HM Soeharto : ‘Cipta, Rasa, Karsa’ Itulah Falsafah Hidup Saya

Presiden Soeharto dalam buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982, hal 229-237 menuliskan pengalaman hidupnya, mulai dari pegangan hidup, kebiasaan sehari-hari hingga filosofi hidup. Berikut Cendana News memuat kembali beberapa alinia dalam tulisan “Renungan di Tengah Keluarga”:

Baca Juga: Inilah Rutinitas Keseharian Presiden Soeharto

Presiden Soeharto: Ada orang yang bercerita lain daripada yang sebenarnya terjadi mengenai diri saya. Ada orang yang mengatakan, bahwa saya menunggu ‘bagaimana bisikan dukun’ sebelum saya mengambil keputusan mengenai masalah-masalah yang saya hadapi. Biarkan saja orang yang berpikir demikian itu akan kecewa.

Sebenarnya pegangan saya adalah ‘cipta, rasa, karsa’ Itulah falsafah hidup saya. Saya mempergunakan kelengkapan hidup kita yang diberikan Tuhan kepada kita, yakni panca indera kita, untuk mempertajam cipta, rasa, karsa itu.

Memang tanggapan kita masing-masing terhadap sesuatu hal berbeda-beda. Pendengaran kita bisa berbeda, penglihatan kita pun bisa berbeda pula. Sebab itu, dilihat secara taktik dan strategi perang, keterangan militer saja masih merupakan suatu yang mentah, keterangan tadi perlu diolah lagi menjadi keterangan intelijen. Keterangan intelijen inilah yang merupakan sesuatu yang sudah matang, yang sudah dipercaya, sudah bisa dipakai sebagai ukuran.

Begitupun mengenai apa-apa yang kita dengar, apa-apa yang kita lihat, apa-apa yang kita raba. Semua itu mesti kita kumpulkan sehingga merupakan bahan untuk diolah, dimasukkan dalam ‘komputer’ kita, dalam ‘cipta’ kita. Lalu endapkan itu semua, rasakan. Kalau kita sudah merasakannya cocok, kalau sudah ‘rasa’ mengatakan cocok, maka dengan sendirinya akan timbul ‘krentek’, niat. Maka setelah itu saya mengemukakan pilihan, dan saya mengambil keputusan.

Teorinya begitu, semua orang bisa. Tetapi sesungguhnya, latihannya adalah yang utama. Kalau kita menghadapi kesulitan, sebaiknya segala itu kita kembalikan kepada Tuhan. Kita kembalikan kepada-Nya untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Tentu saja dengan sembahyang adalah lebih baik. Tetapi yang penting adalah bahwa setiap saat, di mana pun kita sedang berada, kita harus ingat kepada-Nya, kepada Tuhan Maha Pencipta.

Dalam pada itu kita patut tetap menggunakan alat kelengkapan hidup kita yang diberikan Tuhan kepada kita. Kemudian kita menyaring semua keterangan dan pendapat-pendapat yang datang dari luar. Lantas kita tentukan beberapa alternatif sebelum mengambil keputusan. Kita pilih yang paling baik di antara alternatif-alternatif yang ada itu. Dengan begitu tidak berarti kita harus bersemedi, atau “ngobong menyan” dan sebagainya. Gunakan rasio kita. Pakai otak kita. Gunakan rasa kita. Gunakan panca indera kita. Kalau dalam perang kita masih mencari dukun, kita bisa. mati ditembak duluan. Tetapi memang dalam hal ini latihan diperlukan.

Lihat juga...