Wilayah yang minim aktivitas sipil cenderung lebih rentan terhadap pelanggaran kedaulatan dan aktivitas ilegal. Dengan membangun komunitas kerja jarak jauh yang legal, produktif, dan terintegrasi dengan masyarakat lokal, Indonesia memperkuat kehadirannya secara damai namun efektif.
Kehadiran profesional yang bekerja, meneliti, dan tinggal di Anambas menciptakan soft presence yang relevan dengan konteks geopolitik modern.
Infrastruktur pendukung konsep ini juga memiliki nilai strategis ganda. Konektivitas digital, sistem energi mandiri, dermaga kecil, serta fasilitas pemantauan lingkungan tidak hanya mendukung kehidupan nomad dan konservasi. Tetapi juga meningkatkan kemampuan negara dalam mengawasi wilayah laut secara sipil. Tanpa harus dilabeli sebagai infrastruktur pertahanan, fasilitas-fasilitas ini berfungsi sebagai “mata dan telinga” di perbatasan, mendukung deteksi dini terhadap aktivitas ilegal dan memperkuat tata kelola wilayah maritim.
Esensi Anambas Blue Frontier bukanlah menciptakan enclave eksklusif, melainkan menawarkan model pembangunan perbatasan yang adaptif terhadap perubahan global. Model ini menggabungkan kerja jarak jauh dari kesunyian alam, ekonomi bernilai tinggi dengan jejak ringan, konservasi berbasis komunitas, dan penguatan kedaulatan melalui kehadiran sipil.
Ia menuntut koordinasi lintas sektor—pemerintah pusat dan daerah, masyarakat lokal, pelaku usaha, serta komunitas global. Di situlah letak kekuatannya sebagai agenda strategis. Anambas Blue Frontier perlu didorong sebagai perhatian nasional.
Di tengah kompetisi geopolitik dan krisis lingkungan global, Indonesia membutuhkan contoh konkret bahwa pembangunan perbatasan tidak harus eksploitatif atau militeristik. Anambas menawarkan ruang uji yang ideal: cukup jauh dari tekanan massal, namun cukup strategis untuk menentukan arah masa depan maritim Indonesia.