Secara ekonomi, pendekatan ini membuka peluang yang realistis dan berkelanjutan. Alih-alih mengandalkan kunjungan singkat, Anambas Blue Frontier mendorong hunian jangka menengah hingga panjang oleh para profesional global dan nasional.
Setiap individu membawa nilai ekonomi tinggi: belanja lokal, jasa logistik, transportasi laut, serta kolaborasi riset dan pelatihan. Dengan skala terbatas dan tingkat hunian terkurasi, arus ekonomi menjadi stabil tanpa tekanan berlebihan pada lingkungan.
Model ini juga menciptakan lapangan kerja baru yang relevan—operator teknologi, pengelola konservasi, pemandu laut, hingga tenaga pendukung komunitas. Dapat menyerap tenaga kerja lokal secara berkelanjutan.
Nilai ekonomi tersebut dirancang untuk berjalan seiring dengan konservasi. Anambas berada di kawasan dengan keanekaragaman hayati laut yang signifikan, namun juga rawan terhadap praktik penangkapan ikan ilegal dan degradasi ekosistem.
Konsep Anambas Blue Frontier menempatkan konservasi sebagai bagian dari sistem hidup, bukan aktivitas tambahan. Kawasan hunian dirancang berdampingan dengan zona lindung laut mikro, dilengkapi pemantauan kualitas air, terumbu karang, dan lalu lintas laut.
Penghuni—termasuk para nomad—tidak hanya menjadi pengguna ruang, tetapi juga kontributor aktif melalui program citizen science, pendanaan konservasi, dan transfer pengetahuan. Dengan demikian, kehadiran manusia justru memperkuat kapasitas perlindungan ekosistem.
Anambas Blue Frontier memiliki arti penting bagi geopolitik Indonesia. Dalam dinamika Laut Cina Selatan, kedaulatan tidak hanya ditentukan oleh garis peta atau kekuatan militer. Tetapi juga oleh kehadiran sosial-ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.