![]() |
| Salah satu tunel irigasi di Rawa Sragi |
CENDANANEWS(Lampung) – Ribuan hektar Sawah di Kecamatan Palas dan Kecamatan Sragi berada di kawasan Rawa Sragi yang kini disebut dengan eks Rawa Sragi, sebab kawasan Rawa tersebut kini sudah sepenuhnya berubah menjadi lahan pertanian. Areal Sawah di wilayah eks rawa Sragi memiliki luas 24.000 hektar yang berada di wilayah kabupaten Lampung Selatan. Areal sawah tersebut dibangun sejak tahun 1983. Namun hingga kini belum tersentuh perbaikan. Terutama jaringan irigasinya.
Bekas bekas kejayaan pertanian pada masa itu masih terlihat dengan kokohnya tanggul tanggul yang juga berfungsi sebagai jalan, saluran-saluran irigasi tersier yang masih kokoh berdiri meskipun beberapa bagian rusak dimakan usia.
Saluran irigasi tersier yang ada di Kecamatan Palas dan Sragi hingga saat ini masih terbengkalai tak maksimal. Padahal, jika irigasi yang dikenal dengan nama Rawa – Sragi itu berfungsi dapat mengairi sekitar 24.000 hektar areal persawahan diwilayah setempat melalui kanal kanal yang sudah dibangun pada zaman kepemimpinan Presiden Soeharto.
Saat media ini mengunjungi area persawahan tersebut salah seorang anggota DPRD Lampung Selatan yang juga warga Kecamatan Sragi Ahmad Muslim, S.E. Politisi Golkar yang menjabat Ketua Fraksi Golkar DPRD Lamsel itu mengungkapkan pembangunan saluran irigasi tersier Rawa Sragi dimaksudkan untuk meletakkan landasan pertanian pada era kepemimpinan Presiden Soeharto.
“Dulu kan ada namanya rencana pembangunan lima tahun atau Repelita, nah sektor pertanian menjadi sektor penting sehingga banyak rawa yang diubah menjadi sawah untuk swasembada pangan,” ujar Ahmad Muslim kepada media ini Kamis (7/5/2015)
Menurutnya kala itu Pelita III (1979/1980-1983/1984) yang memfokuskan pada program pembangunan pertanian untuk terwujudnya swasembada pangan dan sektor industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Salah satunya adalah pembangunan kawasan Rawa Sragi.
Hasil pertanian di kawasan Rawa Sragi menjadi penyumbang beras di wilayah Lampung Selatan dan menjadikan kawasan tersebut sebagai lumbung padi di Lampung Selatan. Kejayaan tersebut masih terlihat pada kokohnya tugu pak tani yang berdiri di atas saluran irigasi tersier yang membagi aliran Way Pisang ke beberapa saluran lain untuk pengairan di area Rawa Sragi baik di Kecamatan Palas maupun Kecamatan Sragi.


Kini, kondisi area persawahan di area Rawa Sragi masih sering mengalami kendala bahkan saat terjadi pergantian musim. Permasalahan lahan sawah eks rawa Sragi ada dua, yakni saat kemarau kekeringan dan saat musim penghujan banjir.
Karenanya, kata dia, pemerintah mengusulkan pembenahan jaringan irigasi dan pemanfaatan aliran sungai Way Sekampung. Ia prihatin melihat kondisi irigasi Rawa – Sragi yang tidak dimaksimalkan. Semakin hari semakin tahun, kondisi bangunan sudah jebol disana-sini.
Padahal saat program Repelita area tersebut memiliki sistem pengairan yang cukup bagus dan kini kondisinya memprihatinkan. Hal yang sangat mendesak diantaranya pembangunan infrastruktur sektor pertanian meliputi pembangunan sumur bor dan irigasi. Sebab, kebanyakan areal persawahan di Lamsel mengandalkan air hujan sebagai pengairannya.


Salah seorang warga Desa Blangah Kecamatan Sragi Muhamad Iksan (50) mengungkapkan pada tahun 1980-an Rawa Sragi merupakan kawasan pertanian andalan di Lampung Selatan. Ia bahkan mengungkapkan era pertanian zaman Presiden Soeharto tetap meninggalkan jejak yang tak ternilai dengan banyaknya irigasi, namun sepertinya perhatian selanjutnya semakin kurang.
Tak mengherankan meskipun ada saluran irigasi namun saat musim kemarau sawah yang dimilikinya sekitar 3 hektar mengalami kekerinagn dan terpaksa harus menggunakan mesin pompa untuk mengalirkan air dari Sungai Way Pisang.
“Saya selalu menggunakan pompa air karena saluran irigasi sebagian rusak dan belum diperbaiki sementara saat musim hujan biasanya sawah kami terendam,”ujar Muhamad Ihsan.
Ia berharap kejayaan eks Rawa Sragi tersebut tidak hanya menjadi kenangan dan bisa kembali dibangkitkan. Patung tugu pak tani yang ada di atas saluran air hanya menjadi saksi bisu kejayaan pembangunan pelita III yang menekanakan pembangunan sektor pertanian di mana eks Rawa Sragi menjadi salah stu daerah yang diandalkan.


Tugu Pak Tani yang dibangun pada masa Menteri Pekerjaan Umum Suyono Sosrodarsono dan dibangun pada Mei 1985 tersebut masih kokoh berdiri memegang padi dan cangkul simbol kejayaan pertanian di Rawa Sragi.
————————————————-
Kamis, 7 Mei 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo
————————————————-