
CENDANANEWS (Catatan Sejarah) – Mangaan (Mn) merupakan salah satu unsur kimia yang bernomor atom 25. Secara umum dalam hal kecil Mangaan mudah di jumpai pada bagian dalam batu batery kering. Fungsi lain yang lebih rumit termasuk 12 mineral di kulit bumi yang menjadi bahan baku tidak tergantikan di industri baja. Pegunungan Menoreh salah satu pegunungan yang memiliki kandungan Mangaan cukup banyak. Baik di wilayah kabupaten Magelang ataupun di wilayah kabupaten Kulon Progo. Bekas tambang Mangaan di Kulon Progo yang pernah cukup masyhur berada di dusun Kliripan ,Desa Hargorejo Kecamatan Kokap.
Kliripan sebuah dusun yang terjal ,pernah memiliki industry tambang Mangaan yang cukup besar saat itu pada decade tahun 1950 an. Tahun 1953 ketika tambang Mangaan di Kliripan di buka pertama kali . Belanda kala itu tahu betul jika di Kliripan ini mengandung harta karun yang sangat berguna bagi Hindia Belanda. Ketika bangsa Indonesia belum bisa memanfaatkan potensi sumber daya alam ,Belanda sudah membawa Mangaan ke Eropa.
Penambangan di Kliripan pada awal Republik berdiri di lakukan dengan alat yang sangat sederhana. Bongkahan batu Mangaan di bawa mengunakan gerobak yang ditarik oleh sapi.Kliripan belum dan tidak mempunyai akses jalan yang memadai. Gerobak sapi tadi berjalan menyusuri sungai kecil. Dari dalam terowongan keranjang keranjang berisi mangaan dibawa di bawa oleh pekerja,di kumpulkan dalam gerobak sapi lalu di bawa ke Bakungan. Dimana saat itu bakungan terkenal dengan penghasil kelapanya.

Bakungan sendiri merupakan nama dusun yang di pergunakan untuk tempat menumpuk Mangaan sebelum di bawa keluar wilayah Yogyakarta. Lokasi berada di selatan palang pintu perlintasan kereta api atau lebih di kenal dengan pasar Cikli saat ini. Sedangkan dulu di sebut Bakungan. Lokasi ini dapat ditempuh sekitar 10 menit,dari kota Wates melalui depan Gedung Kesenian Wates kea rah barat.
Jaman semakin maju,dari tahun ke tahun tehnologi yang di pergunakan untuk menambang Mangaan juga mulai berubah. Penambangan Mangaan sendiri juga sudah beralih dari Belanda kepada seorang Warga keturunan Tionghowa yang tinggal di Jakarta bernama Holian. Saat di pegang oleh Holian ini Peralatan bantu dalam penambanggan juga sudah mulai berubah, dan warga sekitar memanggil Holian dengan panggilan tuan Holi. Pemasaran hasil tambang semdiri juga semakin luas sampai ke Surabaya dan Jakarta.
Pengusaha Jakarta ini sebenarnya mengintrak tanah di kliripan selama 20 tahun. Tercatat dari tahun 1970 hingga tahun 1990. Namun di tahun 1983 aktifitas tambang ini di hentikan karena banyak kerusakan . Rel sisa sisa pertambangan banyak di manfaatkan warga sekitar sebagai tiang sumur. Banyak juga besi rel rel tadi di jual kiloan , warga yang dulu bekerja sebagai tenaga tambang banyak yang sudah beralih menjadi buruh tani.
Saat tambang ini di pegang oleh Holian inilah Rel rel ini di pergunakan, mengantikan gerobak yang bertengakan manusia dan sapi.saat Belanda masih menguasai tambang. Rel rel ini di pergunakan untuk jalan nya Lori. Lori lori ini saat itu sudah mengunakan listrik, berjalan menelusuri terowongan. Saat sudah di ruang terbuka barulah tenaga manusia di pergunakan kembali untuk mengerakan lori lori tadi. Lori adalah seperti kereta kecil yang berjalan mengikuti rel terbuka tanpa atap ataupun dinding. Dari Kliripan tadi Mngaan di angkut menuju Bakungan, dari Bakungan tadi Mangaan di bawa ke Halte Pakualaman. Saat itu Halte Pakualaman adalah stasiun kecil yang berada di timur pasar bakungan atau pasar Cikli. Bangunanya sederhana tidak sebesar Stasiun Kedundang di sebelah barat .

