| Menabung di Bank Sampah Malang [Foto: CND ] |
CENDANANEWS – Sampah sering kali menjadi masalah diseluruh kota yang ada di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Sampah merupakan salah satu penyebab terjadinya bencana banjir dan juga penyebabnya timbulnya beberapa penyakit. Hal ini dapat terjadi juga tidak terlepas dari perilaku masyarakat yang tidak peka akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sampah. Dari masalah-masalah itulah akhirnya di bentuk Bank Sampah. Bank Sampah yang pertama kali didirikan yaitu di daerah Bantul, kemudian diikuti oleh Surabaya dan Malang.
Rahmat yang merupakan Direktur Bank Sampah Malang (BSM) yang Cendana News temui di kantornya menjelaskan, bahwa pendirian Bank Sampah Malang (BSM) difasilitasi oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang (DKP) dan dibantu juga oleh CSR dari PLN.
Rahmat menceritakan pendirian BSM sendiri berawal dari DKP yang merasa memiliki masalah dengan sampah yang ada di Malang, karena sebelum tahun 2011 Kota Malang belum menerapkan pengelolaan sampah dengan metode 3 R (Reduce, Reuse, Recyle). Selain itu, permasalahan sampah juga disebabkan cara berfikir masyarakat yang menganggap bahwa sampah merupakan barang buangan yang sudah tidak dapat digunkan lagi dan kebiasaan masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan. Dari situ kemudian Rahmat ditugasi oleh Kepala Dinas untuk mencari inovasi bagaimana caranya agar sampah bisa memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat, ceritanya kepada Cendana News Kamis (19/3/2015).
Rahmat melanjutkan, dia bersama kader lingkungan melakukan survey lapang selama 3 bulan terkait dengan nilai ekonomi yang terdapat pada sampah. Terinspirasi ketika dia melihat beberapa pemulung yang ada di TPA, dia bertanya pada dirinya sendiri “kenapa pemulung ini mencari dan memilah-milah sampah?” akhirnya Rahmat sadar bahwa memang benar ternyata sampah juga memiliki nilai ekonomi. Dari situ dia mulai mencari tahu tentang Bank Sampah dari internet, kemudian Rahmat melakukan Study Banding ke Bank Sampah yang ada di Yogya dan di Surabaya dan menyampaikan hasilnya ke Kepala Dinas, terangnya.
Awal pembentukan BSM sempat ditentang oleh masyarakat karena masyarakat belum tau apa itu sebenarnya BSM. Mereka berpikir bahwa BSM sama dengan TPA yang dapat menimbulkan bau yang tidak sedap, sehingga kantor BSM yang awalnya berada di daerah Sawojajar didemo oleh masyarakat sekitar dan akhirnya kantor BSM pindah di Jl. S. Supriyadi No.3 Malang sampai sekarang.
Dari pengalaman tersebut kemudian BSM melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan menggandeng ibi-ibu PKK dan sekolah-sekolah di setiap Kelurahan dan Kecamatan yang ada di Malang. Dengan Motto “Pinjam uang nyicil sampah, beli sembako bayar sampah, bayar listrik dengan sampah”, akhirnya pada bulan Oktober 2011 animo masyarakat yang ingin bergabung dan menjadi nasabah BSM meningkat pesat, sehingga BSM cukup kewalahan dengan banyaknya masyarakat yang ingin bergabung, ujarnya.
Pada bulan November BSM mulai dilirik dan kemudian diresmikan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya pada tanggal 15 November 2011 dan terus berkembang sampai sekarang. Berkembangnya BSM menurut Rahmat karena BSM menerapkan sistem jemput bola dan membentuk kelompok-kelompok di RT RW. Pada 2014 BSM mendapatkan penghargaan dari APO dan berkesempatan mewakili Indonesia belajar pengelolaan sampah di Jepang bersama dengan 27 Negara se-Asia Pacific.
Untuk menjadi nasabah BSM cukup mudah yaitu hanya membutuhkan fotocopy KTP dan langsung datang kekantor BSM dengan membawa sampah untuk individu, sedangkan untuk kelompok harus memiliki kepengurusan mulai ketua, sekretaris, hingga bendahara dan juga harus memiliki minimal 20 orang anggota, jelasnya.
Untuk menabung sampah di BSM, masyarakat cukup datang membawa sampah yang sudah dipilah berapapun beratnya ke BSM, kemudian oleh pihak BSM sampah tersebut di timbang. Dari berat timbangan dan jenis sampah yang disetorkan yang menjadi dasar harga dari sampah tersebut. Setelah ditimbang kemudia nasabah bisa meminta langsung hasil pembayaran dari sampah tersebut (Cash) atau bisa juga ditabung terlebih dahulu selama 1 bulan kemudian baru bisa diambil. Harga sampah yang ditabung lebih tinggi dari harga sampah cash. Terdapat kurang lebih 70 jenis sampah yang bisa dijual dengan pengelompokan sampah plastik, sampah kertas, sampah logam, dan sampah botol atau kaca. Harga sampah berbeda-beda tergantung jenis sampah,urainya.
Sampah-sampah yang disetorkan oleh para nasabah sebagian langsung diolah sendiri oleh BSM dan ada juga yang dijual ke pabrik, pengepul, dan industri rumah tangga. Dari situ, omset yang diperoleh BSM tiap bulan sekitar Rp. 300.000.000,- per bulan. Nasabah BSM sendiri sekarang sudah mencapai 23.000 orang nasabah, jelasnya.
———————————————————-
Kamis, 19 Maret 2015
Jurnalis/Foto : Agus Nurchaliq
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-