Palestina Dua Negara, Al Aqso Dikelola Indonesia (?)
Oleh: Abdul Rohman Sukardi
Sudah satu abad lebih Palestina bergolak. Jika dimulai dari diselenggarakannya kongres Zionis pertama. Tanggal 29-31 Agustus 1897.
Tanah Palestina dijadikan ajang pertumpahan darah. Perebutan wilayah, tempat tinggal. Antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Arab Palestina.
Zionis Yahudi mengklaim Palestina sebagai tanah yang dijanjikan Tuhannya kepadanya. Kongres Zionis yang dipimpin Theodor Herzl, menyepakati langkah-langkah mendirikan negara Yahudi di Palestina.
Maka berdatanganlah para imigran Yahudi di wilayah Palestina. Mendirikan negara Israil di tanah orang-orang Palestina itu. Tanah yang dihuni warga Palestina sejak berabad-abad sebelumnya. Waktu itu Palestina berada dalam wilayah kekusaan Turki Utsmani.
Pada tahun 1918, Inggris merupakan negara pemenang Perang Dunia (PD) ke I. Turki Ustmani berada dalam aliansi negara-negara yang kalah. Palestina kemudian menjadi wilayah Inggris dengan status Mandatorat.
Kaum Zionis terus mendesak Inggris mewujudkan agendanya. Mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina. Inggris tampaknya ragu memenuhi keinginan itu.
Inggris menawarkan kaum Zionis itu tanah Argentina atau Kongo. Sebagai alternatif negara bagi orang-orang Yahudi. Zionis menolak. Tetap bersikukup wilayah Kanaan (Palestina) itu yang mereka pilih.
PD II orang-orang Yahudi di Eropa tertimpa penderitaan yang amat sangat. Oleh kekejaman Hitler. Holocaust.
Momentum itu memperbesar gelombang imigran Yahudi untuk menetap di tanah Palestina.
November 1947, PBB mengeluarkan resolusi 181. Isinya membagi Palestina menjadi dua negara. Israil dan Palestina. Warga Arab menolak.
Pembagian itu dirasa tidak adil. Secara luasan lahan maupun prosentase jumlah penduduk. Gelombang kekerasan muncul di tanah Palestina
Perkembangan berikutnya, tokoh-tokoh Yahudi dipimpin Ben Gurion mendeklarasikan berdirinya negara Israil. Tanggal 14 Mei 1948.
Tokoh-tokoh Yahudi juga menyetujui rencana Ben Gurion. Membersihkan warga etnis Arab Palestina.
Adalah peristiwa Nakba atau “malapetaka”. 800 ribu warga Palestina diusir dari kampung halamannya.
Ratusan ribu pengungsi itu tersebar di Gaza, Tepi Barat dan banyak negara.
Tanggal 22 September 1948, Palestina mendeklarasikan kemerdekaan. Negara baru ini dibantu Mesir dan Yordania melakukan perlawanan-perlawanan terhadap Israil.
Pada tahun 1967, Israil melakukan serangan mendadak ke Mesir. Serangan itu memicu perang selama enam hari.
Atas dukungan negara-negara barat, Israil menguasai Gaza. Juga Tepi Barat, Yerusalem dan Semenanjung Sinai.
600 ribu warga Arab Palestina terusir dari Tepi Barat dan Gaza. Dikenal dengan peristiwa “Naksa”.
Perlawanan rakyat Palestina terus membara. Perlawanan rakyat semesta itu dikenal dengan “intifada”. Salah satu tokoh legendanya adalah Yaser Arafat. Pada tahun 1995 tercipta kesepakatan antara Yaser Arafat dengan PM Israil Yitzhak Rabin. Dibrokeri oleh AS.
Kesepakatan itu Palestina memerintah di Tepi Barat dan Gaza. Sisanya wilayah Israil.
Kesepakatan itu merugikan Palestina. Namun gerakan Intifada mereda.
Banyak sayap-sayap perjuangan Palestina tidak puas dengan kesepakatan itu.
