Candi Jago Malang, Situs Sejarah Peninggalan Kerajaan Singasari

Candi Jago, Malang [Foto : CND – Agus Nurhaliq/3/15]

CENDANANEWS – Candi Jago adalah salah satu Candi yang berlokasi di Malang, tepatnya didusun Jago Desa Tumpang Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Suryadi (55) salah satu (JUPEL) juru  pelihara situs Candi Jago menjelaskan bahwa sebenarnya nama Candi Jago diambil dari bahasa Sansekerta yaitu “Jajaghu” yang artinya Keagungan dan kemudian oleh masyarakat disebut Candi Jago.
Suryadi yang juga akrab di sapa Ki Suryo ini menceritakan bahwa Candi Jago merupakan situs peninggalan Kerajaan Singasari yang di bangun pada tahun 1268 M sebagai pendermaan atau penghormatan kepada Raja Singasari ke-4 yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana yang wafat pada tahun yang sama, cerita Ki Suryo kepada Cendana News Sabtu (14/3/2015).
Candi Jago setelah runtuh dan terpendam, yang kemudian diperkirakan berhasil ditemukan kembali oleh Thomas Stamford Raffles pada saat kunjungannya ke Malang pada tahun 1815. Penemuan ini kemudian oleh Raffles di tuliskan pada bukunya yang berjudul “The History of Java”, terang Ki Suryo.
Candi Jago mulai dapat perhatian dari pemerintah sekitar pada awal tahun 1980-an. Untuk pengelolaan candi ini ditangani oleh (BPCB) Balai Pelestarian Cagar Budaya yang bekerjasama dengan pemerintah kabupaten Malang.
Menurut Suryadi yang juga merupakan Koordinator Wilayah Malang dari BPCB menjelaskan bahwa bangunan Candi Jago memiliki panjang 24 m, lebar 14 m dan tinggi 10,5 m dari yang awalnya memiliki ketinggian 17,5 m. Sejak ditemukan sampai sekarang, candi ini belum pernah di pugar, ujarnya.

Fasilitas yang disediakan di lokasi Candi Jago cukup terbatas yaitu pos penjaga, tempat parkir sepedah motor, toilet dan papan informasi. Keterbatasan fasilitas ini disebabkan lokasi candi yang berada di tengah-tengah pemukiman warga, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pelebaran area candi, ujarnya.

Suryadi menuturkan bahwa dari data yang ada, pengunjung Candi Jago terbilang cukup banyak. Untuk pengunjung dari wisatawan lokal tidak kurang dari 1000 orang yang mengunjungi candi ini per bulannya. Sedangkan pengunjung dari wisatawan asing kurang lebih 200 pengunjung  per bulan, bahkan bisa mencapai 400 orang pengunjung pada bulan Juli-Agustus.
Pada setiap bulannya, bekerja sama dengan masyarakat, di Candi Jago sering diadakan kegiatan yang berhubungan dengan seni, budaya, dan tradisi misalnya tari topeng, wayang topeng dan kegiatan seni yang lainnya. Kegiatan seperti  ini sudah sering kami lakukan mulai tanggal 2012, jelas Suryadi.

———————————————————-
Sabtu, 14 Maret 2015
Jurnalis : Agus Nurchaliq
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...