi mereka yang tak memiliki lahan kolam yang luas. Dengan teknologi bioflok yang dikembangkan oleh Kelompok Petani Ikan Mulia Catfish di Tegaltirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, ikan lele bisa dibudidayakan di sebuah kolam kecil dari terpal. Efisiensi tempat atau lahan kolam itu bahkan tidak berarti hanya mampu menampung sedikit ikan.
Taufik Nurahman, ketua Kelompok Petani Ikan Mulia Catfish menjelaskan, sistem bioflok pada intinya adalah sebuah alat untuk menambah pasokan oksigen bagi ikan sekaligus mengubah amoniak menjadi bahan pakan alamiah. Dengan adanya alat pemasok atau penyuplai oksigen itu, memungkinkan untuk menampung ikan dalam jumlah banyak dalam sebuah kolam kecil. Sementara itu, bioflok yang juga mampu mengubah amoniak ikan menjadi pakan alamiah, berarti menekan biaya pakan. Di samping itu, lanjut Taufik, sistem bioflok juga mampu menambah nafsu makan ikan sehingga masa panen menjadi lebih cepat.
Sistem bioflok menjadi lebih menguntungkan lagi karena dilakukan dengan sistem padat tebar. Artinya, kolam ikan-kolam ikan berukuran relatif kecil diletakkan saling berdekatan atau padat.
Taufik menjelaskan, dengan sistem bioflok tersebut kolam ikan lele dibuat dari terpal dengan rangka besi dan berbentuk lingkaran berdiameter 1,7 meter. Kolam sekecil itu, katanya, mampu menampung sebanyak 20.000 ekor ikan lele usia 2-3 minggu.
Bioflok yang merupakan alat serupa pompa yang disebut airator digerakkan dengan tenaga listrik. Kendati demikian, Taufik mengatakan, hasil produksi ikan lele dengan sistem bioflok tersebut tetap lebih menguntungkan dibandingkan dengan hasil produksi ikan lele yang dilakukan secara konvesional.
“Dengan sistem bioflok ini perbandingan pakan dan ikan yang dihasilkan bisa jauh lebih efisien dan optimal. Kalau biasanya 1 kg pakan menghasilkan 1 kg daging, maka dengan sistem bioflok ini mampu mengubah perbandingan tersebut menjadi 0,7 kg pakan menghasilkan 1 kg daging ikan”, jelasnya.
Sementara itu Kepala Desa Tegaltirto, Susila Nugraha mengungkapkan, dengan sistem bioflok yang relatif masih baru tersebut Kelompok Petani Ikan Mulia Catfish pun menjadi sentra pembelajaran bagi 20 kelompok petani ikan lele dari berbagai wilayah di Yogyakarta.
Sistem bioflok sendiri, katanya, mulai dicanangkan sejak akhir tahun 2014, lalu. Sedangkan Kecamatan Berbah sejak tahun 2011 telah dicanangkan sebagai kawasan minapolitan.
Dicanangkannya Kecamatan Berbah sebagai kawasan minapolitan, menurut Susilo, karena di kawasan itu sejak semula warganya banyak yang berprofesi sebagai petani ikan. “Dengan dicanangkannya Berbah sebagai kawasan minapolitan itu, puluhan petani ikan di wilayah Berbah menjadi lebih tersruktur dan produktifitasnya meningkat, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya”, pungkasnya.
KAMIS, 10 September 2015
Jurnalis : Koko Triarko
Foto : Koko Triarko
Editor : ME. Bijo Dirajo