JAYAPURA — Berjualan buah selama puluhan tahun, perempuan ini dapat menghidupi lima anak dan berhasil meraih impian memiliki sebuah rumah di Kota Jayapura. Dalam perjalanan hidupnya berjualan, tak jarang ia harus berhadapan dengan warga lokal yang arogan.
Jamilah itulah nama perempuan berdarah Buton, Sulawesi Tenggara yang merantau di ibukota Jayapura, Papua ikuti jejak kedua orang tuanya. Ia mengaku jualannya tersebut warisan dari orang tuanya yang kala itu menginjakkan kaki pertama kali ke Papua untuk berjualan buah.
Jalan Raya Abepura-Entrop, disinilah lokasi penjualannya semenjak 30 tahun lalu ditempatinya mulai dari gubuk tempat tinggal sekaligus tempat berjualan. Sejak usia 8 tahun, ia ikuti orang tuanya berdagang buah-buahan, yang hingga kini ia geluti.
“Saya berjualan sudah lama, mungkin sudah 30 tahun. Dulu setiap pulang sekolah, saya bantu mama berjualan,” tutur perempuan beranak lima ini.
Banyak asam garam, pahit manis yang ia dapati selama berjualan di tanah orang. Kadang, lanjutnya, ia harus menerima kerugian yang banyak dalam sehari, lantaran orang asli Papua yang berkunjung dalam keadaan dipengaruhi minuman keras (Miras), hanya datang mengambil seenaknya buah-buahan yang ia jual, tanpa dibayar.
“Aduh, banyak yang saya rasakan. Kalau orang mabuk datang, alasannya banyak, mulai dari ancaman bahwa dia orang Papua, jadi buah-buahan mereka ambil gratis. Ada juga yang datang dalam keadaan mabuk, dan mengambil buah sampai merusak dagangan saya. Tapi itulah hidup, semua harus saya lalui dengan sabar,” keluhnya.
Sehari, dijelaskannya, hasil penjualan dapat mencapai 1-2 juta. Bahkan, dirinya pernah menjual dagangannya sehari mencapai Rp 3 juta lebih. “Yah, namanya juga rejeki. Kalau lagi ramai, sudah pasti buah-buahan saya seperti pisang, pepaya, semangka, mangga, melon, rambutan dan lainnya pasti laku, tapi kalau sepi, ya.. biasa masuknya hanya Rp 1 juta lebih. Semuanya saya syukuri,” jelasnya.
Kenapa tidak pindah lokasi? Menurutnya lokasi jualan yang ia tempati tersebut adalah warisan orang tuanya, dan dirinya tak ingin berpindah ke lokasi lain, terlebih jika ditempatkan di pasar-pasar yang ada di Kota Jayapura.
“Saya sejak awal tidak ada pikirian untuk pindah ke lokasi lain, saya pilih di sini, lantaran persis berada di samping jalan raya,” ujar perempuan yang selalu tersenyum mengahadapi para pelanggannya ini.
Lapak jualan yang tiap Senin-Sabtu dibuka sekitar pukul 06.30 wit dan ditutup sekitar pukul 12.00 wit tersebut memiliki ciri khas pisang Ambon dan Pisang Tanduk yang dihargai masing-masing Rp 50 ribu. Ia mengaku, setiap bulannya mendapat omset Rp 8-10 juta rupiah.
“Ada juga pepaya dan lainnya, tapi yang paling mahal disini pisang Ambon dan pisang Tanduk,” katanya.
Begitu indahnya hidup yang dijalani ibu beranak lima ini, dengan kesabaran dan ketekunan berbisnis bidang jual buah-buahan ini, perempuan yang masih berlogat buton ini dapat mengumpulkan uang tuk membeli sebidang tanah seharga puluhan juta rupiah dan menyisihkan uang hasil jualannya perbulan tuk membangun rumah secara perlahan-lahan.
“Alhamdulillah, hasil dari jualan, saya kumpulkan tiap bulan dan membeli bahan-bahan bangunan dan pelan-pelan, suami dan anak laki-laki saya. Alhamdulillah, tahun 2011 lalu rumah berhasil dibangun, tapi belum semuanya, Insyallah saya mau bangun 3 lantai, mudah-mudahan rejeki lancar,” tuturnya sambil mengelus dada.
Melihat kegigihan sang ibu, Ramsia anak ketiga Jamilah ini mengaku sangat terharu melihat kegigihan ibu dan ayahnya yang menghidupi dirinya sejak kecil hingga kini telah menikah dan memiliki seorang anak.
“Mama sejak kecil memang sudah berjualan, sampai menikah dengan Bapak, mama tetap berjualan, dan Bapak juga mendukung apa yang mama lakukan, kadang-kadang Bapak juga dengan saya bantu mama menjaga jualan,” kata Ramsia.
Tidak malu berjualan? Dikatakan Ramsia, dirinya tak merassa malu untuk mengikuti jejak mama yang menjadi panutan didalam rumah tangga. “Saya sudah menikah, dan suami saya di kerja di Mamberamo Raya, kalau saya sedniri dengan anak sekrang tinggal dirumah mama. Kena harus malu berjualan, kan kita semua juga cari makan. Cuma berda saja cara mencarinya. Saya ingin jualan ikut jejak mama, sambil membantu suami saya mengumpulkan uang,” tuturnya.
SABTU, 5 September 2015
Jurnalis : Indrayadi T Hatta
Foto : Indrayadi T Hatta
Editor : ME. Bijo Dirajo