Bagian FDR Black Box Belum Ditemukan, Basarnas Minta Maaf

JAYAPURA — Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI FHB Soelistyo meminta maaf kepada publlik atas pernyataannya pada Senin (18/08/2015), terkait Black Box yang telah ditemukan tim pencari unsur darat.
Sebelumnya, Basarnas menyatakan Black Box yang perekam data penerbangan (Flight Data Recorder/ FDR) dan juga perekam (CVR), berhasil ditemukan dengan waktu kurang lebih 48 jam sejak pesawat diketahui hilang kontak.
“Kotak hitam itu setelah saya sampai disana, saya cek itu hanya satu bagian dari Black Box, sekarang ini lagi dicari yang namanya Flight Data Recorder, yang tadi itu Voice Cokpit Recorder, ini saya baru tahu, karena kemarin itu kami tidak bisa berhubungan dengan anggota dilapangan, “ kata Bambang Soelistyo, Rabu (19/08/2015) petang kemarin.
Bambang Soelityo
Saat ini, lanjut Soelistyo, tim pencari terus melakukan satu bagian yang nama Flight Data Recorder (FDR). Menurutnyanya, kondisi Black Box dari kondisi fisik terlihat sedikit rusak, namun masih bisa dilihat isi voice-nya. 
 “Saya telah serahkan barang itu ke Ketua KNKT,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KNKT, Tatang Kurniadi mengatakan pihaknya akan membawa Black Box tersebut ke laboratorium di Jakarta dan akan mendownload isi dari modul memori VCR. Sehingga, pihaknya dapat merekam, dapat menyimpan suara-suara yang ada di dalam modul tersebut.
“Yang bagian FDR nya masih dicari malam ini. Tidak akan jauh letaknya dari bagian black box yang ditemukan ini,” kata Kurniadi saat menggelar jumpa pers di Base Ops Lanud Jayapura, Rabu (19/08/2015) malam.
Apakah dapat diketahui pasti soal kecelakaan pesawat tersebut, karena hanya CVR yang ditemukan? Dirinya mengklaim hal tersebut tidak jadi permasalahan. “Memang tidak menjadi satu masalah ya. Karena pesawat kecil pun kadang-kadang hanya dilengkapi CVR saja,” ujarnya.
“Dan ini merupakan pesawat buatan dari Prancis, apakah nanti ada perwakilan dari Prancis selaku negara yang terkait dengan pembuatan pesawat?”
Pihaknya akan memberitahukan kepada pihak terkait soal insiden yang terjadi, terutama Negara Perancis, karena lanjut Kurniadi, pesawat Trigana Air jenis ATR 42 tersebut dibuat dari Perancis.
“Yang mendesain pesawat itu adalah negara Prancis ya. Kemudian pembuat engine nya itu kan ada. Kita akan beritahu itu. Karna dia akan memeriksa apakah engine nya itu menjadi penyebab terjadinya kecelakaan dan termasuk pembuat ini juga. America bisa involved ya,” ujarnya.
Soal prosesnya, pihaknya klaim langkah mendownload dan membaca tak membutuhkan waktu yang lama. Proses yang lama yakni mengalisa hasil suara, data dan dikombinasikan dengan temuan-temuan dilapanga.
“Kalau misalnya terus di percepat, 2 minggu bisa selesai, yang lama menganalisa kemudian memadukan antara temuan di lapangan kemudian hasil suara juga hasil dari data2 yang ada. Kombinasi itu yang lama,” katanya.

KAMIS, 20 Agustus 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...