Ketegangan antara Palestina dan Israil terus berlangsung hingga saat ini.
AS dan negara-negara barat memberikan dukungan penuh kepada Israil. Baik finansial, persenjataan maupun diplomasi.
Rakyat Arab Palestina berada dalam posisi tertindas. Oleh Israil yang didukung negara-negara barat.
Problem kedua, selain konflik sepasial (rebutan wilayah), adalah kendali pengelolaan atas Al Aqso. Berupa kompleks seluas 144.000 meter persegi yang berada di kota lama Yerusalem Palestina.
Kompleks ini disucikan oleh ummat Islam, Yahudi dan Nasrani.
Selain sebagai tempat Mi’roj Nabi Muhammad Saw ke Sidratul Muntaha dan kiblat pertama Ummat Islam, Al Aqso merupakan destinasi ziarah bagi Ummat Islam.
Rasulullah menekankan pentingnya ummat Islam Ziarah ke tiga tempat suci itu. Masjidil Haram Mekah, Masjidil Nabawi Madinah dan Masjidil Aqso di Kota Lama, Yerusalem, Palestina.
Paket perjalanan umrah seharusnya menuju ke tiga lokasi ini.
Bagi Ummat Yahudi, Kompleks Aqso merupakan Bait Suci di masa lalu. Salah satu bangunan yang diyakini tersisa saat ini dikenal sebagai Tembok Ratapan. Salah satu dinding sisi barat kompleks Aqso.
Itulah kenapa ummat Yahudi juga hendak merebut pengelolaan Al Aqso dari ummat Muslim yang sudah berabad-abad lamanya mengelola.
Ummat Yahudi dinilai oleh Ummat Islam tidak layak (tidak memenuhi standar kesucian) beribadah di Al Aqso. Oleh karena itu hanya diperbolehkan beribadah di tembok ratapan. Sebagaimana selama ini telah berjalan.
Bagaimana solusi atas konflik Palestina-Israil?.
Pertama, harus diselesaikan konflik perebutan wilayah. Sebuah fakta bahwa orang-orang Yahudi merupakan pendatang. Sementara sebelumnya sudah berdiam diri warga Arab Palestina di tanah itu.
Klaim sebagai tanah yang diperjanjikan dan bersumber dari teks keagamaan tidak bisa dijadikan justifikasi untuk mengusir rakyat Palestina. Pengusiran penduduk asli dan genosida tidak dibenarkan dalam moral masyarakat modern.
Namun realitasnya orang-orang Yahudi telah terlanjur menetap sebagai pemukim baru dalam jumlah besar.
Solusinya adalah menjadikan wilayah tersebut dua negara dengan luasan yang sama.
Israil dan Palestina berdampingan sebagai dua negara bertetangga. Dengan luasan wilayah yang sama.
Kedua, memisah problem perebutan wilayah dengan masalah keagamaan. Ialah memisahkan konflik Israil-Palestina dari keterkaitannya dengan Al Aqso.
Caranya dengan menjadikan Yerusalem sebagai otorita internasional di bawah PBB. Bukan dalam pengelolaan Israil maupun Palestina.
Yerusalem dikelola otoritas khusus di bawah PBB yang berfungsi menjaga keamanan dan kenyamanan peziarah keagamaan. Dari semua negara.
Pengelolaan otoritas khusus itu dengan melibatkan negara-negara asal peziarah yang tidak memiliki residu konflik antara Palestina dan Israil. Atau negara-negara yang tidak memiliki keterkaitan konflik dengan negara-negara di sekitar Israil dan Palestina.
Indonesia sebagai mayoritas berpenduduk muslim berkepentingan menjaga kenyamanan dan keamanan warganya berziatrah ke Al Aqso. Negara seperti Indonesia seharusnya dilibatkan dalam pengelolaan otorita khusus atau Al Aqso itu.
ARS (rohmanfth@gmail.com), Jaksel, 11 November 2023