YOGYAKARTA —– Meski Candi Sambisari tak sebesar Candi Borobudur dan Prambanan, namun tingkat kunjungan ke Candi Hindu abad 9 Masehi ini tidak kalah banyak. Bangunan yang juga dikenal dengan sebutan candi bawah tanah ini tidak akan terlihat dari kejauhan, karena posisinya berada 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Namun jika sudah dekat, akan terlihat keelokannya. Terutama di malam hari, karena Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Yogyakarta melengkapinya dengan lampu sorot hasil teknologi Jerman.
Candi Sambisari berada di desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Sekitar 10 kilometer dari Candi Prambanan yang sudah tersohor di dunia. Candi Sambisari terletak di kedalaman 6,5 meter di bawah permukaan tanah, karena dalam sejarahnya candi itu terkubur material vulkanik Gunung Merapi yang meletus pada tahun 1000 Masehi. Candi tersebut ditemukan kembali pada tahun 1966.
Waktu itu, seorang petani yang sedang bekerja sawah secara tidak sengaja cangkulnya terantuk batu yang berukir. Setelah diteliti lebih jauh, batu tersebut ternyata merupakan bagian dari gugusan candi yang terpendam 6,5 meter di bawah tanah. Badan Pelestarian Cagar Budaya yang waktu itu masih bernama Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional, pun lalu segera melakukan pemugaran.
Tahun 1986, pemugaran tahap pertama yang melibatkan sejumlah mahasiswa jurusan Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta selesai dilakukan. Lalu pada kurun waktu 1975-1977, candi induk dan tiga candi perwara di Komplek Candi Sambisari berhasil direkontruksi. Sebelumnya, candi induk dan ketiga candi perwara tersebut ditemukan dalam keadaan runtuh. Kecuali pada bagian kaki, sebagian langkan dan sebagian tubuh candi induk saja yang masih utuh dan asli.
Candi induk atau candi utama Candi Sambisari, menghadap ke arah barat. Di dalamnya terdapat lingga yoni berukuran besar. Bahkan, besarnya hampir memenuhi seisi ruangan candi induk tersebut. Sementara di sekeliling dinding candi atau tubuh candi bagian luar, terdapat relung-relung berisi pahatan tiga arca. Pada relung sisi utara ada Arca Durga Mahisasuramardhini, relung di isi timur Arca Ganesha dan relung sisi selatan ada Arca Agastya. Sedangkan Arca Mahakala dan Nandiswara berada di depan pintu masuk candi, namun kedua arca berharga itu hilang dicuri orang pada tahun 1971.
Candi Sambisari sampai kini belum sepenuhnya berhasil dipugar. Terutama pada ketiga candi perwaranya. Kendati demikian, Candi Sambisari telah begitu tampak indah dan luas. Komplek candi dikelilingi dua lapis pagar keliling. Bagian luar pagar berupa batu berketinggian dua meter, dan pagar halaman bagian dalam juga berketinggian dua meter. Tak ada gapura di kedua pintu masuk pagar lapis tersebut. Namun, sejumlah arca yang menegaskan candi tersebut sebagai candi berlatar Hindhu Syiwa membuat Candi Sambisari tampak sangat berwibawa.
Kian Elok dengan Lampu Warna-Warni
Selain berada di bawah permukaan tanah, keunikan Candi Sambisari juga terdapat pada bagian candi utama. Di kawasan candi utamanya itu pernah ditemukan batu-batu pipih seperti umpak di sepanjang selasarnya. Pada salah satu umpak itu pernah ditemukan prasasti yang terbuat dari emas bertuliskan, ‘Om Siwasthana’. Artinya, Hormat Rumah Syiwa. Kecuali itu, di halaman candi juga ditemukan arca perunggu Sang Budha Vajrapani yang merupakan tokoh Bodhisatva. Juga ditemukan sejumlah cawan dan talam perunggu serta sejumlah gerabah.
Dengan berbagai temuan gerabah dan guci, para peneliti memperkirakan Candi Sambisari merupakan sebuah pemukiman zaman Mataram Hindhu Kuno. Prasasti yang bertuliskan Hormat Rumah Syiwa, juga mengindentifikasikan candi tersebut merupakan tempat pemujaan Dewa Syiwa. Sejumlah prasasti lainnya menyebutkan Candi Sambisari dibangun oleh Rakai Garung dari Dinasti Syailendra abad 9 Masehi.
Meski tergolong candi kecil, Candi Sambisari relatif banyak pengunjungnya. Terlebih saat sekarang, ketika Candi Sambisari bisa dinikmati malam hari. Pasalnya, sejak sepekan ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Yogyakarta, telah memasang lampu sorot untuk menerangi komplek Candi Sambisari. Lampu sorot berteknologi Jerman dan dikerjakan oleh teknisi Tiongkok itu semakin memancarkan aura kemegahan candi tersebut.
Ayu Laksmidewi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, mengatakan, lampu sorot itu sengaja dipasang untuk meningkatkan jumlah wisatawan. Obyek Wisata Candi selama ini cukup banyak menyedot animo pengunjung.
Ia menguraikan, berdasarkan catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan di Sleman pada tahun 2014 ada sebanyak 4.132.934 pengunjung, dengan rincian 3.820.375 wisatawan lokal dan 312.358 wisatawan manca negara. Dari jumlah itu, sebanyak 1.763.762 wisawatan atau 42,67 persen berwisata ke candi.
“Khusus ke Candi Sambisari, kunjungan ada sekitar 1.000 orang per bulan”, cetusnya.
Pemasangan lampu sorot, lanjut Ayu, rencananya juga akan dipasang di sejumlah candi-candi kecil lainnya yang ada di Kabupaten Sleman. Antara lain, Candi Sari, Candi Gebang, Candi Kalasan, Candi Banyunibo dan Candi Ijo. Lampu sorot berkekuatan 60 watt itu masa pakai atau usianya bisa mencapai 10 tahun lebih.
Lampu-lampu tersebut juga bisa diatur warnanya, sehingga akan menambah keelokan candi. Sementara itu, pemasangan lampu sorot tersebut menghabiskan dana sekitar Rp 190 Juta, yang diambilkan dari APBD Sleman. Diharapkan dengan pengadaan lampu sorot itu jumlah pengunjung akan semakin meningkat.
MINGGU, 16 Agustus 2015
Jurnalis : Koko Triarko
Foto : Koko Triarko
Editor : ME. Bijo Dirajo