![]() |
| Presiden Soeharto di Markas Besar PBB, New York (1992) |
CENDANANEWS (Politik Luar Negeri) – Beberapa hari lalu, Presiden Joko Widodo mencuatkan isu perlunya reformasi organisasi internasional PBB di hadapan undangan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Sejatinya reformasi PBB bukan isu baru. 23 tahun yang lalu, Presiden Soeharto telah menyuarakan perombakan keanggotaan dan status veto Dewan Keamanan (PBB).
![]() |
| KTT Gerakan Non Blok di Jakarta 1992 |
***
![]() |
| Bersama para kepala negara. |
Pidato Presiden Soeharto itu menyentak dunia internasional dan mengundang banyak apresiasi, baik yang diuntungkan maupun yang kenyamanan akan dominasi internasionalnya selama ini akan terusik.
Pertama, menegaskan bahwa tata dunia selama ini tidak adil dimana keputusan PBB hanya di dominasi oleh veto lima negara (RRT, Perancis, Rusia, Britania Raya, dan AS). Komposisi Dewan Keamanan tetap itu merupakan konstruksi warisan alam berfikir dan situasi PD II. Ketidakadilan relasi itu diusulkannya untuk dirombak dengan memperluas keanggotaan DK tetap. Tentu saja negara-negara besar yang di untungkan dengan komposisi DK tetap selama ini terancam eksistensinya. Dalam hal mana Presiden Soeharto menggunakan kemayoritasan GNB di PBB sebagai instrumen pendesak. Pidato tersebut bukan saja bermakna usulan, namun lebih merupakan gerakan yang didesakkan bersama-sama oleh negara-negara Non Blok yang jumlahnya mayoritas di PBB. Presiden Soeharto menekankan bahwa GNB mewakili 65% warga dunia dan oleh karena itu layak memiliki wakil yang proporsional di DK PBB.
***
Selamat Hari Asia-Afrika …

