YOGYAKARTA — Berada di Tanah Suci Mekkah bersama-sama jutaan calon haji, menjadi kesulitan tersendiri bagi jemaah ketika hendak mencari anggota rombongannya yang terpisah. Agar mudah, Calon Haji dari Kabupaten Sleman, Yogyakarta sengaja mengenakan seragam batik khas Sleman yang berbeda dari daerah lain.
Jemaah calon haji dari mana pun asalnya, dimungkinkan bisa menghadapi kendala terpisahnya anggota rombongan di tanah suci atau di tempat transit. Belajar dari pengalaman itu, rombongan calon haji dari Kabupaten Sleman, Yogyakarta tahun ini mengenakan seragam khas berupa baju batik motif parijotho, yang merupakan motif batik khas dari kabupaten tersebut.
Silvie Rosetti, Kasi PHU Kemenag Kabupaten Sleman mengatakan, motif sinom parijotho merupakan motif batik khas Sleman yang mengangkat potesi lokal seperti tanaman parijotho atau padi khas Sleman, buah salak dan sebagainya. Seragam batik khas Sleman itu, jelasnya, baru mulai dikenakan pada musim haji tahun 2015 ini untuk memudahkan identifikasi anggota rombongan jika terjadi sesuatu di tanah suci.
“Sebelum ini, kami masih mengenakan seragam yang sama dengan seragam calon haji dari daerah lain”, katanya.
Kendati seragam calon haji dari Sleman dibuat berbeda, namun secara umum seragam tersebut menyerupai seragam calon haji pada umumnya yang berwarna hijau dan putih. Pemberian seragam batik dengan motif khas Sleman itu, juga dilakukan untuk lebih mengenalkan motif batik khas lokal, sehingga diharapkan juga bisa meningatkan kehidupan perajin batik asal Sleman, Yogyakarta.
Hal lain yang unik dari musim haji tahun ini, tak hanya keberadaan seragam batik khas Sleman. Namun juga adanya sajadah yang khas pula dari Sleman, yaitu sajadah mendong. Sajadah yang dibuat oleh para pengrajin lokal dari daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta tersebut, dibuat dari bahan alami rumput mendhong yang diklaim lebih nyaman digunakan di daerah panas.
Selama ini, ujar Selvie, jemaah calon haji selalu menggunakan tikar plastik buatan China yang tidak sesuai dengan iklim di tanah suci. Berbeda dengan sajadah mendhong yang bisa lebih menyesuaikan dengan iklim di tanah suci dan bahkan bisa meredam hawa panas. Selain demi peningkatan kenyamanan bagi calon haji, penggunaan sajadah mendhong yang diberikan secara gratis juga sebagai upaya menanamkan kecintaan terhadap produk dalam negeri.