Bapak ini Tekuni Kerajinan Wayang Suket dan Ukiran dalam Botol

Lukisan dalam botol

CENDANANEWS (Malang) – Malang selain dikenal sebagai kota Bunga, juga dikenal sebagai kota pengrajin karena berbagai jenis kerajinan dapat ditemui di Kota Ini. Selain kerajinan keramik, gerabah, rotan, tas dan topeng Malangan, ternyata di Malang juga terdapat pengrajin ukiran di dalam botol dan juga pembuat wayang Suket.
Samsul Subakri atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kardjo ini merupakan pengrajin ukiran dalam botol dan juga pembuat wayang Suket di Kota Malang. Terlahir dari keluarga yang kental dengan jiwa seni, Kardjo memiliki turunan darah seni dari kedua orang tuanya yang juga bergelut dalam dunia seni.
Sebelum menekuni usaha ini, dia terlebih dahulu bekerja sebagai penggiat pelestarian satwa. Karena dalam perkerjaan tersebut dirinya dituntut untuk sering melakukan aktivitas yang banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Dari situ Kardjo kemudian mencari suatu pekerjaan yang bisa membuat dirinya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, tetapi juga masih ada hubungannya dengan alam. Akhirnya pada tahun 2010 dia memulai usahanya ini, cerita Kardjo.

Kardjo menjelaskan, usahanya ini dimulai dengan mengolah limbah botol plastik yang dia bentuk menyerupai bunga dan bentuk-bentuk yang lain. Kemudian dia kembangkan dengan mengolah limbah kaca menjadi berbagai macam bentuk bangunan seperti menara dan juga candi. Setelah itu usahanya dikembangkan lagi dengan mengukir dan memotong botol kaca, yang bisa digunakan untuk vas bunga maupun tempat minum. 
“Bakat ini diperoleh dari belajar pada orang yang pernah ikut kursus mengukir dan memotong botol kaca,” jelasnya.
Saat usahanya dikembangkan dengan mengukir dan memotong botol, banyak orang yang mengkritik dirinya karena jika hanya mengukir dan memotong botol saja, sudah banyak orang yang melakukan itu. Dari situ Kardjo terus melakukan eksperimen, dan kemudian dia menghasilkan suatu karya yaitu sebuah ukiran yang dia ukir didalam botol. Jika dilihat sekilas, botol ini nampak polos tidak terdapat ukiran. 
“Namun setelah dilihat lebih dekat di bawah sinar lampu, nampak sebuah ukiran wajah di dalam botol tersebut, itulah sensasi dari ukiran di dalam botol,” ujar Kardjo sambil tersenyum.
Kardjo membanderol untuk ukiran didalam botol dengan harga Rp. 750.000,-. Menurutnya, dia sengaja memasang harga yang cukup mahal untuk membatasi permintaan, karena baru dirinya yang bisa melakukan ukiran didalam botol.
Dari sisi budaya, Kardjo bisa membuat wayang suket (wayang rumput). Disebut wayang suket karena bahannya terbuat dari rumput jenis Mendong (Fimbristylis umbellaris). Rumput ini bersifat mudah patah tetapi tidak mudah putus. Ada 2 jenis wayang yang bisa di buat dari suket, yaitu wayang kulit dan wayang golek. Kardjo belajar membuat wayang suket dari seorang temannya, namun temannya tersebut hanya mengajarinya sampai pada bagian kepala saja, sedangkan untuk tubuhnya dia modifikasi sendiri. Dalam waktu 20 menit, biasanya anak-anak sudah bisa membuat wayang suket.
Kardjo mengaku menjual hasil karyanya tersebut hanya dirumah maupun di pameran-pameran. Bila ada masyarakat yang berminat dengan karyanya, bisa datang langsung ke rumahnya yang berada di Jalan MT Haryono Brawijaya 2/63 a Kota Malang. Banyak juga yang datang ketempatnya untuk belajar, terutama Mahasiswa. Untuk belajar di tempatnya, Kardjo sengaja memberikan tarif karena jika di gratiskan, apresiasi masyarakat akan menjadi berkurang.
Ketika Kardjo ditanya tentang spesialisnya sendiri sebenarnya apa?, Kardjo menjawab “Banyak orang yang menyebut saya tidak punya pendirian karena pekerjaan apa saja saya kerjakan, selama saya mencari nafkah tidak merugikan orang lain kenapa tidak saya kerjakan”, ujarnya.

Dalam keluarganya, semuanya memiliki darah seni termasuk istrinya Sulaihah yang juga bisa membuat sulaman. “Keempat anak saya juga memiliki darah seni meskipun berbeda-beda kesukaannya. Ada yang suka gambar, menari, melawak, dan ada juga yang suka musik,” tutur Kardjo.

———————————————
Selasa, 28 April 2015
Penulis : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor : ME.Bijo Dirajo
———————————————

Lihat juga...