Guru ini Tinggalkan Kenyamanan Demi Mengabdi di Pulau Terpencil

LAMPUNG — Sebuku merupakan sebuah pulau besar dengan penduduk puluhan kepala keluarga dan tersebar di beberapa wilayah yang lebih kecil dari dusun. Secara administratif warga yang menetap di Pulau ini menjadi bagian dari wilayah Desa Tejang Pulau Sebesi, sebuah desa di wilayah Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan.

Pulau berpenduduk ini merupakan salah satu pulau di gugusan Kepulauan Krakatau dan berdekatan dengan Pulau Sebesi yang jumlah penduduknya lebih banyak. Meskipun relatif dekat dengan Pulau Sumatera dan dekat dengan ibukota Kecamatan dan ibukota Kabupaten, kesederhanaan masih terlihat di pulau yang masih hijau dan memiliki warga yang sebagian merupakan suku Bugis, Suku Banten dan Suku Jawa.

Pulau yang masih belum tersentuh utuhnya pembangunan di usia NKRI yang ke-70 ini dari pantauan Cendana News bahkan tak mengenal jalan aspal, listrik PLN serta nikmatnya pembangunan yang ada di daratan Pulau Sumatera. Menjejakkan kaki di pulau ini Cendana News mendapat sambutan hangat dari warga yang sebagian besar merupakan petani, pekebun dan nelayan. Beberapa bahkan terlihat dengan ramah menyapa meskipun sedang sibuk menjemur teri serta asik memancing di teluk yang teduh. Dermaga permanen yang masih baru terlihat cukup bagus disandari kapal kapal nelayan meskipun belum bisa disandari kapal kapal berukuran besar.
Sebuah masjid, sebuah sekolah tingkat sekolah dasar, sebuah bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menyatu dengan pemukiman penduduk yang menggunakan papan kayu, geribik serta beratapkan asbes dan beberapa daun nipah. Rumah rumah teratur berjajar dengan jalanan dari paving blok yang tersusun rapi menjadikan dusun yang diberi nama dusun Teluk Bangkai ini terlihat rapi dan ramah menyambut siapapun yang datang.
“Beginilah kondisi di dusun ini, tetap sederhana dan masyarakatnya pun pasti akan senang menyambut jika ada warga yang berkunjung di sini, ada sekolah tapi hanya sampai tingkat Sekolah Dasar dan ini sementara cukup,”ungkap kepala Dusun Teluk Bangkai Karim kepada Cendana News pada peringatan HUT NKRI (17/8/2015) kemarin.
Karim mengungkapkan ada sekitar 306 warga yang menetap di Pulau Sebuku dan tersebar di wilayah wilayah pulau yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki maupun menggunakan perahu lewat jalur laut. Sebagai salah satu wilayah pulau yang bergabung dengan desa Tejang Pulau Sebesi di Pulau Sebesi perbedaan terlihat jelas di Pulau ini, jika di Pulau Sebesi penduduknya lebih banyak dan bangunan sekolah dari SD hingga SMA ada, namun di pulau ini hanya ada bangunan PAUD dan SD.
Cendana News sempat kesulitan menemui kepala sekolah SDN Pulau Sebuku karena saat peringatan HUT NKRI sekolah tersebut diliburkan, namun pada malam hari, baru bisa bertemu dengan Suhaimi, selaku sang kepala sekolah satu satunya SD di Pulau Sebuku. Mengenakan sarung dan berkemeja, Suhaimi duduk bersama Cendana News di sebuah gardu beratapkan daun nipah. Kesederhanaan terlihat dari guru ini berbeda dengan guru guru yang ada di daratan.
“Saya sudah lama menjadi guru di Pulau Sumatera tapi pemerintah akhirnya mempercayakan untuk memimpin sekolah di Pulau Sebuku dengan kondisi seperti yang mas lihat sekarang ini,”ungkap Suhaimi.
Ia mengungkapkan sudah menjadi guru sejak tahun 1986 dan diangkat menjadi Pegawai negeri Sipil dan pernah mengajar di SDN Sukajadi Kalianda, SDN 2 Way Muli yang berada di daratan Pulau Sumatera. Sebagai guru agama ia mengabdikan dirinya bagi anak anak usia sekolah dasar. Hingga akhirnya ia ditawari untuk mengabdi di salah satu pulau yang ada di wilayah Lampung yakni Pulau Sebuku. Awalanya ia ragu mengemban tugas tersebut apalagi saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau tersebut kondisi sekolah yang ada hanya papan dan jauh dari kondisi saat ini yang lebih bagus dengan bangunan permanen serta lebih nyaman untuk kegiatan belajar mengajar.
Suhamimi mengisahkan ia ditempatkan di sekolah tersebut sebagai penjabat sementara sambil menunggu pembangunan lokal sekolah yang baru. Hingga akhirnya pada tahun 2012 sekolah tersebut diresmikan dirinya secara definitif diangkat menjadi kepala sekolah.
Sebagai sarjana pendidikan Agama Islam, ia menganggap tugas mengabdi di Pulau Sebuku sebagai amanah yang harus ia tanggung meski ia mengakui lebih nyaman mengajar di daratan atau Pulau Sumatera. Meski memiliki rumah dan keluarga di Kecamatan Rajabasa namun sebagai kepala sekolah ia harus menetap di pulau.
“Saya menetap di sini bersama isteri dan mendidik anak anak di pulau ini agar bisa mengenyam pendidikan dasar dan bisa mendapatkan hak juga dengan anak anak di daratan,”ungkap Suhaimi.