Mangaan di bawa kesana untuk di tumpuk dahulu selam sekitar 1 minggu.sebelum di bawa ke Surabaya atau ke Jakarta menggunakan Kereta Uap yang berbahan bakar kayu. Satu kali berangkat kereta ini mampu membawa 10 sampai 15 gerbong. Satu gerbong untuk ukuran saat ini sama dengan 2 buah muatan truk setandar.
Para pekerja tambang hampir semua berasal dari warga sekitar yang turun temurun dari masa Belanda dahulu. Para mandor pun juga dari warga sekitar Kliripan , mandor inilah yang mengatur para pekerja tambang. Saat itu baik warga laki laki ataupun perempuan bekerja di tambang tersebut. Untuk para laki laki bekerja seperti pada bagian angut mengangkut,sedangkan para perempuan nya bekerja pada bagian pensortiran batu dan pengayaan . Walaupun semua bekerja ,tapi secara nilai upah mereka amatlah sedikit terlebih lagi masa masa itu kehidupan memang serba sulit.
Para pekerja yang bekerja di luar trowongan tambang seperti tukang angkut pada sekitar tahun 1971 di upah sekitar Rp 60 per hari, yang dibayarkan setiap 2 minggu sekali.Hasilnya memang sangat sedikit,namun itulah kenyataan kehidupan masa itu. Sedangkan para pekerja yang melakukan pekerjaan di dalam terowongan dan dengan resiko yang sangat tinggi di bayar Rp 120 perhari dan di bayar setiap harinya.
Tambang Mangaan di Kliripan menjadi sejarah warga sekitar Kliripan,aktifitas tambang kala itu masih meninggalakan bekas,lubang lubang sisa galian di bawah tanah masih tersisa,walaupun dari permukaan tanah tak tampak karena tertutup rimbunya semak belukar yang lebat. Namun sebenarnya
nun jauh di bawah permukaan tadi masih terisa terowongan yang saling tembus dengan terowongan lainya.
Kliripan pada saat di tambang dulu,daerahnya adalah berbentuk bukit bukit yang di atas nya tumbuh tanaman keras, seperti kelapa itu saja jumlahnya tidak banyak. Hanya lubang,rumah untuk menampung sementara Mangaan dan rumah sederhana sebagai kantor serta jalur rel untuk lori yang berkelok. Didalam tanah sendiri trowongan itu hanya berukuran tinggi 2,5m dan lebar 2m,di kanan kiri trowongan di pasang kayu penyangga.
Ada terowongan vertical yang sampai saat ini masih tersisa kedalamanya hamper 100m an,terdapat blower di sisinya . Saat dulu blower ini berfungsi sebagai alat pengirim oksigen. Gas asam arang merupakan masalah utama dalam pertambangan bawah tanah. Seperti aktifitas tambang umumnya. Di Kliripan ini juga pernah terjadi kecelakaan kerja . Menurut warga sekitar tahun 1952 ada pekerja tambang yang meninggal karena menghirup asam arang. Di tahun 1972 juga pernah ada pekerja yang meninggal karena badanya tertusuk besi yang yang jatuh dari atas terowongan,juga di tahun yang sama pernah juga terjadi longsor di dalam terowongan yang menimpa seorang pekerja hingga tewas.
Menurut warga sekitar setidaknya ada 3 lubang terowongan yang kini terutup lumpur dan longsoran tanah. Dan hanya 1 yang tersisa yaitu lubang Holian, dinamakan lubang Holian karena tuan Holian menyewa tanah yang dilokasinya terdapat terowongan tambang. Walaupun secara mutlak tanah yang di sewa Holian tadi adalah tanah milik warga.
Terowongan tambang Kliripan yang mashur itu kini pelan pelan tertutup tanah. Cerita tambang tambang Mangaan yang sempat Berjaya selama 30 tahunan di salah satu sudut kecamatan Kokap kini semakin kabur. Hanya sisa sisa cerita yang masih tersimpan rapi dalam kenangan mantan para pekerja. Usia renta adalah saksi bisu perjalanan hidup mereka. Dulu dengan berjalan kaki telanjang,mengunakan obor yang terbuat dari ‘blarak (daun kelapa) mereka menuruni bukit terjal,karena saat itu belum ada listrik, Listrik pun hanya untuk kepentingan tambang bukan untuk penerangan jalan . Pun demikian dengan sejarah tambang yang semakin kelam gelap tak tersisa, banyak generasi sekarang tak tahu bahwa di bawah tanah Kliripan pernah ada usaha manusia yang bernama tambang Mangaan.
———————————————————-
Minggu, 3 Mei 2015
Penulis : Muhammad Natsir
Editor : Sari Puspita Ayu
———————————————————