Mengulik Karya Seni Rupa Suami-Istri dan Bapak-Anak di Ruang Dalam
BANTUL- Sebuah perhelatan pameran telah dibuka secara resmi oleh Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum, kurator dan pengajar seni di ISI Yogyakarta, pada 22 November 2025.
Pameran yang sangat menarik untuk disimak itu bertajuk “Mooi(e)Noreh” dikuratori oleh Dr. I Gede Arya Sucitra, M.A. Menghadirkan karya para seniman dari Bukit Menoreh.
Mereka adalah Agung Menoreh, Angga Sukma Permana, Ariswan Adhitama, Bernat Sumarlin, Juan Dali, L Surajiya, Nuriyah Widi Astuti, Vendi Anton, Wahid Rustoyo, Winarni.
Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025. Universitas Negeri Yogyakarta pameran dilakukan dua kali, yang pertama digelar secara virtual pada 11-17 November 2025 di sekretariat Komunitas Api Kata Bukit Menoreh, Plono, Samigaluh.
Sedangkan pameran kedua secara offline di Ruang Dalam Art House mulai 22-30 November 2025.
Para perupa yang memiliki latar belakang pendidikan seni berbeda, mulai dari SMSR, ISI, UNY, AKSERI, mengekspresikan pengalaman artistiknya.
Mereka memadukan narasi dari yang berbau lokal, tradisi hingga alam imajinasi,
Dari 10 seniman yang tampil ada 4 perupa yang terdiri Suami-Istri, Bapak dan Anak.
Agung Menoreh adalah Suami-Istri pemilik Omah Seni Laras. Sebuah ruang pamer alternatif yang berada di dekat objek wisata Kebun Teh, Nglinggo.
Sementara Surajiya dan Juan Dali adalah bapak dan anak pemilik Studio Gunung yang berada di dekat daerah objek wisata Bendung Kahyangan di Desa Pendoworejo.
Dalam pameran Mooi ini Agung Menoreh menampilkan lukisan yang berjudul Chana Lily.

Ia mengagumi keindahan bunga Chana Lily yang mekar dengan lembut di tengah suasana hening. Simbol keanggunan yang tumbuh dari kesederhanaan.
Nuriyah Widi Astuti memamerkan karya Loro Blonyo. Loro Blonyo yang dilukiskan adalah patung sepasang pengantin laki-laki dan perempuan.

Patung Loro Blonyo berdasarkan serat Centhini sudah ada sejak zaman Mataram Islam, saat Sultan Agung berkuasa tahun 1643-1645 menjadi simbol harapan baik pada pernikahan.
Sebuah peristiwa bersatunya dua orang yang berbeda menjadi satu kesatuan lebur budaya lebur jiwa.
Surajiya menampilkan karya berjudul “Une Rencontre”. Dalam bahasa Perancis berarti “Sebuah Pertemuan”.
“Dalam karya yang dipamerkan ini saya tidak bicara tentang isi (lukisan/puisi) melainkan sebuah cerita tentang sebuah pertemuan antara kata dan rupa yang bertemu menjadi satu kesatuan karya yang tampil di ruang publik (galeri).
Lukisan dan puisi dalam buku ini dipertemukan oleh penerbit Interlude, mereka hadir saling bertemu sapa dan berjalan bersama hingga menjadi satu kesatuan dalam karya,” papar Surajiya.
Lukisan Surajiya dan puisi dari karya Hamdy Salad, Aly D Musrifa, dan Agus Manaji, sebelumnya sudah saling ada, di waktu dan tempat yang berbeda.
Bukan puisi yang digambarkan dengan lukisan atau lukisan jadi inspirasi puisi, semua bisa berdiri sendiri. Juga bisa menjadi satu kesatuan.
Harapannya para penikmat seni dapat melihat, membaca dan membangun imajinasi maupun persepsi sesuai dengan pengalaman batin masing-masing.
Pemakaian bahasa Perancis mengingatkan salah satu karya yang dibuat pada 2011 di Paris, diharapkan judul itu menggelitik dan mampu membangkitkan rasa keingintahuan tentang bahasa (kata) yang luas maknanya.
Untuk karya Juan Dali, membawa Pesona Menoreh dalam karyanya. Dua buah lukisan yang bercerita tentang tempat di mana dia tinggal.

Sebuah kondisi lingkungan alam yang indah, tenang, damai, dan romantis, dengan pemandangan hamparan sawah, gunung, sungai,
beserta hasil bumi yang melimpah, yang patut disyukuri.
Lukisan berlokasi di depan Watumurah dan Puncak Moyeng, desa wisata Pendoworejo.
Juan Dali mengusung aura keindahan desanya ke ruang publik. Sebuah upaya mempromosikan tempat kelahirannya yang penuh dengan suasana yang indah dan damai di perbukitan. ***