Lokal sekolah yang terlihat masih baru merupakan dua lokal, lokal pertama sebagai ruang belajar serta ruang kedua sebagai rumah bagi paar guru. Minimnya siswa di sekolah tersebut membuat sistem belajar mengajar menggunakan sistem pengajaran pararel. Belum adanya jenjang sekolah yang lebih tinggi membuat siswa sebagian hanya menyelesaikan pendidikan hingga tingkat Sekolah Dasar dan tak melanjutkan, sementara yang melanjutkan pun terbilang masih bisa dihitung dengan jari.
Suhaimi mengungkapkan jumlah siswa di SDN Pulau Sebuku saat ini berjumlah sekitar 30 siswa terdiri dari 1 siswa kelas 1, 7 orang siswa kelas 2, 4 orang siswa kelas 3, 4 orang siswa kelas 4, 5 orang siswa kelas 5, 6 orang siswa kelas 6. Jumlah yang sangat jauh berbeda dengan jumlah siswa di daratan Sumatera. 
Sebanyak 7 guru termasuk kepala sekolah mengabdi di sekolah terpencil tersebut diantaranya 3 PNS termasuk kepala sekolah dan 4 orang guru honorer.  Guru guru dan penjaga sekolah  yang mengabdi di SDN Pulau Sebuku diantaranya Suhaimi Spdi, Kamah SPd, Selamah Spd, Eka Cipta Melinda Spdi, Hamna H, Gita Lestari, Nurul Afni Izal Alparizi
Minimnya murid di sekolah tersebut membuat ruangan kelas yang terdiri dari 3 ruangan disekat menjadi 6 kelas dengan papan triplek seadanya. Sayang saat Cendananews berada di pulau tersebut kegiatan belajar mengajar sedang tak berlangsung. Siswa siswa justru terlihat sedang sibuk mengikuti perlombaan lari kelereng, lari sarung serta memasukkan paku dalam botol untuk memeriahkan HUT NKRI ke-70.
Sebagai guru di pulau terpencil, Suhaimi mengungkapkan mengakui saat ini ia hanya ingin mengabdi di sekolah tersebut. Bahkan saat ia mengakui minimnya fasilitas bagi dirinya sebagai guru di pulau terpencil ia tak mengeluhkan kondisi tersebut. Jika kegiatan belajar mengajar usai ia mengaku menyibukkan dirinya dengan mencari ikan di perairan wilayah tersebut untuk lauk pauk baginya dan sang isteri, sementara anak anak yang sudah besar bersekolah di Pulau Sumatera dan tinggal bersama sang nenek.
Ia mengaku sangat membutuhkan sarana kapal motor untuk memudahkan aktifitasnya saat harus bertugas di daratan sebab selama ini ia menuju dermaga Canti di Pulau Sumatera menggunakan “ojek perahu” milik warga setempat. Ojek perahu tersebut diperlukan saat ia harus menghadiri rapat atau menyelesaikan administrasi murid muridnya di kantor dinas pendidikan Kabupaten Lampung Selatan.
Sebagai guru di tempat terpencil ia mengetahui beberapa guru di pulau terpencil di wilayah Kabupaten di Lampung Selatan pun memperoleh bantuan kapal motor, namun hingga saat ini dirinya pun jutru belum memperoleh. Sementara hak sebagai pendidik di pulau terpencil Suhaimi mengaku sudah mendapatkan insentif dari pemerintah daerah setempat berupa tunjangan khusus, namun dari pemerintah pusat karena beberapa alasan ia mengaku insentif untuk guru terpencil belum bisa diperolehnya karena ketatnya persyaratan.
“Bersyukur saja masih diberi kesehatan dan bisa mengabdi di pulau ini, kalau mau nyaman ya di daratan karena mas tahu jabatan kepala sekolah pasti lebih mentereng di daratan tapi kalau di pulau ya benar benar murni pengabdian,”ungkapnya.
Mengajar dan bertanggungjawab bagi puluhan siswa di sekolah dasar daerah terpencil, Suhaimi mengaku menjadi sebuah tanggungjawab moral yang diembannya, sebab ia akui tak banyak orang yang mau ditempatkan di pulau terpencil. Menjadi guru di tempat terpencil bahkan dianggap sebagai sebuah tantangan apalagi di pulau yang berdekatan dengan Samudera Hindia dan saat saat tertentu gelombang pasang serta cuaca buruk melanda sehingga ia tak bisa menuju daratan Sumatera jika memiliki keperluan.
Keterbatasan ruang pendidikan, keterbatasan akan sarana penerangan listrik yang hanya dipasok menggunakan tenaga diesel selama 6 jam dari pukul 18:00 WIB hingga pukul 24:00 WIB masih menjadi kendala yang harus dihadapi di salah satu pulau terpencil di Lampung tersebut. Suhaimi mengaku masih akan terus mengabdi bagi murid muridnya hingga siswa siswa didikannya bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia berharap ke depan akan ada juga bangunan untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) meskipun dengan sistem satu atap. Kesederhanaan dan minimnya infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah dalam berbagai bidang bagi pemerintah daerah setempat di pulau terpencil tersebut. Selain itu warga pun masih belum mendapatkan sarana yang memadai yang warga lain peroleh di daratan.


SABTU, 22 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...