Metode Pemasaran Ala Ketut Sudianta, Petani Jeruk Kintamani.

Ketut Sudiantara bersama istri dan kedua anaknya
DENPASAR—Petani jeruk Kintamani mempunyai cara jitu untuk membuat jeruk yang ditanamnya segera laku habis terjual tanpa menunggu pembeli/tengkulak datang ke kebunnya. Cara yang mereka gunakan mengadaptasi sistem canvasing yang dilakukan para distributor makanan atau minuman kemasan. 
Ketut Sudianta, salah satu petani jeruk Kintamani yang menerapkan sistem pemasaran tersebut. ditemui Cendana News bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil di Pasar Agung Peninjoan Denpasar Utara. Ia menjelaskan bahwa cara ini sangat efektik untuk meningkatkan penjualan hasil kebunnya. 
Secara bergantian suami istri ini menjajakan jeruk ke pasar dan sekitarnya, dengan demikian mereka pun masih bisa menjaga anaknya sekaligus terus berdagang. 
Jika di pasar modern sering didapati SPG (Sales Promotion Girl) yang membawa “tester” parfum yang dijajakannya, demikian juga yang dilakukan oleh suami istri yang sangat kompak ini. Mereka hanya akan membawa beberapa jeruk untuk dicicipi, selanjutnya, jika calon pembeli sudah mencicipi jeruk yang ditawarkannya, mereka akan mendatangi “counter” mereka yang berbentuk mobil bak terbuka di halaman pasar. 
“petani juga harus mengerti ilmu pemasaran agar bisa menjual hasil kebunnya secara langsung dan bisa mengukur keuntungan yang kita mau capai, kalau melalui tengkulak, mereka akan membeli murah nanti di pasaran mereka jual dengan harga seenak dia” jelas Ketut.
Jeruk Kintamani milik Ketut dalam keranjang kecil, sedang dan besar
Menurut Ketut, harga yang Ia berikan juga tidak terlalu tinggi, Ia menjual dengan tiga pilihan harga sesuai dengan ukuran keranjang. Jeruk dalam keranjang kecil dijual 300 ribu, keranjang sedang 350.000 dan keranjang besar 450 ribu. 
Untuk membidik pembeli perorangan, Ia juga menjual jeruknya secara eceran dengan harga jual yang variatif tanpa mau menyebutkan kisaran harga jual eceran yang Ia maksud.
Metode pemasaran yang dipilih Ketut bersama istri ternyata memang memberikan hasil yang memuaskan. Sebelum sore, jeruk dagangannya sudah laku terjual, hal ini bisa terjadi hampir setiap harinya. 
Menurut Ketut, Ia bukanlah yang pertama melakukan metode ini, sudah banyak sebelumnya yang melakukannya tetapi menurutnya perbedaan antara mereka dan dirinya adalah, Ia memiliki kesabaran dalam melayani pembeli baik pedagang pasar maupun perorangan. Walaupun seringkali mereka hanya mencicipi jeruknya tanpa membeli, Ketut tak pernah berniat berhenti menggunakan cara ini.
Mengakhiri percakapan dengan Cendana News, Ia memberikan nasehat “tidak hanya dalam bertani yang butuh kesabaran, menjual pun butuh kesabaran. Rintangan pasti ada, tetapi kalau mau sabar dan kerja keras, pasti ada hasilnya” 

SABTU, 1 Juli 2015
Jurnalis : Miechell Kuagouw
Foto : Miechell Kuagouw
Editor : Gani Khair
Lihat juga...